BLANTERWISDOM101

Bumi dan Para Sahabatnya

01 April 2017

Di sebuah tempat yang luas. Luas sekali. Melebihi luasnya lautan dan daratan yang kumiliki. Itulah tempat dimana aku dan sahabat-sahabatku menetap. Tempat itu disebut galaksi.

Ada banyak galaksi seperti: Andromeda, Triangulum, Bima Sakti dan lainnya. Tapi aku dan sahabat-sahabatku hanya tinggal di satu galaksi, dialah Bima Sakti.

Sudah miliyaran tahun aku hidup bersama dengan mereka. Matahari, Komet, Asteroid, Planet Mars dan sahabatku lainnya. Kami tak pernah berpisah. Sampai kiamat pun kami akan selalu bersama.

Sahabatku yang pertama di Bima Sakti adalah Matahari. Aku tak terlalu dekat dengannya. Harus kutempuh jarak 150 juta kilometer untuk mendekatinya. Kadang aku tak berani untuk mendekat, sebab ia begitu panas. Suhunya mencapai 6 ribu - 16 juta°C. Bisa saja aku terbakar olehnya jika terlalu dekat. Tapi dia sahabatku yang paling mandiri. Ia mampu memancarkan cahayanya sendiri yang begitu bermanfaat, terutama bagi makhluk hidup yang menetapiku. Maka kusebutlah Matahari sebagai bintang.

Selain Matahari, sahabatku yang lain di Bima Sakti ini adalah Planet. Planet adalah benda langit yang mengelilingi matahari dengan orbitnya. Bentuknya bulat sama seperti matahari, tapi ukurannya lebih kecil. Di Bima Sakti ada delapan planet termasuk aku, berdasarkan urutannya dari jarak terdekat matahari adalah: Merkurius, Venus, Aku (Bumi), Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus.

Sahabat planet pertamaku adalah Merkurius. Dialah yang jaraknya paling dekat dengan Matahari, yaitu 58 juta kilometer. Dia adalah sahabat planetku yang paling kecil diantara planet lainnya.

Sahabat planetku yang kedua adalah Venus. Venus adalah planet terdekat kedua setelah Merkurius dari Matahari dengan jarak 108 juta kilometer. Dia tak mau memiliki kesamaan denganku. Saat aku memiliki banyak oksigen, Venus justru memiliki banyak karbon dioksida.

Kemudian planet Mars. Dijuluki dengan sebutan planet merah karena permukaannya berwarna demikian. Juga karena Mars memiliki banyak gunung berapi. Mars adalah Sahabat terdekatku setelah Venus. Ia sering memberikan keindahan tiap sore dan pagi hari. Oleh manusiaku ia disebut bintang senja saat sore dan bintang fajar saat pagi.

Selanjutnya adalah sahabat planetku yang gendut. Dialah Yupiter. Bentuknya paling besar diantara planet lainnya, bahkan 11 kali lipat dariku (Bumi). Dia planet ke lima terjauh dari Matahari setelah Merkurius, Venus, Aku dan Mars. Kalau dengar nama Yupiter maka panggil saja dengan si gendut.

Saturnus, sahabat planetku yang satu ini sangatlah cantik. Satu-satunya planet yang memiliki cincin begitu indah. Sayangnya, ia juga gendut. Walau tak segendut Yupiter, tapi dialah planet yang paling besar kedua setelah Yupiter. Dia juga disebut sebagai planet terjauh ke enam dari Matahari.

Sahabat planetku yang terakhir adalah Uranus dan Neptunus. Mereka disebut planet kembar karena ukuran bentuknya sama, yaitu empat kali ukuranku atau kurang lebih berdiameter 50.000 km. Tapi diantara mereka, yang jaraknya paling jauh dari Matahari adalah Neptunus.

Selain Matahari dan Planet, masih ada lagi sahabatku di galaksi Bima Sakti ini. Yaitu Komet, Meteoroid, Asteroid dan Satelit.
Komet, dia juga sama seperti kami para planet, yaitu mengelilingi matahari dengan orbitnya sendiri. Kalau orbit para planet umumnya berbentuk lingkaran, tapi orbit komet bentuknya lonjong.

Sahabatku lainnya adalah Meteoroid. Meteoroid adalah batuan yang ada di luar angkasa. Terkadang dia mendekatiku karena tertarik gravitasi. Saat melewati atmosferku ia berpijar, maka banyak yang menyebutnya sebagai bintang jatuh atau meteor. Kadang ia berhasil menembus atmosferku dan jatuh ke permukaanku, maka disebutlah ia sebagai meteorit.

Asteroid. Dia sahabatku yang juga disebut planetoid, karena mirip dengan planet. Ukurannya sangat kecil, diameternya hanya 2 Km, tapi lebih besar dari Meteoroid. Letak dari Asteroid kebanyakan diantara Mars dan Yupiter, disebut juga dengan istilah Sabuk Asteroid. Ia pun sama seperti kami, mengelilingi matahari. 

Terakhir adalah Satelit. Dialah kekasih setia para planet. Karena setiap planet memiliki satelitnya sendiri-sendiri. Seperti aku yang memiliki satelit bulan, salah satu satelit alamiku. Bersamaku ia ikut mengeliling matahari. Tapi aku juga punya satelit buatan, yaitu satelit yang dibuat para manusia, salah satunya adalah satelit komunikasi Palapa.

Itulah seluruh sahabat-sahabatku. Sahabat yang selalu setia bersamaku di galaksi ini. Kapan pun, mereka tak pernah meninggalkanku. Kadang aku merasa kasihan dengan Merkurius, ia selalu kepanasan karena jaraknya paling dekat dengan Matahari. Kadang juga ia di tertawakan karena bentuknya paling kerdil diantara kami.

Kadang juga aku merasa kasihan dengan Neptunus, ia harus kedinginan karena terlalu jauh dari Matahari. Juga dengan Yupiter, yang sering di tertawakan karena kegendutannya. Tapi mereka tak pernah marah. Justru mereka malah mengakui semua itu sebagai keunikan dan ciri khasnya masing-masing.

Kami sering mencontoh Matahari. Dialah sahabat kami yang tak pernah sombong. Meskipun ia bisa memancarkan cahayanya sendiri dan menjadi pusat para planet, dan benda langit lainnya dalam mengorbit, tak ada satu pun kesombongan darinya. Dia juga membantuku dalam menghidupi para manusia yang tinggal di tubuhku.

Kami para benda langit yang hidup di Bima Sakti telah lama bersahabat. Bukan hanya satu, dua, atau tiga tahun, tapi persahabatan kami sudah berlangsung sejak jutaan tahun yang lalu. Maka untuk mengenang dan memudahkan penyebutan kami semuanya, persahabatan kami dinamakan dengan Tata Surya.

___
Terbit di www.pojoksamber.com

Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir"