Nobar PMII

Pagi ini, adalah waktu yang pas bagiku untuk nyibuk. Nyibuk yang sudah menjadi kebiasaan tiap seminggu sekali. Aku duduk di bangku kayu yang pendek dan ditemani teriknya matahari. Memegang satu buah cream kemasan dan kayu kotak kecil berambut keras, merekalah dua sejantaku pagi ini untuk bertempur melawan zona tak nyaman, mereka adalah sabun colek dan sikat cuci. Sudah tertebak, aku nyibuk nyuci. 

Pekerjaan yang tak mudah, hanya mencuci dua puluh pakaian saja rasanya sempoyongan. Tapi, aku selalu menikmati. Dengan sekuat tenaga, aku mengoles cream itu pada pakaian dan memberinya sedikit pijatan sikat agar bersih. Tak ada robot dirumahku (sebut mesin cuci), maka aku harus manual. Dengan ditemani sebuah lagu Laskar Pelangi dari Nidji, rupanya membuatku lupa akan lelahnya permainan ini. Aku duduk, melakukan gerakan ritual layaknya ibu-ibu zaman dulu mencuci tanpa robot. Bedanya, aku hanya mengenakan kolor berlogo Barcelona dibagian atas lutut kanan dan sedikit bernyanyi-nyayi seakan bahagia.

"Nak, ada telfon tuh," kata ibuku sedikit kasar. Sejenak Laskar Pelangi terhenti.

"Sudah, biarkan saja, bu," ucapku spontan tak peduli telfon datang.

Masih jam delapan pagi, jarang ada orang menelfonku sepagi itu, bahkan dua kali. Aku hanya terlalu fokus dengan permainan ini kemudian mengabaikannya.

Setelah satu jam lebih aku bertempur dalam permainan ini. Saat itulah aku membuka smartphone dan melihatnya. Hati penuh harap,

"Semoga 'dia' yang menelfonku, tanda rindu sekian lama tak bertemu," gumamku sekenanya sembari membuka lockscreen.

Kubuka menu panggilan masuk dan kudapati, ternyata bukan 'dia'. Harapan yang salah, rupanya satu kontak yang tersimpan dalam grup yang sama denganku, PGMI Wuri.

"Wellehh.., welleeh..., wes pasti urusan PMII iki," rudal ini muluncurkan kata-kata seketika setelah harapan itu salah. "Biarlah, pasti nanti nelfon lagi."

Dan benar, Wuri menelfonku lagi. Sekitar jam setengah sepuluh pagi.

"Halo.., Assalamualaikum," 

"Walaikumussalam, pie?"

"Kamu dimana, Qim?"

"Dirumah iki, pie?"

"Bisa ke kampus nggak, bahas acara MAPABA PMII?"

"Ada siapa aja disana?"

"Ya, Luluk, Laili dan yang lain"

"Aduuh.., nggak besok aja nih"

"Kalo besok, mereka yang nggak bisa"

"Yasudah, oke, jam berapa?"

"Abis dzhur, jam 1"

"Oke, siap"

Sebenarnya, hari ini adalah waktu yang pas bagiku untuk menghasilkan Dolar. Bagaimana tidak, sebuah gudang minuman didatangi satu mobil Fuso panjang ber plat B. Memang sudah biasa mobil seperti itu datang, mobil yang tentu membawa barang baru, maka untuk menurunkannya pasti butuh karyawan baru.

Mobil itu datang jam sebelas pagi. Kedatangannya yang mendekati waktu dzuhur membuat para karyawan baru memutuskan ba'da dzuhur akan mulai mengerjakan tugasnya. Biasanya hanya ada delapan orang termasuk aku. Menurunkan barang sekitar 2500an kardus berisi minuman selama kurang dari dua jam. Karena tak mungkin waktu terkejar jika aku ikut dalam hal ini dan ada janji untuk nobar (Nongkrong Bareng) dengan PMII, maka aku mengabaikannya.

Ditemani buku karya Karen Amstrong "Sejarah Tuhan" dan lantunan merdu dari Coldplay, aku menunggu jam satu siang. Tak terasa memang, lebih dari dua puluh lembar dan lagu yang terulang berkali-kali. Akhirnya yang kutunggu datang. Bergegas aku mandi kembali.

"Waduuh.., jam 01.13, telat ini," sedikit resah karena telat dalam perjanjian—sebenarnya sudah biasa.

Untuk meringankan beban keresahan ini, aku sms Wuri, "Otw—Oke Tungguo Wae". Dibalasnya, "Okee bat—bukan kelelawar, hanya panggilan singkat dari sahabat." Saat itu juga aku langsung terbang menuju lokasi pertemuan.

Lima belas menit perjalanan dan akhirnya sampai di Taman KI Hajar Dewantara, lokasi pertemuan kami. Rupanya aku orang terakhir kedua yang datang, sebelumnya sudah ada sahabat Bayu, Nia, Arini, Anisa, Wuri, Laili, Luluk, Netty, Putri, Devi, Ade, dan Aku, kemudian Temu menyusul datang setelahku.

Taman KI Hajar Dewantara, yang terletak tepat diperbatasan antara kota Metro dan Lampung Timur. Tempat yang sangat pas untuk Nobar, sebab sejuk rasanya. KI Hajar Dewantara, nama ini disematkan tak lain karena beliau adalah tokoh Pendidikan Nasional, salah satu tokoh yang pas untuk kawasan pendidikan kota Metro

Aku melihat sekeliling, di belakang kami rombongan gadis-gadis asik dengan selfie. Di depan kami, kumpulan motor terparkir acak, motor-motor itu ternyata milik anak SMPN 2 Metro. Di sebelah kiri kami, hanya bangunan gedung Rusunawa yang di depannya dipenuhi para pedagang. Berbeda dengan sisi yang lain, sebelah kanan kami kosong, tak ada apapun yang indah, kecuali tukang somay yang berhenti sejenak, tukang somay yang membuat Nia ngiler dengan kalimatnya, "Hmm.., pengen Somay".

"Gimana ini pak, Ketuplek, sudah siap?" sapa Arini yang membuatku berhenti memandangi sekeliling taman.

"Ohh.., siap. Kemarin ada usul Tema dari Temu, juga sedikit curhat tentang acara biar nggak membosankan, Temanya 'Kobaran api semangat PMII dalam tungku kemerdekaan RI. Atau kalau usulku begini, 'Bergerak untuk Solidaritas'? "

"Bergerak untuk Solidaritas?" sejenak Arini mengulang kalimatku dan memikirkannya, kemudian Anisa, Nia, Wuri, dan Bayu menyusul berdiskusi masalah tema.

Di sisi lain, Laili dan Luluk memikirkan urusan konsumsi. Devi sebagai bendahara memikirkan urusan uang. Putri sebagai sekretaris sibuk dengan urusan membuat surat. Dan yang lain termasuk aku, memikirkan urusannya masing-masing tak terkecuali tentang lokasi.

"Untuk lokasi gimana nih, Taqim ada pandangan lokasi baru?" tanya Arini padaku.

"Belum, kaya biasanya aja, di balai desa 38,"

"Coba di Gedung NU, kira-kira bisa ngeloby nya nggak nih?" masih bertanya perihal lokasi, rasanya ada kebosanan dengan tempat - tempat yang sudah pernah di tempati. Seperti di balai desa 38.

"Aku, rumahnya deket sama Kiai pengurus Gedung NU, mbak" ucap Netty membuka sedikit harapan bagi kami.

"Naah..., enak ngeloby nya kalau begitu," sontak semua berpikiran sama.

"Sudah, masalah lokasi nanti aku bisa urus," sahut Bayu, memberiku ketenangan. Tak lagi terlalu pusing memikirkan lokasi.

Hari ini, semua sibuk diskusi dengan urusannya masing-masing, terutama untuk MAPABA. Bukan diskusi menegangkan, tapi diskusi sambil guyonan. Tak jarang, para gadis IAIN METRO ini saling sindir. Seperti Luluk, Nia, Anisa, dan Devi saling sindir masalah jomblo padahal mereka semua jomblo. Tambah lagi, antara Anisa, Wuri dan Devi yang berdebat perihal pakaian tari lalu menyindir masalah gendut, padahal mereka semua gendut. Kemudian Ade, Putri Netty dan Temu cengingisan sendiri tak tahu kenapa.

"Kita masih punya banyak waktu. MAPABA dijadwalkan tanggal 30 September - 2 Oktober. Kita susun acara ini sebaik mungkin. Kita pasti bisa." kalimat dari Arini yang berusaha meyakinkan kami semuanya.

"Kita pasti membantu, kok, meski bukan sebagai panitia." ucap Nia menambahkan sebelum diskusi ditutup.

Pertemuan ini, pertemuan yang kusebut Nobar atau Nonkrong Bareng. Nongkrong Bareng yang maksudnya bersantai ria bersama. Bukan sekedar nongkrong guyonan belaka, tapi lebih dari itu, nongkrong membahas agenda politik kami. Pertemuan yang memberiku pesan, "Uang tak ada artinya dibanding mereka yang memberimu makna tentang solidaritas, terutama yang menyebutmu sahabat."

Maka setelah Nobar ini selesai, aku hanya bisa mengatakan bahwa yang kami rencanakan ini sama dengan apa yang diungkapkan Sherlock Holmes dalam episode The Hound of The Baskervilles, "The Game is On".

.
To be continued

___
Metro, 25 Agustus 2016

#PMII
#PGMI
#PGRA
#IAIN_METRO
#sandallll

0 Response to "Nobar PMII "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel