Resensi Film Sang Kiai (Sang Pahlawan Pendidikan)

Oleh : Ahmad Mustaqim, Rayon PGMI IAIN METRO 


“SANG KIAI” adalah film karya anak bangsa yang diproduksi oleh RAPI FILMS di tahun 2013 dan disutradarai oleh Rako Prijanto. Film ini bertema kepahlawanan yang menceritakan sosok pendiri "Nahdlatul Ulama" asal Jombang, Jawa Timur yaitu KH. Hasyim Asy’ari atau Hadratussyaikh. Film yang sangat dianjurkan untuk menjadi tontonan wajib bagi masyarakat Indonesia. Agar lebih mengenal sosok KH. Hasyim Asy’ari, begitupun dengan jerih payah para ulama dan perjuangan rakyat Islam bagi kemerdekaan Indonesia.

Dalam film ini, tokoh KH. Hasyim Asy’ari dan istrinya Nyai Kepu sebagai tokoh sentral diperankan oleh Ikranagara dan Christine Hakim. Sedangkan KH. Wahid Hasyim (anak Sang Kiai sekaligus ayah dari Gus Dur) diperankan oleh Agus Kuncoro. Adapun tokoh Harun (santri kesayangan Kiai), Hamzah (penerjemah tentara jepang), dan Sari (istri Harun) diperankan oleh para aktor muda seperti Adipati Dolken, Dimas Aditya, dan Meriza Febriani. 

Untuk tokoh seperti Bung Tomo dan Gus Dur kecil diperankan oleh Ahmad Fathoni dan Ahmad Zidan. Sedangkan Kumakichi Harada (Jepang) dan Brigadir Mallaby (Inggris) diperankan oleh aktris bule agar terlihat sesuai dengan keadaan masa itu, mereka adalah Suzuki Noburo dan Andrew Trigg.
Awal dari film ini adalah menampilkan suasana lingkungan khas Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Pesantren yang dipimpin KH. Hasyim Asyari ini terlihat dalam kondisi yang begitu tenang dan khusyuk. Banyak orang yang berasal dari Pulau Jawa dan Madura datang ke Tebuireng dan mendaftarkan anaknya untuk belajar ilmu pengetahuan Islam. Para orang tua santri mendaftarkan dengan cara memberikan hasil bumi yang dimilikinya ke Pesantren. 

KH. Hasyim Asyari yang dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama dan pemimpin pesantren tentu memiliki sikap baik yang patut dicontoh murid – muridnya, salah satunya adalah rendah hati. Terbukti di awal kisah, Sang Kiai menerima seorang santri yang memang tidak mampu untuk memberikan hasil bumi ke Pesantren (hasil bumi yang akan digunakan untuk keperluan bersama di pesantren). 

Meski film Sang Kiai mengisahkan tentang perang kemerdekaan dan peran KH Hasyim Asy’ari, film ini bukanlah jenis film dokumenter yang terlihat sangat serius. Ada unsur komedi, yaitu ketika adegan salah satu santri yang tidak melaksanakan sholat dzuhur berjamaah, kemudian dihukum oleh Sang Kiai dengan hukuman mencium pantat sapi. Adapun unsur kasih sayang atau percintaan, yang dituangkan pada kisah Harun dengan Sari, juga antara Sang Kiai dengan istrinya, Nyai Kepu.

Kisah yang mulai menegangkan dari film ini adalah ketika suasana pondok pesantren yang begitu khas berubah menjadi sangat menakutkan saat pasukan Jepang datang menyerbu dengan senjatanya. Yang kapanpun Jepang ingin menembaki para santri tentu saat itu juga akan mati. Adapun Jepang hampir membakar para santri ketika KH. Hasyim Asy’ari yang hendak ditawan malah dilindungi oleh santrinya bahkan sampai ada yang melawan. Jepang yang bertamu ke Tebuireng tanpa sopan santun itu tidak lain bertujuan membawa KH. Hasyim Asy’ari. Karena pada waktu itu, banyak para Kiai ditangkapi karena mereka menolak melakukan ritual “Sikerei” yang sangat jelas bententangan dengan syariah Islam. “Sikerei” adalah ritual tentara Jepang menyembah Matahari yang dilakukan dengan cara menundukkan badan meyerupai gerakan ruku’.

Singkatnya, KH. Hasyim Asyari akhirnya dibawa oleh pasukan Jepang. Setibanya di tempat Jepang, KH. Hasyim Asy’ari diminta atau justru dipaksa menandatangani kesepakan untuk melakukan “Sikerei”. Tetapi, beliau tidak mau menandatanganinya. Sebab itulah, beliau disiksa hingga tangannya berdarah. Salah satu putra beliau, KH. Wahid Hasyim, mencoba membebaskan ayahnya tersebut melalui jalur diplomasi. Berbeda dengan putra Kiai, salah satu santri kesayangan Kiai, Harun, malah percaya dengan jalur kekerasan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Harun pun menghimpun kekuatan santri agar melakukan demo menuntut kebebasan Sang Kiai. Harun jelas salah, dengan cara tersebut justru korban malah bertambah. Akhirnya, KH. Hasyim Asy’ari atau Hadratussyaikh dipindahkan dari Jombang menuju Mojokerto.

Setelah dipindahkan ke Mojokerto, dilakukanlah jalan damai oleh KH. Wahid Hasyim dan KH. Wahab dengan perundingan melalui jalur diplomasi. Mereka berdua mendatangi para pemimpin Jepang, dan akhirnya Jepang pun melunak setelah diberikan penjelasan oleh masyarakat pribumi bahwa masyarakat Indonesia memiliki ikatan persaudaraan yang sangat kuat dengan dilandasi agama Islam. Akhirnya jepang pun melepaskan Sang Kiai dan para ulama lainnya yang juga  dipenjara.
Sejak pertemuan itu, KH. Wahid Hasyim dan KH. Wahab membuat perubahan strategi politik dengan berpura – pura bekerja sama kepada Jepang. Keuntungannya jelas, memanfaatkan fasilitas Jepang guna persiapan kemerdekaan dan dibentuknya panitia pembelaan terhadap para ulama NU (Nahdlatul Ulama). Perjuangan melawan tentara Jepang tidak berhenti disini. Jepang memaksa rakyat Indonesia agar memperbanyak hasil bumi. Jepang memerintahkan Masyumi yang diketuai KH. Hasyim Asy'ari untuk menggalakkan bercocok tanam. Bahkan seruan itu diselipkan dalam khotbah sholat Jum'at. Harun yang melihat masalah ini merasa bahwa Kiai yang dikenalnya sangat baik justru berpihak kepada Jepang, akhirnya ia memutuskan pergi dari pesantren.

Kebijakan Jepang untuk memperbanyak atau melipat gandakan hasil pertanian itu mulai menuai protes dari rakyat Indonesia, salah satunya di daerah Sukamanah, Jawa Barat yang dipimpin oleh KH. Zaenal Mustafa. Beliau menentang kebijakan tanam paksa ini. Beliau juga melihat sikap Masyumi yang diam saja justru menyiksa rakyat. Karena penentangan tersebut, akhirnya KH. Zaenal Mustafa dihukum penggal oleh tentara Jepang. 

Di tahun 1945, Jepang menjadi lemah karena serangan dari tentara sekutu. Jepang pun meminta bantuan kepada Masyumi agar mengadakan pelatihan militer kepada seluruh Muslim Indonesia melalui perintah ketuanya, KH. Hasyim Asy’ari. Tetapi Sang Kiai menolak, sebab mayoritas masyarakat Indonesia pasti tidak mau jika harus melawan tentara sekutu di wiliayah Burma. Sang Kiai akhirnya meminta kepada Jepang agar melatih masyarakat Indonesia dan kemudian membentuk tentara Hisbullah untuk persiapan kemerdekaan. Hingga pada tanggal 11 Agustus 1945, Perdana Menteri Jepang, PM Kaiso, memberi janji kemerdekaan kepada Indonesia dengan mengundang Soekarno sebagai utusan yang menerima pernyataan kemerdekaan Indonesia tersebut.

Kemerdekaan semakin terasa begitu dekat, Soekarno melalui utusannya meminta pernyataan membela tanah air kepada Sang Kiai untuk melawan penjajahan. Utusannya menyampaikan, “Bagaimana hukumnya membela tanah air bagi masyarakat Indonesia tanpa kepentingan golongan dan agama apapun?” kalimat ini sempat diulangi sampai beberapa kali. Kemudian Hadratussyaikh atau KH. Hasyim Asy’ari melakukan “Ijma”, setelah itu dijawablah bahwa “Hukum membela tanah air adalah wajib bagi setiap Muslim” atau dalam sejarah lebih dikenal dengan "Resolusi Jihad". Bisa diartikan, bahwa setiap umat Islam wajib memperjuangkan tanah airnya demi kemuliaan agama Islam. Ketika kemerdekaan sudah dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945, peperangan masih saja terjadi namun Jepang akhirnya angkat kaki dari Indonesia.

Akan tetapi, Belanda yang belum mengakui kemerdekaan Indonesia datang kembali ke Tanah air, kemudian terjadilah peperangan kembali. Tentara Belanda datang ke Surabaya pada bulan November 1945 tidak sendiri, mereka datang bersama tentara Inggris. Salah satu pejuang kemerdekaan, Bung Tomo, mendatangi Hadratussyaikh untuk meminta nasehat. Hadratussyaikh pun berkata kepada Bung Tomo agar menyampaikan orasinya dengan lantang dan menyuarakan Islam dengan cara mengagungkan Nama Allah dengan Takbir tiga kali. Allahu Akbar!! Allahu Akbar!! Allahu Akbar!!
Dan pada tanggal 10 November 1945, Kota Surabaya menjadi lautan api. Semua sudut kota terbakar habis oleh api – api pertempuran dan banyak pejuang yang syahid di pertempuran tersebut. Para pejuang islam yang berjuang hingga berdarah – darah itupun akhirnya mampu memukul mundur pasukan Inggris.

Film ini ditutup dengan wafatnya Hadratussyaikh atau KH. Hasyim Asyari. Padahal, saat itu para pejuang Islam masih membutuhkan banyak nasehat dari beliau untuk tetap mempertahankan negara Indonesia ini dalam bingkai ke-Islam-an. Pada saat itu pula terjadi Agresi Belanda I pada 21 Juli 1947. Jombang diserang oleh Belanda, bahkan Tebuireng dibakar karena dituduh sebagai sarang pemberontak Muslim.

Begitulah film "SANG KIAI", film yang diharapkan mampu memberi dan membangkitkan kembali semangat membela Islam dan Tanah air Indonesia. Ada banyak pelajaran atau hikmah yang bisa dipetik, seperti kisah cinta antara Harun dan Sari yang kemudian dinikahkan dengan cara yang sangat islami, yaitu dipisahkan diruangan yang berbeda. Bahkan sebelum menikah pun mereka hanya sekilas saling pandang dan berbicara secara jauh. Berbeda dengan sekarang yang selalu pacaran dulu dan “nempel” terus padahal belum menikah.

Adapun jika memahami kisah KH. Hasyim Asy’ari lebih dalam lagi, beliau adalah sosok pendidik yang hebat. Seorang pendiri “Nahdlatul Ulama” sekaligus pemimpin pesantren “Tebuireng”, yang dari kedua itu lahirlah para ulama dan cendekiawan hebat. Betapa besarnya pengaruh pendidikan KH. Hasyim Asy’ari yang menurut penulis sangat jelas, “Bukan hanya sebagai Pahlawan Nasional, tapi KH Hasyim Asy’ari juga pantas disebut sebagai 'Tokoh Pendidikan'”.

0 Response to "Resensi Film Sang Kiai (Sang Pahlawan Pendidikan)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel