Peran Orang tua bagi Pendidikan Anak

Oleh: Ahmad Mustaqim
Mahasiswa PGMI STAIN Jurai Siwo Metro

Pendidikan adalah hal terbesar yang paling diutamakan di Indonesia. Saat ini masyarakat semakin sadar betapa pentingnya sebuah pendidikan, tak terkecuali para orang tua. Orang tua berlomba memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Anak-anak disekolahkan secara formal yang tinggi agar menjadi manusia berpengetahuan baik, kemudian berprestasi, lalu mudah mendapatkan pekerjaan dan sukses. Disinilah orang tua merasa bangga dan merasa pendidikan yang diberikan untuk anaknya telah berhasil.

Terlepas dari itu, terkadang orang tua lupa bahwa dirinya adalah pendidikan yang utama dan pertama bagi anak. orang tua sering memasrahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah. Pendidikan seorang anak sejatinya dimulai dari pendidikan orang tua di rumah, karena orang tua bertanggung jawab terhadap masa depan anak-anak meraka, sekolah hanyalah sebuah lembaga yang membantu proses tersebut.

Keluarga sebagai Lembaga Pendidikan Pertama
Dalam UU No. 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual kegamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan pertama kali untuk anak ditanamkan bukan ketika mereka masuk di sekolah, melainkan ada pada keluarganya. Maka dari itu pendidikan pada keluarga sangat berperan penting dalam membentuk anak sebagai generasi emas. Sebuah generasi yang manusianya berkarakter baik, kuat, produktif, cerdas, dan solutif.

Generasi emas adalah anak didik yang diharapkan menjadi penerus bangsa ini. Semua itu ditentukan dari bagaimana orang tua memberi kualitas pola asuh pendidikan dalam keluarganya. Dalam Islam, telah diajarkan bahwa mendidik dan membimbing anak adalah amanat orang tua yang harus dipertangung jawabkan.

Rasulullah saw bersabda, “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR: Bukhari). Hadits yang menjelaskan bahwa setiap anak memiliki suatu potensi yang bisa dikembangkan secara maksimal tergantung bagaimana orang tua membimbing dan mendidiknya.

Meskipun anak sudah disekolahkan di sekolah yang terbaik, orang tua sangat berperan untuk menentukan karakter anak. apa yang menjadi bawaan sejak di rahim ibu, yang diberikan ibu saat berusia 0-2 tahun, dan yang dilakukan di usia 2-7 tahun, ketiganya sangat mempengaruhi terhadap pembentukan karakter pada anak. Belum lagi segala tindakan orang tua yang bisa dijadikan panutan bagi seorang anak.

Keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama bagi anak jelas memiliki pengaruh dalam perkembangan kepribadian anak. Karena pada keluarga itulah dasar pendidikan moral, pendidikan sosial, dan pendidikan spiritual anak ditanamkan.

Kesalahan Orang tua Dalam Mendidik Anak
Pengaruh orang tua terhadap pendidikan anak mencangkup lima dimensi, yaitu fisik, emosi, kognitif, sosial, dan spritual. Pada bayak kasus, orang tua yang berharap anaknya mampu menjadi manusia hebat dalam berpendidikan sering memaksakan kehendaknya tanpa mengindahkan kemauan anak. orang tua merasa dirinya yang lebih tahu segala yang terbaik untuk anaknya.

Saat anak memiliki impian yang berbeda dari orang tua justru dipaksakan ikut kemauan orang tuanya. Sering orang tua memiliki sifat untuk mewujudkan impian mereka yang tidak dapat mereka raih saat masih muda, kemudian mereka paksakan pada anaknya. Kejadian seperti ini harusnya tidak terjadi jika orang tua paham akan potensi dan bakat yang dimiliki anak mereka. Sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang tua untuk mendukung secara moril dan sarana pada anaknya agar mengembangkan potensi dan bakat mereka.

Kemudian hal yang kurang baik dalam mendidik anak adalah mengajarinya untuk menjadi manusia “manja”. Ketika orang tua telah mempercayai sekolah sebagai lembaga untuk membantu proses masa depan anaknya yang cerah, guru di sekolah yang menjadi wakil dari orang tua di rumah malah tidak lagi dipercayai. Anak dilindungi secara over, guru memberi punishment orang tua langsung menuntut hukum.

Orang tua tak rela anaknya diberi punishment secara fisik oleh guru di sekolah. Sampai mereka menuntut balas kepada guru. Secara tak langsung ini mengajarkan anak menjadi “manja”, di beri hukuman sedikit anak langsung menangis dan mengadu.

Memang orang tua adalah tempat perlindungan bagi anak. Ketika seorang guru memberi hukuman pada anak didiknya di sekolah, sudah pasti karena anak didiknya melakukan sebuah kesalahan. Kalaupun melalui hukuman fisik tentu karena tak bisa lagi di nasehati secara lisan. Orang tua boleh marah saat anaknya diberi hukuman oleh guru, jika hukuman dilakukan secara berlebihan dan dilakukan pada bagian tubuh yang vital.

Oleh karena itu, orang tua harus bertanggung jawab kepada anak untuk membantu meraih cita-citanya, yaitu dengan memotivasi terhadap impian yang hendak dicapainya. Orang tua tak boleh memaksakan kemauannya pada anak, karena potensi dan bakat anak belum tentu sejalan dengan kemauan orang tuanya. “Jangan paksakan anakmu menjadi sepertimu, karena dia diciptakan bukan untuk zamanmu.” (Ali bin Abi Thalib).

#Opini

0 Response to "Peran Orang tua bagi Pendidikan Anak "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel