Semangat PMII

Minggu pagi yang seperti biasa. Aku bangun dari tidur meski baru saja tertidur. Mataku masih tak kuat menahan lelahnya. Badan ini juga terasa sangat berat untuk digerakkan. Tapi, aku langsung melihatnya, tepat didepan mataku sebuah benda keras, bulat, dan berisi jarum hitam penentu jadwalku.

"Jam 05.28 pagi, ahh.., molor lagi aku", ucapku yang masih mengantuk.

Aku baru saja tertidur sekitar pukul setengah empat pagi tadi. Aku tak tahu apa penyebabku sampai insomnia. Dari jam dua malam, aku sudah berusaha memejamkan mata, dibantu dengan lantunan musik nan merdu karya The Temper Trap tapi tetap saja tak bisa tertidur. Justru otakku semakin berimajinasi.

Aku mencobanya kembali dengan menonton sebuah film. Film yang belum sempat aku tonton hingga selesai, Jagal-The Act of Killing. Film yang kuharap mampu menambah rasa kantukku justru membuatku tambah melek. Bagaimana tidak, film dokumenter yang merekam secara terang-terangan cerita kekejaman para Algojo (eksekutor/pembunuh) kaum PKI masa itu dengan bangga memperagakan langsung tentang aksi kejamnya tersebut. Lagi, aku tak bisa tertidur.

Sudah dua cara kulakukan. Dua cara yang tak mampu membantuku untuk memperoleh rasa kantuk agar mudah tertidur. Lantas, diwaktu yang semakin pagi itu, aku malah merasa lapar. Aku pun pergi ke dapur untuk memasak Nasi Goreng. Kulirik jam dinding ternyata masih jam tiga pagi. Hingga aku selesai memasak, kunikmatilah sepiring karyaku itu yang rasanya terlalu asin dan pedas sampai habis. Dan sebab itulah, rasa kantuk semakin meraja di tubuhku. Hingga akhirnya, aku tertidur.

Insomnia atau memang sudah kebiasaan. Aku tak bisa membedakannya. Kadang memang susah untuk tertidur meski mulai dari jam sepuluh malam aku sudah mencobanya. Kadang juga memang sudah kebiasaan bagiku yang membuat suatu karya tulis di malam hari. Aku memang menyukai ketenangan atau keheningan malam, karena tak ada yang bisa menganggu pikiranku saat itu juga.

"Bangun, Nak. Buruan Subuhan," teriak Ibuku dari belakang rumah. Ia sedang memasak nasi di Luweng—Kompor Tradisional, sebab LPG baru saja habis olehku semalam.

"Yo, maaaak," teriakku yang menandakan aku telah terbangun. Aku bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan ibadah wajib itu.

Seusai solat Subuh, aku kembali ke kamar. Mencarinya, sahabatku. Sahabat yang mampu memberikan apapun untukku, menghibur dan membantu segalanya. Dialah yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang saat ini. Dia, Smartphone.

Kubuka lockscreen dan kunonaktifkan Flight Mode. Tiba-tiba bergetar, lampu notifikasi menyala hijau.

"Siapa SMS?" tanyaku agak heran.

Dan ternyata Wuri, sahabat seperjuanganku di PMII. Kubaca pesan itu, "Assalamualaikum, diberitahukan kepada sahabat-sahabat PGMI dan PGRA bahwasannya besok jam 1 di Taman KI Hajar akan diadakan follup mengenai MAPABA yang akan diisi langsung oleh senior kita yaitu sahabat Tedi Hilmawan. Diharapkan kepada semua sahabat-sahabat baik SC maupun OC untuk bisa hadir tanpa terkecuali. Terimakasih sebelumnya, tetap semangat di jaga kesehatannya 'Tangan Terkepal dan Maju Kemuka'."

"Kak Tedi? Senior PGMI sekaligus Wartawan Simaknews.com, seru nih bakal dapet cerita banyak pastinya," batinku berkata demikian. Sebab itu, aku tak akan lupa untuk menghadirinya.

***

Pasca sms itu, rasanya ada kebahagiaan tersendiri. Sebab, hari mingguku akan berbeda dari biasanya. Meski di pagi hari aku tetap menjalani rutinitas wajibku—layaknya ibu-ibu: cuci baju, cuci piring, menyapu dan mengepel lantai, kadang harus belanja sayuran juga ke warung. Dan di minggu siang yang biasanya aku pergunakan untuk bermain dengan komputer (Game Online) atau Pes 2016 (PS3), kini aku ganti dengan follup, itulah yang menjadi pembedanya.

Minggu pagi adalah waktu bagiku bertransformasi menjadi sosok ibu-ibu, tapi hanya dalam waktu dua jam saja. Semua rutinitas keibuan itu selesai saat jam telah menunjukan pukul sepuluh lewat. Maka aku punya waktu tiga jam untuk menunggu jam satu siang.

"Lanjut nonton Jagal? Males. Baca buku? Males juga. Ngapain ya? Tidur lagi aja kali enaknya. Tapi, ntar kebablasan," pikiranku bingung.

Aku membuka beberapa file video yang terkumpul dalam folder ceramah. Kutemukan, video ceramah KH. Said Aqil Siradj. Meski sudah pernah melihat dan mendengarnya, tapi tetap saja ada rasa ingin mengulanginya.

Jujur saja, aku mengagumi sosok KH. Said Aqil Siradj. Beliau adalah salah satu tokoh Muslim yang sangat berpengaruh di dunia, dan selalu berada di peringkat 20 besar kebawah. Caranya ketika berceramah yang dicampuri dengan bahasa lucu, juga pengetahuannya tentang NU sampai fasih membuatku betah menonton videonya terus-menerus. Misalnya, ia mengetahui bahkan hafal sejarah/sanat/silsilah NU mulai dari Ilmu Allah swt yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada nabi Muhammad saw, hingga kepada Abu Hasan al-Asy’ari (Bapak Ahlussunnah wal jama'ah) sampai ke KH. Hasyim Asy’ari (Bapak NU), beliau paham runtut siapa guru-gurunya dan apa kitab-kitabnya.

Aku pun memutar kembali ceramahnya yang berjudul "Belajar Islam Harus Up to Date". Ada banyak pesan yang mampu aku pahami, salah satunya adalah cara memahami Alquran dan Hadits itu tak boleh secara textual saja, harus dengan pendekatan lain, misalnya pendekatan historis. Adapun pesan lain yang bagiku sangat bermanfaat, mungkin bukan aku saja tapi untuk semua sahabat PMII ku, "Kalimat akhir, atau kalimat penutup yang menjadi khas bagi kalangan NU (terutama juga PMII), 'Wallahul Muwafieq Ilaa Aqwamith Thorieq' sejarah pertamanya diusulkan ke KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat pertama kali menjabat ketua PBNU di tahun 1984 oleh KH. Ahmad Abdul Hamid, dari Kendal, Jawa Tengah. Menurut KH. Ahmad Abdul Hamid, NU harus punya ciri khas, karena 'Wabillahi Taufiq Walhidayah' sudah digunakan oleh banyak kalangan."

***

Tiba-tiba terdengar suara gedoran pintu kamarku yang masih terkunci. Awalnya aku tak tahu, karena aku sedang mendengarkan ceramah lewat Earphone. Kulepas benda yang mengganjal ditelingaku itu dan segera kubuka pintu.

"Nak, telpon Bulek Sri. Masih gratisan to kartumu?" ucap ibuku seletah kubukakan pintu kamar.

"Hoalah, Mak. Kukira sopo, iyo masih iki," jawabku santai.

"Katanya, mau pergi jam 1? Jadi?" tanya ibuku memastikan.

"Jadi, Mak. Masih ada waktu lebih dari setengah jam lagi," tegasku. Aku berjalan keluar kamar dan duduk di kursi tamu sembari menunggu telfonku dianggkat. Ibuku mengikuti.

"Aktif?" tanya ibuku keheranan karena tak ada tanda kata 'Halo' dariku.

"Aktif, Mak. Nggak diangkat tapi," kutelfon kembali dan tetap saja tak ada respon.

"Kalo nggak bisa yasudah, gppa," kata ibuku sembari mengibaskan rambutnya yang habis di shampoo.

Aku masih teringat, dengan film Jagal (The Act of Killing) yang kutonton pagi atau dini hari tadi. Film yang menceritakan sisi lain dari G30S/PKI. Kupikir, ibuku yang lahir di tahun 1967 pasti mengetahui kejelasan cerita PKI itu. Paling tidak, ia mendengarnya langsung dari kakek/nenekku atau orang-orang seumuran kakek/nenekku kala itu.

"Mak, ngerti PKI?" tanyaku membuka diskusi.

"Komunis? Itu yang membantai para Jenderal. Musuh negara," Ibu nyeplos menjawab dengan santai saja.

"Mamak ngerti, kalau PKI itu dibantai dengan sadis oleh para preman dan pembunuh yang 'disuruh'?" tanyaku memancing pemahamannya lebih jauh.

"Apa iya? Lhaa, ya balasan yang pas. Dulu, ibu ditontonkan film Janur Kuning dan Pemberontakan G30S/PKI, PKI itu juga kejam," masih dengan santainya menjawab sembari menyisir rambutnya.

"Tapi, Mak. Ada yang bilang, Soeharto-lah dalang tragedi itu dan yang bertanggung jawab atas pembantaian keji PKI. Pokoknya sadis lah, Mak. Ada jutaan orang PKI dihabisi. Dan dibalik tragedi itu, Soeharto memanfaatkannya untuk melengserkan Soekarno. Akhirnya, Soeharto jadi presiden," tegasku.

"Laaahh.., yowes ben. Sekarang itu sudah zamannya Indonesia yang damai. Pak Soeharto, walaupun Presiden paling lama, 32 Tahun, sekarang juga sudah ganti Jokowi" sahutnya.

"Setidaknya kita tahu keberanan sejarah, Mak. Kalau tentang masa Soeharto itu, 'Pie enak zamanku to? kebanyakan tulisan kan begitu, Mak. Memang beneran enak yo, Mak? Hhaa..," ucapku kemudian tertawa. Ibuku pun ikut tertawa.

"Enak, pak Gus Dur, Nak," tegasnya kemudian berdiri dari duduknya.

"Hhaa..., ohh iyo, Mak. Gus Dur pernah bilang, meski Amien Rais dan Megawati dikatakan bertanggung jawab atas dilengserkannya beliau dari jabatan Presiden, Gus Dur tak pernah menganggapnya sebagai musuh, sebab musuh dalam hal kepemimpinannya di Indonesia itu cuma satu, pak Soeharto," tegasku yang juga ikut berdiri.

"Yowes, jam 1 ini. Katanya mau pergi," ucapnya kemudian meninggalkan ruang tamu. Aku pun bersiap untuk pergi menepati janjiku.

***

"Pada dimana, Sahabat?" pesan BBM dari Anisa lewat Grup Diskusi MAPABA ini membuatku bergerak  semakin cepat.

Kubalas singkat dengan tiga huruf, "OTW".

Segeralah aku berangkat menuju tempat yang sama seperti agenda Nobar kemarin, Taman KI Hajar Dewantara. Letaknya tak jauh dari kampusku. Hanya berjalan lebih dari 100 langkah saja ke arah timur pasti sampai ke lokasi. Tapi sayangnya, aku mengawali dari rumahku di 28 Purwosari. Maka aku gunakan sepeda motor.

Aku berangkat bersama sahabat sekelas dan seorganisasiku di PMII, Anwar. Setibanya dilokasi aku terkejut. Bukan karena cantiknya Nia atau Anisa, bukan karena semakin langsingnya tubuh si Devi dan May, apalagi gendutnya Okta dan Ade. Tapi, serempaknya mereka menggunakan jilbab Pink.

"Ini, pada janjian opo? Pakai pink semua. Untung aku nggak pakai seragam prodi yang Pink itu. Bisa jadi Pinkyboy dah. Hhaa," ucapku sambil tertawa.

"Helleh.., bukao bajumu daleme pasti Pink," sahut Devi.

"Untumu kui, Dev," ucapku membuat Anwar tertawa.

Masih jam 1 lewat sedikit, kami masih menunggu beberapa sahabat yang dalam perjalanan datang. Aku pun melihat ke sekeliling, mencoba mencari keindahan dari sisi-sisi taman. Tapi, justru mataku tertuju pada sebuah sungai yang terletak dibelakangnya. Bukan aliran airnya yang deras dan dipenuhi ikan-ikan segar berenang, tapi tumpukan sampah plastik yang menimbun, dan terlalu banyak. Sungguh pemandangan yang tak baik untuk dilihat.

Saat aku sedang fokus membaca tulisan pak Dharma Setiawan (judul: Sekolahku, Sekolah Anda, Sekolah Kita), tiba-tiba Nia menyodorkan benda berwarna pink, bergambar menara Eifel yang terkesan Romantis.

"Nih, untuk pak Ketuplak," ucapnya penuh senyum sambil memberikan benda itu.

"Waaahhh..,, ternyataaaa..., bukan STAIN aja yang alih status, Mbak Chupyd juga nih. Hhaa. 18 September 2016 resmi alih status dari jomblonya," sontak semua langsung tertawa.

Tak lama kemudian, Temu, Mifta, dan Isna datang. Lalu Anisa mengatakan, "Kak Tedi sudah OTW".

Beberapa sahabat telah terkumpul. Ada Aku, Anwar, Devi, Luluk, Anisa, Temu, Mifta, Okta, Wuri, Ade, Putri, Isna, dan Anisa. Hanya ini, dan akhirnya kak Tedi pun datang. Acara follup pun langsung dimulai. Telat beberapa menit setelah itu Risqi menyusul datang. Sebelumnya kak Tedi sedikit menyesal karena ketua Rayon, Bayu, tak bisa hadir. Tapi kemudian ia memaklumi.

Follup yang menurutku lebih tepat dibilang "Sharing and Motivation", sebab kak Tedi  memberikan banyak pengalamannya yang sangat menginspirasi. Dan beberapa saran darinya untuk pengurus Rayon maupun anggota Rayon yang membuat kami semangat ber-PMII.

Misal pengalaman follupnya yang di ceritakan, "Dulu saya berpikir begini, pokoknya follup kedepan harus dapet ilmu ini, kalau Rayon nggak mefasilitasi saya, saya bakal gerak sendiri. Saya begitu, sampai pengurus Rayon waktu itu keteteran. Misalnya, dulu saya minta diajari mimpin yasinan di semester 3, karena saya ketahuan ikut PMII sama bapak saya. Dipertanyakan Islam Aswajanya, saya disuruh mimpin yasinan dan waktu itu belum bisa. Belajar 2x pertemuan dan akhirnya saya pun bisa."

Kemudian kak Tedi juga bertanya tentang buku-buku yang sering dibaca dirumah, film yang sering di tonton dan musik yang sering di dengarkan. Sebab ketiga hal ini adalah faktor terjadinya suatu pergerakan. Kalau secara pribadi, jelas aku menyukai film-film sejarah dan dokumenter. Seperti the Kingdom of Solomon, Kingdom of Heaven, Sang Kiai, Sang Pencerah, Soekarno, Host Tjokroaminoto, Jenderal Soedirman, dan beberapa garapan Watchdoc Documentary serta masih banyak lagi. Tapi, kali ini aku masih terlalu suka dengan Laskar Pelangi, dari film, Novel, bahkan soundtracknya. Meski karya lama, bagiku ini sangat dibutuhkan, terutama inspirasinya "Menjadi Guru yang benar-benar Pahlawan, layaknya Bu Muslimah dalam Laskar Pelangi". Bahkan dalam pembuatan tulisan ini yang memakan waktu lebih dari dua jam, lagu Laskar Pelangi yang dinyanyikan Nidji menemaniku berulang kali.

Untuk menciptakan suatu perubahan, kak Tedi bilang, "Perubahan itu ya dari kalian (semester 3). Kalian harusnya merepotkan pengurus Rayon, bilang aja ke Nia, Anisa, Okta, Wuri atau ke Ketua Rayon. 'Dulu saya diajak ke PMII oleh kalian, tanggung jawab dong, kasih saya ilmu yang banyak'."

Kak Tedi juga menyarankan solusi untuk permasalahan Rayon, "Selesaikanlah dengan Analisis SWOT. Dicaritahu apa lemahnya, apa kelebihannya, lalu apa keinginannya. Gunakan ini saja pasti ketemu solusinya."

Adapun saran kak Tedi untuk agenda follup, "Kalau bingung mau di isi materi apa, kasih aja setiap sahabat-sahabatnya satu film. Biar ditonton dulu, besok pas follup baru ceritakan film itu. Kemudian ambil dari film itu sisi materinya, dan disampaikan untuk pergerakan."

Bahkan lanjutnya, "Saya siap memberi jaringan relasi ke kalian, jika PGMI punya karya. Saya siap mencarikan pemateri yang hebat sekalipun. Itupun kalau kalian mau, kalau tidak yang nggak apa."

Pokoknya banyak sekali pesan dari kak Tedi teruntuk Rayon yang tak bisa ku ingat secara pasti. Tapi dari banyaknya itu, ada satu pesan yang menurutku sangat menginspirasi, "Kalian, meskipun punya nilai IP 4, usahakan jangan hanya berharap bakal jadi Guru, kemudian PNS. Milikilah harapan yang besar, dan jangan sampai kalian mengasumsikan harapan itu dengan 'saya tidak bisa mencapainya', kalau seperti itu hidup kalian bakal mengalir aja, kurang gebrakan. Sebab harapan besar itu menentukan pergerakan kita untuk lebih dan lebih lagi. Misalnya saya yang ingin jadi Menteri Pendidikan, setiap harinya saya bergerak mengejar harapan itu."

Kalimat yang hampir sama diucapkan oleh Guru Kimiaku semasa SMA dulu, bu Tri Endah, "Kalian harus punya cita-cita yang tinggi, kejar terus cita-cita itu. Kelak, meskipun kalian tak sampai pada ketinggian (cita-cita) itu, kalian pasti jatuh tak jauh darinya."

Hingga tak terasa, waktu semakin sore dan langit telah mendung. Hembusan angin yang kencang menerpa pepohonan di area taman membuat daun-daun bergemuruh. Kulihat jam, sudah lewat pukul tiga sore. Kak Tedi yang menyadari ini langsung mengakhiri ucapannya.

Tak lupa, sebelum kami bubar dan pergi meninggalkan lokasi masing-masing. Sesi foto bareng menjadi ritual terakhir yang paling seru bagi kami.

Begitulah hari mingguku yang sedikit berbeda dari biasanya. Aku bertemu mereka, sahabat-sahabat seperjuangan yang selalu mampu memberi kisah baru dan semangat pergerakan, yang mengajarkanku dengan kalimat, "Tangan terkepal dan maju kemuka."

Tetap semangat!!!
___
Metro, 04 September 2016
#PMII
#PGMI
#PGRA
#IAIN_METRO
#sandallll
*Fotonya menyusul

0 Response to "Semangat PMII"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel