BLANTERWISDOM101

Tentang Sebuah Pergerakan

16 November 2016
PMII atau Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia adalah salah satu organisasi kemahasiswaan yang paling populer di kampus tempat saya berada. Organisasi ini secara kuantitas memiliki banyak kader, misalnya pada setiap prodi, pasti ada lebih dari 20 kader, tak terkecuali di prodi saya PGMI. Organisasi ini memiliki sebuah motto: Dzikir, Pikir, dan Amal Saleh, yang secara tafsiran mudahnya saya adalah saat berorganisasi di PMII kita haruslah senantiasa berdzikir (mengingat Allah swt), kemudian selalu berpikir (harus berpengetahuan atau berilmu), dan diamalkan (dengan ikhlas).


Di sinilah saya berada, disinilah saya bergerak dan disinilah saya belajar, PMII. Seperti halnya mahasiswa yang lain, saya bergabung di PMII lewat proses kaderisasi awal yang disebut MAPABA, kemudian membaiatkan diri untuk selalu mengabdi dengan PMII. Awalnya, saya tak pernah tahu apa itu PMII kecuali organisasi yang populer, bahkan saya pernah beranggapan bahwa PMII itu hanyalah plesetan dari PMI. Maka motivasi saya ikut di PMII kala itu hanya keinginan untuk menambah jaringan pertemanan atau relasi. Tapi ternyata, semakin saya berjalan mengikuti proses, PMII justru memberikan saya lebih dari sekedar teman melainkan “Sahabat”, sebab saya sering di sapa dengan kata tersebut. Saya mengartikan sahabat sebagai seorang yang mengetahui baik-buruknya diri saya dan tetap mencintai, mendukung, dan mengkritiki secara jujur agar menjadi insan yang lebih baik. Saya harap sapaan “Sahabat” di PMII memang memiliki makna demikian.

Saya hidup di PMII sudah lebih dari satu tahun sejak semester satu hingga sekarang semester tiga. Ada banyak cerita, pengalaman, dan ilmu yang sudah saya dapatkan, tapi masih banyak juga rasa kurang puas. Saya di PMII bergerak di dua masa kepemimpinan rayon, pertama ketua rayon periode VI sahabat Nurul Fauziah dan ketua rayon periode VII Bayu Sugara.

Di masa kepemimpinan sahabat Nurul, bisa dikatakan saya ini kader pasif, sebab rasanya berat sekali untuk diajak follow up, selalu saja terbayang follow up nanti pasti membosankan (hanya materi) hingga akhirnya tak hadir. Tapi, semakin berjalan ternyata ada agenda follow up yang sampai saat ini masih teringat dan saya katakan menarik. Pertama, saya pernah ikutan follow up malam hari bersama dengan rayon Esy di Taman Metro dalam rangka memperingati “Hari Sumpah Pemuda”, bahkan saat itu saya membagikan korek api ke warga-warga kota Metro yang ada di taman sebagai simbol sebuah semangat. Yang kedua, follow up di rumah kader Nanda Weny Oktavia (Sekampung) sampai menginap. Saya katakan ini sebagai follow up kebersamaan, karena di follow up ini banyak kegiatan (game) yang membuat kami hilang kebosanan dan merasakan arti kebersamaan.

Selanjutnya di kepemimpinan periode ke VII. Sejak 10 April 2016 dilakukan RTAR dan terpilihnya sahabat Bayu sebagai ketua rayon, sampai saat ini saya merasa kurang mendapatkan banyak pengalaman yang berkesan, atau mungkin saya saja yang pelupa. Satu yang paling berkesan adalah pengalaman saya menjadi ketua pelaksana dalam agenda kaderisasi formal basic pertama dari PMII yang juga sebagai pintu gerbang untuk bergabung dengan PMII, yaitu MAPABA. Saya diajari repot, pusing, dan lain sebagainya demi agenda yang sukses. Dan akhirnya (saya katakan) MAPABA Rayon PGMI benar-benar sukses dengan merekrut 28 mahasiswa.

Ada hikmah dibalik satu pengalaman paling berkesan itu. Sejak saya menjadi ketua pelaksana, rasanya seakan memikul tanggung jawab yang besar bagi mereka (kader baru). Meski hanya sebagai ketua pelaksana (bukan ketua rayon bahkan pengurus), hati saya tergerak untuk bergerak melayani mereka. Belajar dari pengalaman selama lebih dari setahun hidup di PMII dan menikmati kaderisasi yang sedikit membosankan, ingin sekali saya mengubahnya menjadi kaderisasi yang menyenangkan.

Seperti Follow up yang keseringan dengan materi, dampaknya akan membosankan. Untuk sekarang bisa saja dengan mudah follow up diselingi dengan kegiatan yang menyenangkan bahkan bisa dikatakan pengaplikasian dari materi tersebut, misal NDP-Hamblum minannas, kunjungi saja rumah-rumah senior/alumni rayon PGMI, selain jaringan relasi terbangun (silaturahim) juga menambah ilmu sejarah struktur di tingkat rayon, lalu Aswaja-Islam ahlussunnah wal jamaah, dengan pelatihan menulis kemudian menyebarkan kebaikan (dakwah) lewat tulisan, dan lain sebagainya. Pendek kata, membuat follow up lebih menyenangkan, bahkan kalau bisa lewat follow up kader bisa mengatasi segala urusannya di perkuliahan mulai dari tugas hingga tempat curhat sekalipun.

Dengan kaderisasi yang menyenangkan barangkali masalah kader yang sering “menyusut jumlahnya” bisa di atasi. Yang jelas, selain follow up menyenangkan, juga perlu sebuah pendekatan (pengakraban) yang nyaman ke kader baru. Sebab selain kaderisasi yang membosankan, salah satu faktor penyusutan kader adalah kurangnya komunikasi, pendekatan (pengakraban) sehingga yang terjadi kadang kader merasa canggung karena kurang kenal (akrab). Memang untuk melakukan pendekatan seperti ini gampang-susah, paling tidak cara simpel saya lewat sosial media, sebab ada saja kader yang secara langsung malu-malu untuk berinteraksi tapi giliran di sosial media responnya cepat.

Belajar dari pengalaman adalah refleksi yang baik agar kedepannya pergerakan rayon bisa lebih istimewa. Sudah setahun lebih saya di PMII, menikmati proses pembelajaran, pelayanan kaderisasi dan apapun yang diberikan oleh PMII, saya ingin mencuri ilmu sebanyak-banyaknya di PMII dengan mencontoh kader-kader lain (se-Indonesia) yang bisa dicontoh. Di PMII juga saya belajar, mendekatkan diri ke Allah, menimba pengetahuan, dan tempat mengamalkan ilmu yang insyaallah bermanfaat. Saling berbagi, menambah jaringan persahabatan dan banyak lagi keinginan saya yang tak bisa disebutkan semuanya.

Pengalaman saya dengan rasa kurang puas inilah yang menggerakkan saya untuk mengubah kaderisasi lebih menyenangkan. Lebih dari itu, yang paling penting saya inginkan adalah rasa kesolidaritasan dari kader PGMI. Apalah artinya saya dengan ide-ide pergerakan yang tertulis diatas tanpa adanya bantuan dari pengurus. Kadang, saya merasa kurang enak jika menggerakkan mendahului pengurus. Maka dari itu, mari bersama kita gerakan rayon PGMI menjadi rayon yang eksis, aktif dengan kaderisasi yang menyenangkan serta memiliki kuantitas dan kualitas yang super mantap.

“Aku berpikir tentang sebuah gerakan, tapi mana mungkin aku nuntut sendirian?” (Wiji Thukul, 1989)

Share This :
Ahmad Mustaqim

"Aku orang yang suka berimajinasi". Suka berdialog pada hati, yang kemudian akalku malah mengikuti, maka jadilah kami bertiga yang sedang berdiskusi, di dalam jasad yang kecil dan bernama Ahmad Mustaqim.