BLANTERWISDOM101

Saat Aku Ditanya (Kenapa BerPMII?)

25 April 2017

Suatu hari di kampus tercinta IAIN Metro. Cuaca sangat terik, panas dan menggerahkan. Aku duduk santai dipinggiran masjid. Menikmati wifi gratis yang tak sekencang 4G. Niatnya mau download film Kingdom of Heaven. Tapi apa daya, kecepatan 50an kb/s dari wifi tersebut membuatku jadi geram.

Ketemulah saat itu dengan temanku yang akademis. Sembari menunggu downloadan yang lelet, kami ngobrol ngalor-ngidul tak jelas, hanya mengisi waktu luang. Kebetulan kami sudah tak ada MK lagi.

“Dari tadi ngobrol gini, makin serak ini tenggorokan. Errhhmm.., errhhmm..,” temanku sedikit menyindir. Ini sudah biasa dilakukannya.

“Yo, iyo aku paham. Bentar, aku beli Es teh dulu.”

Setelah es datang, obrolan kami tambah lama. Mulai dari pembahasan kampus sampai urusan cewek. Tapi kemudian, temanku mulai bertanya tentang organisasi. Mungkin hendak menganalisis atau hanya sekedar survei. Hal yang tak biasanya ia tanyakan.

“Kamu ngapa kok bisa ikut PMII, nggak HMI, IPM atau KAMMI aja?”

Harus kujawab seperti apa, aku pun bingung, ada banyak sebab kenapa aku bisa ber-PMII, “Banyak alasannya”.

“Sebutin satu masa nggak bisa, sih,” ia penasaran, barangkali memang benar hendak survei saja.

Spontan kulontarkan jawaban untuknya, “Emmm.., karena PMII-lah yang keislamannya sesuai dengan tradisi di daerahku. Moderat dan nggak harus kaku.”

“NU gitu maksudnya?” ia mencoba memperjelas

Aku menggangguk, “Naah.., yo begitu". “Juga karena NU-lah ormas yang tertua di Indonesia. Jadi sudah terbukti kehebatannya dalam melawan perkembangan zaman,” tambahku.

Ia justru makin heran, “Looohh? Bukannya Muhammadiyah ya, yang lebih dulu, 1912. NU kan baru ada di tahun 1926.”

“Justru NU itu sudah ada sejak zaman Hindu.”

“Gimana, sih?” kulihat wajahnya, terlihat semakin bingung.

“Kan ada buktinya.”

“Apaan?”

“Yaa itu, dewa Wisnu. Namanya aja Wis Nu. WIS NU tho? Naah NU berarti sudah ada sejak zaman Hindu, hhahahaa.”

Tanpa ada respon jawaban lagi, temanku justru langsung menyruput habis es tehnya. Kemudian berkata, “Assalamualaikum”. Dan pergi meninggalkanku.

Kujawab salamnya, “Walaikumussalam,” lalu kutambahkan, “MAPABA nya masih semester ganjil nanti, Bro. Sabar dulu ya, hahahahaha.”

___
Metro, 25 April 2017
#SemuaAkanNUpadaWaktunya
#AkuNU bukan #AnuKU
#PMII
#HUMOR
Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir. Yang jelas, yang kamu lihat saat ini adalah Aku yang versi numpang di jasad bernama Ahmad Mustaqim."