Pesantren, Solusi Kenakalan Remaja

Oleh: Ahmad Mustaqim
Kader PMII Rayon PGMI IAIN Metro

Dewasa ini masalah kenakalan remaja begitu mengkhawatirkan berbagai pihak, mulai dari orang tua, masyarakat dan pemerintah yang memiliki kepentingan terhadap pembangunan bangsa. Kenakalan remaja dapat diartikan sebagai perilaku menyimpang yang menimbulkan kerugian baik pada diri remaja, keluarga dan masyarakat.

Adapun faktor yang mempengaruhi adanya kenakalan remaja adalah lingkungan hidup yang ditempatinya. Bermula dari yang paling terkecil yaitu lingkungan keluarga, karena keluarga menjadi tempat pendidikan yang pertama, maka jika keluarga memberikan pendidikan yang buruk pada remaja jelas akan berpengaruh negatif.

Kemudian lingkungan masyarakat atau pergaulan. Pada lingkungan inilah remaja menjalani proses pencarian jati diri dengan bergaul dan bermain dengan teman sebayanya. Inilah faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap kenakalan remaja.

Dalam pergaulan saat ini, sering terdengar istilah “kekinian”. Apapun yang sedang trend atau menjadi sorotan dijadikan panutan bagi remaja karena dinggapnya gaul. Seperti kasus yang belum lama ini terjadi, netizen digemparkan dengan sosok AwKarin yang bertingkah nakal dan jauh dari moral, salah satunya dengan mengumbar aurat ke publik lewat Instagram. Yang parah adalah instagram AwKarin mayoritas di follow kalangan remaja, mulai dari tingkat SMP sampai SMA. Maka tak heran setelah trend itu banyak para remaja yang berani bahkan bangga memublikasikan kenakalan mereka.

Kenakalan remaja memang menjadi masalah yang serius di negeri ini. Apalagi remaja adalah investasi bangsa, pemuda yang bakal menjadi penerus kejayaan negara. Kenakalan remaja bisa diatasi dengan sistem pendidikan yang baik, yaitu sistem pendidikan yang menekankan akhlak. Maka dalam hal ini pesantrenlah yang memiliki sistem yang baik dalam mengatasi kenakalan remaja tersebut. Karena pesantren mengajarkan keislaman secara khusus dan tentunya mengajarkan esensi dari islam itu sendiri, yaitu berakhlak mulia.

Model Pendidikan Pesantren
Pesantren adalah lembaga pendidikan islam paling tua di Indonesia yang berfungsi sebagai pusat dakwah dan pengembangan masyarakat muslim Indonesia atau disebut juga tempat mengaji para santri. Meskipun sebagai lembaga pendidikan tertua, eksistensi pesantren tak bisa diragukan lagi dan jelas telah teruji. Terbukti hingga saat ini pesantren tetap saja ada bahkan menjadi solusi para orang tua untuk mengatasi kenakalan anaknya.

Pilihan orang tua tersebut sangatlah tepat. Sebab dalam pesantren santri ditekankan dengan sistem pendidikan yang on time alias 24 jam. Santri diajarkan sikap sosial yang baik seperti rajin, jujur, kreatif, inovatif, bertanggung jawab, bekerja keras dan mengamalkan sifat-sifat terpuji lainnya. Dan yang jelas paling pokok adalah santri diberikan pelajaran agama yang lebih spesifik, salah satunya dengan kitab kuning. Adapun kajian lainnya itu berupa fiqh, tasawuf, nahwu (arab gundul), hingga menghafal Alquran dan lainnya.

Di era modern ini, pesantren tak lagi mengajarkan keislaman saja yang melulu dengan kitab kuning. Menurut beberapa santri yang langsung curhat dengan penulis, pada siang hari santri akan diberikan pelajaran umum layaknya sekolah-sekolah lain, mulai dari pelajaran IPA, IPS, hingga belajar bahasa asing. Dan pada malam harinya santri akan ditekankan di bidang agama, mulai dari mengaji, menghafal kitab, hingga melaksanaan ibadah sunnah.

Selain dengan sistem on time tadi, pesantren juga melindungi santri dari pengaruh lingkungan luar yang kurang baik, yaitu dengan menampungnya di suatu asrama. Dengan cara seperti ini tentunya orang tua bisa dengan mudah mengawasi anaknya yang diambil alih oleh pesantren. Asrama ini juga memiliki pengaruh baik dalam membentuk kemandirian santri, seperti melakukan segala keperluan sehari-hari yaitu: memasak, mencuci, bersih-bersih kamar, dan segalanya yang dibutuhkan.

Di dalam asrama, santri akan saling mengenal dan bergaul dengan santri lainnya. Dari pergaulan inilah santri bisa membuat suatu wadah perkumpulan atau pertemanan yang bisa mengarahkannya ke arah yang lebih positif. Misalnya kerjasama dalam menghafal kitab dan berdiskusi perihal tugas-tugas dari pesantren. Pada intinya, asrama ini akan menjadi lingkungan yang baik bagi perkembangan perilaku remaja.

Pada pesantren pula, para remaja atau santri akan diasuh langsung oleh Kyai. Kyai merupakan orang yang ahli dalam agama dan fasih dalam membaca Alquran serta memiliki kemampuan cermat lainnya di bidang agama. Seorang santri yang datang kepesantren tentu tak lepas dari semangat mengubah akhlak untuk lebih baik atau singkatnya menjadi alim. Maka untuk menjadi alim itulah santri diajari langsung oleh yang alim, yaitu Kyai.

Selain itu, pesantren juga merupakan tempat pencetak para cendekiawan islam atau ulama. Ketika kehidupan di dunia ini butuh seorang umara atau penguasa, maka ulama juga dibutuhkan sebagai penyeimbang. Kita bisa melihatnya pada sejarah Indonesia ketika terjadi kolonialisme, seorang penguasa sekelas Bung Tomo membutuhkan KH. Hasyim Asyari untuk memberikan semangat perjuangan yang lebih pada rakyat Surabaya. Sebab ulama sangatlah dihormati bahkan digugu.

Sama halnya dengan Salahuddin al Ayyubi yang berhasil menaklukan Yerusalem dari pasukan salib pada tahun 1183M. Yang sebelumnya pada tahun 1096M pasukan salib merebut kota itu dari pasukan muslim dengan membantai lebih dari 30.000 muslim dan Yahudi. Salahuddin ketika merebutnya kembali tidak membalaskan dendam dengan melakukan hal yang sama, justru ia memberi kebebasan pada kaum Kristen dan Yahudi untuk tetap tinggal atau pergi meninggalkan Yerussalem. Kebaikan Salahuddin ini tak lepas dari peran seorang ulama besar, yaitu imam Al Ghazali yang saat itu mengajarkan pentingnya jihad melawan hawa nafsu bukan jihad dengan perang.

Oleh karena itu, menurut penulis, model pendidikan pesantren rasanya lebih membuktikan untuk berhasil dalam mencetak remaja atau santri yang shalih dan berakhlak mulia. Sejatinya, pendidikan dalam pesantren memiliki tujuan-tujuan yang berisikan tiga aspek yaitu: iman, ilmu, dan amal. Dengan pendidikan yang diperoleh remaja melalui pesantren maka mereka pasti sudah bisa berfikir rasional dan membedakan hal yang baik dan buruk. Jelasnya, remaja lulusan pesantren akan cenderung berbuat yang positif sesuai ajaran islam. Ketika tindakan baik sesuai ajaran islam sudah menjadi kebiasaan, maka penyimpangan perilaku atau kenakalan remaja pasti terelakan.

0 Response to "Pesantren, Solusi Kenakalan Remaja"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel