Belajar Toleran dari Pancasila


Oleh : Ahmad Mustaqim
Mahasiswa STAIN Jurai Siwo Metro

Negara Kesatuan Republik Indonesia, disingkat NKRI atau Indonesia, merupakan negara di Asia Tenggara yang dilintasi oleh garis khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia terdiri dari 13.466 pulau yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Dengan populasi lebih dari 258 juta jiwa pada tahun 2016, Indonesia merupakan salah satu negara berpenduduk terbesar di dunia dan negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, dengan lebih dari 207 juta jiwa.

Selain Muslim, di Indonesia juga terdapat berbagai agama yang di akui keberadaannya oleh negara. Enam agama resmi seperti Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan Konghucu serta agama tak resmi (aliran kepercayaan) seperti Sunda Wiwitan, Kaharingan, Naurus dan lainnya. Meskipun mayoritas Indonesia berpenduduk muslim, Indonesia lahir karena kekuatan bersama. Semua agama dan suku menjadi satu kesatuan kuat untuk melawan para penjajah yang menghancurkan NKRI.

Semua bersatu tanpa membedakan, tak ada satu pun pihak yang mendiskreditkan, “kamu bukan islam, ini tentara khusus islam, silakan pergi” bukan seperti itu, tapi “Kita adalah satu, mari berjuang bersama melawan penjajah”. Itulah Indonesia, negara yang toleran.

Ajaran Toleransi dalam Pancasila
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila menegaskan bahwa bangsa Indonesia dan setiap warga negaranya harus mengakui adanya Tuhan. Setiap warga negara wajib memiliki agama, menyembah Tuhan sesuai keyakinan masing-masing. Pada UUD 1945 Pasal 29 ayat 2 dikatakan, “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaan itu”. Jelas, yang beragama merdeka untuk melakukan segala ritual atau hari besar keagaamannya masing-masing.

Sila pertama pada Pancasila ini jika dilihat jauh kebelakang, memiliki sejarah panjang hingga menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dulu, secara rumusan BPUPKI sila pertama yang menjadi landasan bagi sila selanjutnya ini lebih condong pada masyarakat Islam, “Ketuhanan Dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya”.

Dialah A.A. Maramis salah satu anggota Panitian Sembilan yang beragama non Islam, secara serius menuntut digantinya sila pertama yang menyatakan, "Ketuhanan Dengan Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya". Kemudian Moh Hatta, yang memimpin rapat PPKI setelah berkonsultasi dengan Teuku Muhammad Hassan dan Kasman Singodimedjo menghapus tujuh kata yang menjadi keberatan dimaksud. Sebagai gantinya atas usul Ki Bagus Hadikusumo, ditambahkan sebuah ungkapan baru pada sila itu, sehingga berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Soekarno dalam pidatonya 1 Juni 1945 yang menjadi hari lahirnya Pancasila mengatakan, “Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan. Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut ajaran Isa al-Masih, yang Islam menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW, orang Budha menjalankan ibadahnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya bertuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya bertuhan secara kebudayaan, yakni dengan tidak ada ‘egoisme agama’. Dan hendaknya Negara Indonesia satu Negara yang bertuhan”.

Dari sejarah itu, kita mampu mempelajari bahwa sila pertama adalah sila yang mewajibkan setiap orang untuk beragama dengan toleran. Sila pertama rela diubah demi menghilangkan keberpihakan tententu. Sang proklamator pun mengingatkan, jangan ada “egoisme agama”. Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk menjadi warga negara yang baik tanpa membedakan satu sama lain dengan menjunjung tinggi toleransi. Ingatlah, kita adalah satu dalam “Bhinneka Tunggal Ika”.

0 Response to "Belajar Toleran dari Pancasila "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel