Hadiah Paling Berharga untuk Ali

Oleh: Ahmad Mustaqim Mahasiswa IAIN METRO

Sabtu yang cerah. Ali tampak begitu riang. Bagaimana tidak, hari ini ia mendapat ranking pertama di sekolah. Seminggu yang lalu, Ibu telah berjanji akan mengajaknya ke toko buku dan membelikan buku baru sebagai hadiah jika Ali ranking pertama.

Esok harinya, Ibu, Ayah, dan Ali sudah bersiap pergi ke toko buku di pusat kota. Sebab hanya di pusat kota yang terdapat toko buku terbesar dan terlengkap. Mereka berangkat dengan mengendarai mobil. Perjalanan menuju toko buku itu memakan waktu sekitar satu jam.

“Bu, nanti Ali pengen baca-baca buku dulu. Boleh, ya? Terus, belikan komik Naruto, ya, Bu?” pinta Ali penuh semangat. Ali memang gemar membaca, menyukai komik dan juga cerita-cerita sejarah.

“Iya, boleh, Nak. Nanti ibu belikan komik plus bonus buku lagi. Tapi, Ibu yang pilih,” ucap Ibu.

“Hore, Ali bakal punya banyak buku baru,” teriak Ali bahagia.

Sesampainya di toko buku, Ayah, Ibu, dan Ali langsung masuk dan disambut dengan baik oleh penjaga toko. Saat tiba di dalam toko, mata Ali langsung tak berkedip melihat aneka buku. Ada buku kumpulan kisah Pahlawan Indonesia, kisah para Nabi dan Rasul, dan berbagai komik yang belum pernah ia baca.

Namun ada satu buku yang membuat Ali mendelik penasaran. Buku yang tebal dan berjudul “Menjadi Manusia yang Baik”.

“Bu, memangnya menjadi manusia yang baik itu susah ya?” tanya Ali sambil menunjuk buku tebal itu.

“Nggak susah, Nak,” jawab Ibu santai. Tak panjang lebar Ibu menjelaskan, Ali langsung pindah ke kumpulan buku komik. Di sana ia senang dan mulai membaca beberapa komik yang memang sudah disediakan untuk dibaca. Tak ketinggalan Ayah dan Ibunya juga membaca buku yang lain.

Setelah hampir dua jam, Ali sekeluarga berkeliling dan membaca buku di sana. Waktu telah menunjukkan pukul 11.40. Ayah yang mulai merasa lapar mengajak mereka untuk makan siang. Ibu menyarankan agar Ali segera memilih buku-buku yang akan dibeli. Ali yang merasa belum puas membaca langsung mengerutkan wajahnya.

“Ali belum selesai baca ini, Bu,” ia mengeluh.

“Yasudah, buku itu dibeli saja, Nak. Ayah sudah lelah dan lapar. Ayah nanti malam banyak kerjaan lembur. Jadi nggak boleh terlalu capek. Setelah ini Ibu mau ajak kamu ke toko buku lagi. Ali, nggak inget tadi ibu bilang bonus?” bujuk Ibu.

Ali pun mengangguk cepat. Mengambil tiga komik dan satu buku kumpulan kisah Pahlawan Indonesia.

Mereka bertiga segera beranjak keluar toko buku. Ali mulai menampilkan senyum bahagianya, membayangkan bonus buku yang akan dibelikan ibunya nanti.

Sesuai rencana awal, mereka mampir dulu untuk makan siang. Tepat di depan warung nasi goreng Pak Karno, mobil ayah berhenti dan parkir ditempat yang disediakan. Ibu memesan tiga porsi nasi goreng pedas beserta jus mangga. Namun ayah memilih jus jeruk.

Di sela makan siang, tiba-tiba datang wanita tua menghampiri mereka. Penampilannya kusam dan kusut, wanita itu tak lain adalah pengemis.

“Pak, Bu, kasih saya sedikit makanan. Saya belum makan hari ini,” pinta pengemis itu.

“Mas, tolong pesan satu lagi nasi goreng sama jus jeruknya, ya. Dibungkus, Mas,” tiba-tiba ibu pergi dari meja makan dan memesan lagi.

Ali yang sedang menikmati makan siangnya, sejenak terhenti dan melihat pengemis itu. “Yah, Ali kasihan dengannya,” bisik Ali setelah menelan makanannya.

“Ali, berikan ini padanya. Jangan lupa ucapkan, 'Nek, ini rezeki dari kami semoga bermanfaat',” suruh Ibu pada Ali.

Ali pun segera memberikan makanan dan minuman itu pada pengemis. “Terimakasih, Nak. Semoga semua yang kau cita-citakan tercapai dengan mudah,” ucap pengemis.

“Aamiin, Nek, terimakasih kembali doanya,” balas Ali dengan senyum.

Setelah setengah jam bersantai dan menikmati makan siang, mereka melanjutkan perjalanan ke toko buku selanjutnya. Namun, saat itu bertepatan dengan waktu dzuhur. Adzan sudah berkumandang. Akhirnya mereka sempatkan untuk shalat berjamah di masjid terdekat.

“Nak, kita shalat dulu, ya? Nanti kita lanjut lagi, yang penting shalat dulu,” ajak ibu pada Ali.

“Iya, Bu. Guru Ali juga pernah bilang utamakanlah shalat,” sahut Ali.

Bergegas mereka menuju tempat wudhu kemudian shalat. Setelah salam, Ali dengan segera masuk kembali ke mobil. Ia hendak membaca kembali komik tadi sembari menunggu ayah dan ibunya selesai berdoa. Namun, di sela membaca buku, ia melihat tiga bocah seumurannya sedang memilih-milih sendal bagus.

“Wahh, mereka mau mencuri tuh,” ucap Ali di dalam mobil. Tapi apa daya, mereka yang badannya lebih besar membuat Ali takut dan hanya bisa diam saja di dalam mobil.

Beberapa menit berlalu, ayah dan ibu datang ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Di sela perjalan itu Ali menceritakan kejadian yang ia lihat di masjid tadi. Dengan jujur Ali merasa benci pada kelakuan tiga bocah itu. Namun, ibu yang mengetahui anaknya masih kecil kelas empat SD memberi nasihat untuk terus mengajarkan berbagai kebaikan.

“Itu, tindakan yang kurang baik, tidak boleh ditiru. Ingat, Nak, disekolahkan itu agar menjadi manusia yang baik, kalau sudah sekolah tapi tetap mencuri, berarti selama sekolah tidak pernah belajar,” nasihat ibu pada Ali.

“Bu, kenapa tadi ibu nggak membelikan Ali buku tebal itu? Supaya Ali menjadi manusia yang baik, Bu,” tanya Ali penasaran.

“Naah, itu yang akan ibu bonuskan untukmu,” sembari menunjuk lokasi toko buku yang kudua.

Mereka sudah sampai. Ayah memilih menunggu di mobil, sementara Ibu dan Ali berjalan memasuki toko buku kedua yang mereka kunjungi.

“Ibu, mau membelikan aku buku apa?” begitu penasarannya Ali bertanya.

“Ini, Nak, “Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari,” ucap Ibu sambil tersenyum ke arah Ali.

“Huft, kenapa ibu tak belikan Ali komik saja,” Ali ngambek karena bonus yang ia bayangkan tak sesuai.

“Ibu, sudah belikan komik juga di toko pertama tadi. Ini, komik tokoh pewayangan, Nak. Ibu sengaja tak bilang. Jadi dua buku ini bonus untuk Ali. Yuk, kembali ke mobil dan kita pulang,” ajak ibu.

Ali langsung mengangguk dan senyum bahagia. Ia mendapatkan dua bonus buku dari Ibunya. Setibanya di mobil, Ali masih bingung. Kenapa ibunya membelikan buku “Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari.”

“Bu, kenapa Ali dibelikan buku ini?” tanya Ali yang masih penasaran.

“Ali, ingin jadi manusia yang baik kan?”

“Iya, memangnya buku ini bisa mengajari Ali untuk menjadi manusia yang baik?”

“Bisa, Nak. Disekolah Ali diajarkan Pancasila dan hafal Pancasila Kan?
“Iya, Bu”

“Naah, Pancasila selain sebagai lambang negara Indonesia. Pancasila juga mengajarkan warga negaranya untuk menjadi manusia yang baik, untuk agama maupun negara.”

“Seperti apa, Bu?”

“Seperti Ali shalat tadi, sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang beragama.  Dan agama mengajarkan manusia untuk menjadi lebih baik. Sila kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengajarkan kita untuk berperilaku baik, adil dan bedarab. Seperti Ali membantu nenek pengemis tadi, bukan seperti para pencuri sendal di masjid. Paham, kan, Nak?” tanya ibu menegaskan. Ali hanya terdiam dan mengangguk.

“Sila ketiga mengajarkan kita untuk saling bersatu apapun perbedaannya, menghargai perbedaan sehingga damai antar warga negara. Sila keempat dan kelima mengajarkan kita untuk menjadi pemimpin yang baik. Pemimpin yang dipercaya, jujur dan adil. Jangan seperti pemimpin ini, ya, Nak,” lanjut ibu sembari menunjuk berita kasus korupsi dari koran di dalam mobil.

“Berarti, Ali harus bisa menjalankan perintah Pancasila supaya menjadi manusia yang baik?” tanya Ali memastikan.

“Iya, Benar. Ali akan menjadi manusia yang baik bagi bangsa, negara dan agama. Tadi, Ali di doakan sama nenek pengemis supaya cita-citanya dimudahkan. Hayo, cita-cita Ali apa?”

“Aku mau jadi Presiden. Karena nanti bisa membantu banyak warga negara yang kesulitan, tentu Ali juga akan menjadi manusia yang dikenang sejarah. Tentunya menjadi Presiden yang bisa hidup berpancasila, seperti nasihat, Ibu” ucapnya dengan ceria.

“Aamiin, Ya Rabbal alamin.” balas Ibu sambil memeluk Ali.

Tak terasa waktu terus berlalu. Akhirnya mereka sampai dirumah. Ali, bergegas masuk kamar. Sedangkan, Ayah masih di mobil merapikan interior dan ibu pergi ke dapur.

***

Betapa bahagianya Ali hari ini. Berkeliling toko buku, membeli buku, dan bonus buku serta mendapat banyak sekali nasihat dari Ibunya. Bagi Ali, bukan hanya buku itu saja yang menjadi hadiah paling berharga. Tapi, semua kejadian dan nasihat ibunya, itulah hadiah yang sebenarnya.

Kini, setiap hari Ali selalu berusaha mengamalkan nilai-nilai Pancasila yang diajarkan dari buku bonus pemberian ibunya. Ali sadar, cita-citanya menjadi Presiden tidak akan berguna ketika ia tidak bisa menjadi manusia yang baik.

Dengan sebuah karton dan spidol, Ali menuliskan harapan “Aku manusia yang baik dan aku taat pada Pancasila”. Tulisan ini tertempel tepat dibelakang pintu kamarnya.

0 Response to "Hadiah Paling Berharga untuk Ali "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel