Dibalik Awan

#Sandallll #Fiksi #Kritik

Sore hari di dataran tinggi daerah Metro, dua sahabat sedang duduk manis menikmati indahnya alam. Tepatnya dipojok sawah dekat tempat tinggal mereka.

"Kita hampir tiap sore selalu disini, Med," Anita membuka pembicaraan.

"Aku suka dengan keadaan ini, Nit, sejuk, seger, pokoknya 'silir' dan nikmat deh," sahut Memed yang mata dan jarinya fokus membalas pesan singkat di smartphone.

"Sebenarnya, aku juga suka sama keadaan ini. Hhe," ucap Anita sembari senyum ke arah Memed. Tapi, Memed masih saja fokus dengan smartphonenya. "Med, kok aku diabaikan siih?"

"Huu.., gitu aja ngambek. Maaf ya ada pesan dari temen barusan," Memed mencoba menenangkan Anita. "Nit, aku suka ajak kamu kesini karena kamu itu asyik diajak ngobrol, suka keindahan pemandangan dan tentunya rumahmu nggak jauh. Juga, karena sering aku ajak kesini kamu jadi terinspirasi menulis banyak puisi keindahan alam toh?"

"Hhe. Iya, med. Thanks loh ya," jawab Anita dengan senyuman yang sama. Tiba tiba, "Ehh..., med..., lihat deh awan disebelah sana," Anita mengarahkan telunjuknya ke kanan tepat diatas sunset.

"Apaan?" Memed spontan kaget. Namun, "Oahalaahh kirain, subhanallah bagus".

"Awan itu bentuknya lafadz Allah, jarang banget, ini bener-bener tanda kebesaran Allah," Anita takjub.

"Iya, Nit. Allahu Akbar. Ehh nit..,emm..., tau nggak?"

"Apaan? Yang jelas, geh."

"Aku langsung kepikiran gini, Nit. Banyak orang begitu takjub dengan salah satu kebesaran Allah yang langka terjadi seperti awan tadi. Tapi, banyak juga orang mengabaikan kebesaran Allah yang ada di depan mata".

"Misalnya?" Tanya Anita penasaran.

"Perbedaan," hanya satu kata Memed ucapkan.

"Maksudnya?" Anita semakin penasaran.

"Bukankah Allah itu telah menciptakan kita (manusia) dengan beragam suku dan bangsa, jelas dari keberagaman itu banyak sekali perbedaan, mulai dari yang tampak (fisik) maupun yang tidak (pemikiran). Heranku, Nit, ada saja orang yang merasa dirinya paling benar dan mengabaikan adanya perbedaan (pemikiran) itu. Bukankah klaim kebenaran itu sumber dari segala pertikaian?"

"Hmm..," Anita sejenak memikirkan perkataan Memed.


0 Response to "Dibalik Awan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel