Rehan Teguh

Bakri sangat kesal. Meskipun ia sudah diterima sebagai mahasiswa baru di kampus swasta dikotanya. Sebab, semua rencana dan keinginannya yang sudah diatur sedemikian rapi gagal total.

Sudah ia ikuti semua jalur test sesuai dengan kampus dan jurusan yang diminati. Dari SNMPTN, SBMPTN sampai Ujian Mandiri PTN. Tapi, tak ada satu pun yang lulus. Karena itu, demi menjaga asa kuliah ia mendaftar di PTS dan akhirnya diterima.

Padahal, Bakri sudah berusaha dengan maksimal. Ia rajin belajar hingga larut malam, ikut dalam lembaga Bimbel (Bimbingan Belajar), bahkan sering bangun tengah malam berdoa kepada Sang Pencipta. Di lembaga Bimbel pun grafik hasil Try Out nya selalu naik signifikan.

"Haaa.., rasanya masih kesal aja kalo kepikiran ceritaku sampai bisa ngampus disini, gogal-gagal terus," ucap Bakri kesal ketika istirahat Ospek di teras masjid kampus.

"Sama aja, Kri. Dulu aku juga begitu. Malah harus berhenti setahun," sahut Rehan.

"Berarti kamu lebih tua dari aku, Han?" tanya Bakri agak kaget. "Trus, selama setahun ngapain aja tuh? Nggak bosan apa nganggur?"

Rehan merengut dikatakan tua, "Ya, beda setahun doang. Kalau nganggur aja jelas bosan lah, Kri. Tapi, waktu setahun itu aku gunakan untuk tetap belajar, ikut-ikut kursus gratis gitu lah pokoknya."

"Kok, sekarang milih ngampus disini? Kenapa nggak yang hebat sekalian, ITB, IPB, UGM, UI, atau ITS. Waktu setahun kan bisa untuk belajar sampai perfect," Bakri nyeplos sekenanya sambil membaringkan badannya yang lelah.

"Wuuh.., pengen banget deh disana. Tapi, biasalah keluargaku takut sama biaya," tegas Rehan sambil tersenyum. "Masuk disini aja sudah Alhamdulillah."

"Haiih., kalau saja bukan tuntutan orang tua dan takut nganggur setahun kaya kamu dulu, males aku ngampus disini," tegas Bakri yang masih kesal.

"Bakri..., Bakri..., kamu tuh harusnya sadar." Rehan menggelengkan kepalanya.

"Sadar gimana maksudnya?" tanya Bakri penasaran, menoleh ke arah Rehan dengan mata serius.

"Bayangkan aja deh, kamu masuk disini tuh lewat seleksi. Ada orang-orang yang kamu geser. Kalau salah satunya adalah orang yang pengen banget masuk di kampus ini, apa kamu nggak kasihan?" tegas Rehan.

"Ya, kasihan sih. Tapi, Han, ini kampus bahkan jurusannya aja nggak sesuai sama keinginanku. Susah menjalaninya. Dan bakal jadi apa coba aku nantinya?"

"Hoalah, Bakri. Sekarang gini deh, kamu kuliah tujuannya untuk apa?"

"Ya yang jelas belajar, Han. Dapat ilmu, jadi pintar, nilai gede, dapat ijazah, daftar kerja, diterima, gajinya banyak dan sukses. Satu lagi, nyari jodoh juga," Bakri mengatakannya sambil nyengir.

"Hadeehh.., ya, memang benar, Kri. Tapi, ada tujuan yang lebih sederhana bahkan penting dari itu semua."

"Apa, tuh?" Bakri penasaran.

"Menjadi Pemberani." tegas Rehan.

"Pemberani?" tanya Bakri jadi heran.

"Iya, untuk apa kamu sekolah atau belajar sampai tinggi tapi masih jadi penakut. Kaya sekarang ini, kamu masuk di kampus Swasta. Belum apa-apa sudah was-was atau takut nggak sukses karena faktor jurusan yang berbeda dengan keinginanmu."

"Tapi, kampus - kampus hebat itu lebih menjamin nantinya untuk mudah mendapatkan pekerjaan." tegas Bakri yang masih ngotot.

"Hmm.., balik ke Pemberani tadi. Kamu yakin, kampus bisa menjamin? Kalau menurutku Individunya yang lebih dominan menentukan. Orang cerdas itu bisa belajar dimana aja dan banyak dibutuhkan, karena dia punya metode belajar yang nyaman untuk dirinya sendiri. Jadilah pemberani, ketika mimpi atau cita-citamu tinggi, jangan pernah takut dengan rintangannya. Untuk mudah mencari pekerjaan? Bukankah teman atau relasi itu lebih punya pengaruh, maka beranikanlah dekat dengan orang - orang yang penting dalam pekerjaan itu. Misalnya dengan ikut UKM atau organisasi luar kampus, kita bakal punya banyak kenalan, dan disana kita bisa melatih soft skill yang jarang didapatkan dari kelas. Masalah jurusan, sudah banyak kasus, Kri, orang sukses bekerja padahal tak sesuai dengan jurusan selama dia kuliah." tegas Rehan menceramahi.

"Jadi maksudmu, kuliah itu belajar untuk menjadi pribadi yang pemberani. Berani bertindak dan siap menerima resiko. Begitu?" Bakri memastikan.

"Tepat sekali. Nilai akademik pun juga penting, untuk mendapat nilai  yang bagus pun harus dengan berani. Berani aktif dikelas misalnya, tak jarang kan ada mahasiswa yang hanya mlongo diam saja. Entah, itu diam paham atau blong kosong. Tapi, berani itu bukan berarti nekad ya!" tegas Rehan.

"Super sekali pak, Rehan Teguh," ucap Bakri kemudian tertawa. "Rasanya, kamu harus jadi motivatorku terus, Han."

"Saling motivasi aja kita, Kri. Oh, iya, kata ibuku, Mahasiswa itu udah nggak zaman lagi ikut-ikutan arus, harus punya pendirian. Awas aja ada arus teman yang nggak baik buatmu. Biar tambah termotivasi, tonton tuh pesan pak Anies Baswedan untuk mahasiswa baru di Youtube," ucap Rehan sambil menepuk pundak Bakri.

Bakri yang sedang duduk memakai sepatu pantopelnya menjawab, "Oke, pak Teguh. Hasil tak akan pernah membohongi usaha. Kita harus berusaha menjadi mahasiswa super baik, hebat dan berani."

"Siap...! Kita sudah 30 menit istirahat. Waktunya kembali ke GSG," Rehan berjalan perlahan meninggalkan Bakri.

___
#Cerpen
#Motivasi
#Mahasiswa

0 Response to "Rehan Teguh "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel