Kebenaran Versiku, Versi Bersama, dan Versi Hakiki


Oleh: Ahmad Mustaqim, IAIN Metro

Artikel pendek ini terinspirasi dari tulisan Gus Dur: Islamku, Islam Anda, Islam kita. Dalam tulisannya, Gus Dur menjelaskan sejelasnya tentang pandangan keislaman. Pertama Islamku, adalah pandangan islam berdasarkan pengalaman yang dirasakan seseorang. Pengalaman yang jelas tak pernah sama antara satu dengan yang lainnya dalam memahami Islam.

Kemudian Islam Anda, adalah pandangan islam yang taklid, berdasarkan keyakinan (tradisi temurun) bukan dari pengalaman. Kadar kebenarannya ditentukan oleh banyaknya orang yang meyakini sebagai kebenaran. Terakhir Islam Kita, yakni pandangan yang berusaha melestarikan antara pengalaman berislam (Islamku) dengan keyakinan yang ada (Islam Anda) dan menyatukannya demi kemaslahatan bersama tanpa ada yang disalahkan.

Tak jauh dari maksud itu. Tiga versi kebenaran yang saya sebut diatas juga terkait pandangan tentang sesuatu yang dikatakan benar. Pertama, kebenaran versiku, adalah kebenaran yang dirasakan berdasarkan keyakinannya sendiri atau pengalaman yang tak pernah dirasakan orang lain. Maka tentunya setiap orang punya pandangan kebenaran tersendiri yang tak pernah sama.

Kebenaran versiku ini tak bisa seenaknya dipaksakan ke orang lain, sebab bisa terjadi perselisihan yang terkadang tak ada hentinya. Pemaksaan seperti ini biasanya terjadi pada orang-orang yang egoistis, tak mau menerima dan menghargai saran (omongan) apapun, maunya benar dan menang sendiri.

Kemudian kebenaran bersama, adalah kebenaran yang ada disebuah lembaga, organisasi, atau komunitas yang mencangkup orang banyak. Kebenaran ini terkait ideologi dan tradisi (tujuan) yang dirasakan dan dipercaya dari masing-masing kelompok. Setiap kelompok itu tentunya memiliki sejarah dalam proses pembentukannya. Dalam sejarahnya inilah setiap lembaga, organisasi, atau komunitas terbentuk karena ada perbedaan yang tak mau disatukan. Contoh besarnya: NU dan Muhammadiyah, mereka punya kebenaran bersama masing-masing yang tak bisa disamakan.

Terakhir kebenaran hakiki, tak usah sulit untuk mendefinisikannya. Kebenaran hakiki adalah kebenaran yang tak terbantahkan, kebenaran yang absolut, yang bersumber dari yang paling benar. Bukan tesis. Meski tesis terkadang benar secara ilmiah, tapi tesis tak bisa terhindar dari yang namanya antitesis. Kebenaran hakiki adalah kebenaran yang berasal dari Tuhan. Contohnya, kematian.

Dari ketiga versi tersebut hanya versi hakikilah yang tak bisa dibantah. Kebenaran versiku dan versi bersama masih bisa disalahkan oleh mereka yang berbeda cara pandangnya. Tapi hal yang berbahaya adalah menggunakan kebenaran versiku dalam lingkup kebenaran bersama secara paksa.

Misalnya begini, Anda hidup di lingkup lembaga, organisasi, atau komunitas yang memiliki patokan kebenaran bersama yang harus dipercaya dan dilaksanakan kebenarannya. Anda justru memaksakan kebenaran Anda sendiri (versiku) yang dirasa paling benar (egois) dalam menyikapi kebenaran yang sudah mentradisi (versi bersama) tanpa memedulikan anggota lainnya. Parahnya saling menyalahkan satu sama lain.

Disinilah perselisihan bisa terjadi, bahkan bisa terpecah-belah menjadi beberapa kelompok yang sebenarnya adalah satu kesatuan kelompok. Ada kelompok A yang maunya seperti ini, kelompok B yang maunya seperti itu dan seterusnya. Kalau sudah merasa benar sendiri, maka kebenaran bersama yang sudah mentradisi itu bisa hancur begitu saja. Korbannya siapa? Ya, semua individu kelompok tersebut. Terlalu berbahaya bukan?

0 Response to "Kebenaran Versiku, Versi Bersama, dan Versi Hakiki "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel