BLANTERWISDOM101

Catatan Maryani (Perubahan) #1

08 April 2017
Oleh: Ahmad Mustaqim
Mahasiswa PGMI IAIN Metro
*Terbit di www.pojoksamber.com 

Perubahan. Satu kata yang diharapkan banyak orang. Terutama bagi mereka yang memiliki kenangan kelam di masa lalu. Mengubah suatu keterpurukan yang pernah terjadi dan berharap kebaikan akan selalu menyertai. Setidaknya begitu. 

Tentu bukan hal yang mudah untuk melakukan satu kata tersebut. Banyak yang semangatnya berapi-api, tapi kemudian luntur di masa perjuangannya. Ada juga yang berniat selangit untuk melakukan suatu perubahan, tapi tak pernah ada pergerakan yang dilakukannya. Memang tak bisa disalahkan. Sebab setiap orang punya hak terhadap dirinya sendiri, terserah mau diapakan dirinya itu.

Seperti cerita yang ingin kutuliskan ini. Aku tak tahu, apakah ini akan berguna bagi orang lain yang membacanya? Aku hanya ingin menulisnya. Menyimpan sebuah kenangan yang sulit kulupakan. Tentang sebuah perubahan.

**

Senin, 9 Agustus 2010 adalah waktu yang penuh dengan emosi. Masa terakhirku menjadi seorang pelajar formal. Graduation Party, ya, tanda bahwa aku telah lulus. Kini aku menjadi seorang sarjana.

Namaku telah berubah. Bertambah tiga huruf konsonan yang sering dicari banyak orang, S, P dan D. Kini orang-orang mengenalku dengan nama Maryani, S.Pd. Sebuah nama asli pemberian orang tua yang bertambah gelar baru. Tiga huruf sederhana itu harus kucari dengan perjuangan yang tak sebentar. Lebih dari empat tahun.

Tapi kini aku mempertanyakannya, apa manfaat tiga huruf yang baru saja kudapatkan itu? Aku berkaca dari teman-teman yang juga mendapatkannya. Banyak dari mereka menjadi honorer pengajar di sekolah-sekolah kota ini, berharap kelak segera menjadi PNS.

Ada juga yang mengajar di lembaga bimbingan belajar. Dan banyak juga yang melanjutkan studi S2 ke kota lain, bahkan ke luar negeri. Lalu bagaimana dengan ku? Aku pun bingung. Pasca lulus aku sibuk dirumah membantu pekerjaan ibu, laundry pakaian.

Tak bisa aku seperti teman-teman yang lain. Mana mungkin aku bisa seperti mereka? IPK lulusku saja hanya 2,65. Bahkan untuk bersaing di kotaku saja pasti tersingkir. Beasiswa mana yang mau menerimanya? Maka keseharianku dalam melampiaskan sifat pedagogis pun hanya di isi dengan mengajari anak-anak tetangga baca tulis Quran, seikhlasnya.

Sering pertanyaan melanda, "Nggak melamar kerja? Sudah sarjana kok dirumah saja". Aku hanya tersenyum. Dan kujawab, "Belum ketemu pas nya". Padahal aku sudah mencoba melamar pekerjaan di dua perusahaan dan satu sekolah. Perusahaan menolaknya dan sekolah yang kulamar itu sampai saat ini tak ada kabar lagi.

"Sarjana pendidikan apa aku ini? Bisa apa aku dengan IPK minim itu? mencari pekerjaan di kota ini saja susah". Kalimat penyesalan itu selalu terpikir setiap saat. Ya, aku menyesal kala itu tak pernah kuliah dengan sebaik-baiknya.

Hingga suatu saat datanglah seseorang. Seorang yang tak pernah terpikirkan dalam ingatanku. Ia datang kerumah, malam hari, membawa satu bungkus makanan khas Bangka, Martabak. Dan membawa sesuatu yang lain, katanya spesial.

**

"Assalamualaikum," suara salam lelaki di depan pintu rumahku. Di rumah hanya ada aku dan ibu. Ayah masih mengerjakan lemburnya sebagai buruh di pabrik.

"Waalaikumussalam," kujawab salam itu sembari membukakan pintu. "Lho.., kamu kan?" 

"Hey.., Yani. Masih inget aku?" sapanya tanpa rasa ragu. Kini pikiranku berusaha mengingatnya.

"Doni?"

"Lah.., kok Doni."

Aku masih terdiam di depan pintu. Berusaha mengingatnya. Siapa dia?

"Temen SD kamu yang dulu cuma satu semester di kelas V. Terus pindah, " ia memberiku klu.

"MasyaAllah, Bayu, aku bener-bener lupa ini, hhe.. Berapa tahun kita nggak ketemu ya?"

"Lebih dari sepuluh tahun." jawabnya bahagia setelah aku teringat.

"Tamu istimewa, nih. Yuk, masuk dulu, Bay. Aku kenalin sama ibu. Teman paling nakal yang buat aku nangis tiap hari semasa SD, hha.."

Bayu, teman SD yang hanya satu semester bersamaku, di kelas V. Saat itu ia sebangku denganku. Selalu mengambil pensil, penghapus, penggaris yang kupunya. Bahkan sering meminta paksa uang jajan harianku. Aku sering menangis dibuatnya.

Ia anak pindahan dari SD tetangga. Karena suatu masalah ia harus pindah ke SD ku. Dan baru satu semester ia bertahan, akhirnya harus keluar. Keluar karena aku. 

Bayu anak yang nakal kala itu. Aku kesal dibuatnya menangis tiap hari. Tak tahan, kulaporkan saja ia pada guru kelas. Dan ia pun dikeluarkan. Nakalnya Bayu sudah tanpa batas. Sebenarnya bukan aku saja korban darinya. Hampir semua anak kelas pernah di palaknya. 

Anak pindahan yang galak, berlagak preman. Heranku, tak ada satupun teman sekelas yang berani dengannya. Orang tuanya mengakui itu. Saat Bayu dikeluarkan pun mereka memaklumi. Akhirnya, Bayu di pindahkan ke Jawa. Sekolah akhlak di pondok pesantren. Mulai saat itulah aku hilang kabar darinya.

"Bay, kerja atau kuliah?" tanyaku membuka pembicaraan setelah ibu pergi meninggalkan kami berdua. Kusuguhkan kopi yang baru saja kubuat saat Bayu kutinggal dan mengobrol dengan ibu.

"Kerja aku, Yan. Kamu gimana? Denger-denger baru lulus."

"Iya, baru seminggu yang lalu."

"Sarjana apa, Yan?"

Sebenarnya aku malu mau menjawab pertanyaan ini. Aku malu jika ia terus bertanya tentang kesarjanaanku.

"S.Pd, aku, Bay. Ambil PGSD soalnya."

"Wiih, mantap, pendidik. Terus sekarang mengajar dimana?"

"Cuma dirumah aja, Bay. Mau kerja atau mengajar disekolah susah. Aku bukan lulusan yang terbaik, tapi terburuk. Bayangkan 2,65 bisa apa? Hhe.."

Tak tahu kenapa, biasanya aku sering malu mengatakan IPK ke orang lain. Tapi kali ini reflek saja langsung ku lontarkan pada Bayu. Mungkin karena aku sering menahan emosi tentang IPK rendah yang kudapat dan tak ada tempat untuk mencurahkan. Dan meluaplah itu pada Bayu.

"Hhe..., predikat lulusan terbaik atau tidak menurutku bukan sekedar penghargaan piagam dan bukti IPK, Yan. Tapi seberapa bermanfaatnya ilmu yang sudah didapatkan bagi banyak orang. Sebenarnya aku sudah tahu masalahmu ini, Yan, dari ibumu. Dua hari yang lalu aku sudah bertemunya. Aku bercerita banyak. Juga tentang masa SD kita yang gila itu. Ehh.., aku yang gila maksudnya, hhe. Ibumu malah tertawa lho dengernya. Hha.."

What? Kenapa ibuku sampai tertawa mendengarnya? Bagiku tak ada yang lucu di masa SD itu, justru itu adalah masa suramku disiksanya. 

"Jadi kamu kesini mau buat aku nangis lagi? Ngejek kalau IPK ku kecil, ya," pikiranku sulit menghilangkan tentang jahatnya sosok Bayu. Terucap begitu saja omongan ini.

"Aku nggak jahat lagi, Yan. Aku bawain kamu martabak, nih, lho. Mosok masih mau bilang aku jahat?" ia mengambilkan martabak itu dan memberinya padaku, "Nih, makan. Apa mau disuapi? Hhmm..," ia tersenyum padaku. Baru kali ini, aku melihat manisnya si Bayu. Biasanya bawaanku harus marah melulu jika melihat wajahnya.

"Cuma martabak doang, sih." gurauku. Tiba-tiba kekhawatiran akan jahatnya Bayu hilang begitu saja. Mungkin tadi aku yang terlalu sensitif. Lagi pula aku juga sedang dalam suasana kurang baik sejak lulus sebagai IPK terendah. Tak mungkinlah Bayu masih senakal kekanakannya yang dulu.

"Aku datang nggak cuma sedekar bawa martabak. Ada lagi sesuatu."

Saat itu aku dibuatnya penasaran. Apa yang dibawanya lagi? Bukan hanya martabak katanya. Tapi tak ada sesuatu yang tampak sekiranya bisa diberikan padaku. Hanya ada tas slempang kecil disampingnya. Mungkin sesuatu didalamnya. Tapi apa itu?

Ia pun membuka tas slempang itu. Mengambil sesuatu. Kotak, kecil, seperti kotak jam tangan, warnanya hitam.

Sepertinya kotak cincin. Tapi mungkinkah itu cincin? Terlalu romantis. Kalau benar, aku tak peduli cincinnya seperti apa, mungkin saat diberikannya padaku ia akan berkata, "Maafkan aku yang dulu, ya, Yan. Kini aku telah berubah, tak senakal dulu. Aku sudah bercerita banyak pada ibumu. Tentang kita. Bahkan aku sampai tertawa bersama ibumu. Yan, sekarang kamu harus tau, aku telah berubah mencintaimu. Maukah jadi pacarku?" maka saat itu juga aku akan tertawa terbahak-bahak. 

Benar saja, sesuatu yang dibawanya itu ada dalam kotak. Ia membukanya. Dihadapanku. Dibuka begitu saja, tak ada tanda romantis darinya. "Beneran cincin?" gumamku penasaran. Aku pun bertanya, "Mau kasih apaan sih, Bay?". 

"Ini, disimpan baik-baik ya, hha..," diambilnya selembar kertas dari kotak itu. Semua prediksiku tak tepat. Aku terlalu berlebihan. Ternyata hanya sebuah kartu nama.


"Jadi kamu kerja sebagai Kepala Sekolah, Bay?" aku kaget setelah membaca kartu namanya. Tak kusangka, teman yang dulu kukenal nakal kini menjadi seorang pemimpin Madrasah. 

"Iya, aku nungguin kamu tanya balik pekerjaanku, tapi malah fokus curhat IPK tadi. Aku jadi kepala sekolah di SD Budi Pekerti, Jambi. Dua tahun yang lalu."

"Dan, maksudnya?" tanyaku masih bingung tentang maksud dari kartu namanya. Apa dia hanya ingin pamer profesinya itu? Ahh, lagi-lagi selalu su'uzon padanya.

"Inilah yang kubawa spesial untukmu. Sebuah kabar, atau juga bisa dibilang tawaran. Aku butuh seorang guru, Yan, yang tulus dan ikhlas untuk mengajar bersamaku. Kau tau? Disana tak seperti disini. Masih pelosok desa. Tertinggal pula. Tak ada listrik. Banyak anak-anak kecil tak mau sekolah, mereka justru bekerja."

"Kamu lulusan apa, kok, bisa jadi kepala sekolah?" lebih dari sepuluh tahun aku tak berkomunikasi dengannya. Tak tahu lagi jenjang pendidikan yang ditempuhnya kecuali pesantren saat ia pindah dari SD.

"S1 sama, tapi aku Psikologi."

"IPK mu?"

"Jangan tanya IPK lah, Yan."

"Kamu nggak tau aku penasaran? Iya-iya deh. Bayu masih nakal seperti dulu, anak nakal IPK nya pasti...,"

"3,86. Hhee..,"

"Bay? Hebat!" aku takjub. Tak kusangka, semuanya sudah berbeda.

Bayu dan aku sebenarnya seumuran. Tapi dalam urusan kuliah aku telat dua tahun setelah lulus dari SMA. Mungkin karena itu, ia lulus lebih dulu dariku dan kini sudah dua tahun menjadi kepala sekolah. Tapi kenapa ia mau menjadi kepala sekolah di pelosok desa tertinggal, bahkan tak ada listrik?

"Bay, kenapa kau tak cari profesi yang lebih enak saja?"

"Dulu aku juga terpikir begitu, Yan. Tapi entah kenapa. Aku begitu terharu mendengar cerita perjuangan kuliah sahabatku. Ia berasal dari pelosok negeri ini. Dari desa yang tertinggal. Dia bilang: 'Aku hanya salah satu yang beruntung, bisa berpendidikan sampai setinggi ini, begitu banyak teman-temanku disana memilih tak mau bersekolah'."

"Lalu?"

"Dia yang membuatku tergerak untuk membuat sebuah perubahan, Yan. Aku dulu bocah yang tak paham arti sekolah, nakal tak tahu aturan. Di pesantren pun aku sering dihukum. Ya, tak patuh aturan. Hingga aku kuliah, tak ada niat lain kecuali paksaan orang tua. Tapi kemudian aku bertemu sahabatku itu, dan kini semua telah berubah. Aku berubah. Kau tau, semuanya telah membuatku sadar. Cerita-cerita darinya membuatku tahu bahwa masih banyak anak-anak di negeri ini yang belum mendapatkan haknya untuk bersekolah."

Aku masih memikirkan, begitu mulianya niat temanku ini. Pengalaman nakalnya mungkin yang menyadarkan akan banyak hal. Yang ku tahu, begitu banyak sarjana lulusan terbaik, tapi sedikit yang benar-benar mau mengabdi pada negeri, sisanya tergantung bayaran dan hal lain yang banyak menguntungkan dirinya sendiri. Tapi ku kira bayu bukanlah orang seperti itu.

"Bay, aku hargai tawaranmu. Tapi aku anak perempuan, harus izin dulu ke orang tua," aku mencoba memberi sedikit penjelasan. Aku tertarik, tapi sebenarnya juga takut. Bisa apa aku hidup di pelosok desa, bahkan yang tertinggal.

Waktu semakin malam, tak terasa sejak ba'da isya sampai kini pukul sebelas malam aku sudah banyak bercerita dengan Bayu. Sepuluh tahun lebih aku tak jumpa. Dan dipertemuan yang hanya lebih dari dua jam ini ia membuatku begitu kagum. Tentang perubahannya.

"Yan, nggak harus kamu jawab sekarang. Tapi kutunggu secepatnya ya. Ini sudah malam. Nggak enak sama tetangga, aku pamit ya. Salam untuk ibu, Yan," ia berdiri dari duduknya dan menyalamiku, "Assalamualaikum."

Kulihat wajahnya, aku pun tersenyum bahagia. "Waalaikumusalam, Bay. Terimakasih." 

Ia berjalan keluar rumah. Dua, tiga langkah sejak keluar dari pintu, ia menoleh kembali, melihatku dan berkata, "Begitu banyak anak-anak disana butuh pendidikan. Mereka membutuhkanmu, Yan."

**

Dua hari sejak kedatangan Bayu. Aku banyak di buatnya kagum, juga disadarkan. Aku tahu, semua manusia mampu melakukan perubahan. Aku melihat itu jelas pada sosok Bayu. Anak nakal yang kini berubah, berusaha bermanfaat bagi banyak orang. Orang yang benar-benar membutuhkannya. Ia ingin menjadi pelopor, penggerak keadilan pendidikan di negeri ini.

Bayu memang berjiwa pemimpin. Aku tahu itu sejak sekelas bersamanya. Dalam hitungan satu semester saja ia mampu membuat dan menggerakkan rombongan begajulan anak-anak SD, adalah rombongan penikmat rokok. Dia ketuanya.

Kini ia mencobanya lagi, mengajak teman-temannya untuk membuat rombongan dan menggerakkannya, tapi untuk keadilan pendidikan. Mungkin ia tahu aku sedang galau dengan lulusan terburuk ini. Maka ia pun datang. Mencoba menghargai jerih payah usaha ku mencari tiga huruf konsonan yang banyak di katakan orang sebagai gelar pendidikan.

Kupikir memang aku harus ikut dengannya. Lagi pula orang tuaku sudah mengizinkan. Mungkin sifat pedagogisku di kota ini hanya sedikit bermanfaat, terutama bagi tetangga terdekat saja. Tak berpengaruh besar. Tapi ku kira itu akan sangat bermanfaat jika aku melampiaskan pada mereka yang benar-benar membutuhkannya. Di sana, di pelosok desa yang tertinggal, Jambi.

Satu hari yang lalu aku mengirim pesan ke Bayu: "Bay, terimakasih. Kau memberiku harapan. Kupikir 2,65 tak akan berguna di kota ini. Dan mungkin itu tak akan dipertanyakan di sana, di sekolahmu. Aku percaya dengan yang kau katakan. Lulusan terbaik adalah mereka yang benar-benar bermanfaat. Aku berusaha untuk itu, Bay. Aku tak bisa berkata apapun lagi. Cukup terimakasih yang tak terhentinya. Ohh.., iya satu lagi, Bay, aku mau ikut denganmu."

Sejak saat itulah aku telah memilih. Hidup untuk mengabdi di dunia pendidikan. Di tempat yang memang benar-benar membutuhkan pendidikan, bersama Bayu dan teman-teman yang lainnya. Kami, orang-orang yang pernah menyepelekan pendidikan, tapi kini berusaha menjadi pelopor dan penggerak keadilan pendidikan.

Begitulah hidup. Begitu banyak pilihan. Semua punya hak atas dirinya masing-masing. Terserah mau pilih mana dan terserah mau diapakan. Temanku mungkin lebih banyak yang memilih mendidik di daerah yang nyaman. Tapi aku harus membuat pilihan. Alangkah baiknya aku jika mampu memberi ilmu ke mereka yang memang layak untuk diberikan. Bahkan saat negara pun tak mau memedulikannya.[]

___
Full Catatan Maryani
  1. Perubahan
  2. Sandal Jepit
  3. Sarjana
To be continued....
Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir."