Resensi Novel 99 Cahaya di Langit Eropa (Pengalaman Membaca)

Mungkin, sudah banyak yang menonton film ini. Tapi, saya yakin banyaknya yang menonton tak sebanding dengan banyaknya pembaca Novelnya. Ya, wajar saja, dari data UNESCO tahun 2011 minat baca masyarakat Indonesia sangat kecil, hanya 0,01 persen. Update datanya tahun 2011 dan filmnya dirilis tahun 2013, pasti keadaan masyarakat Indonesia tak jauh berbeda dari data UNESCO dua tahun lalu itu.

99 Cahaya di Langit Eropa. Sebenarnya, baik film maupun novelnya sama-sama memberikan gambaran pada penikmat untuk mengetahui bagaimana islam di Eropa, mengungkap sisi sejarah hingga keadaan islam di Eropa saat ini. Jika dibandingkan antara film dengan novelnya, tentu lebih baik membaca novelnya. Sebab lebih mengetahui cerita yang sebenarnya tanpa ada campur tangan sutradara.

Novel inilah, yang membuat saya tertarik untuk terus mengkaji sejarah peradaban/kebudayaan Islam. Novel yang memberi gambaran bagaimana hidup sebagai minoritas di negara yang mayoritas non-islam. Sebenarnya, negara itu dahulunya hidup dibawah kekuasaan islam. Seperti Turki, Spanyol, Austria dan Prancis.

Misalnya Spanyol, menjadi pusat ilmu pengetahuan dan teknologi yang paling maju dibawah kekuasaan islam. Bertempat di Andalusia (atau saat ini disebut Cordoba dan Granada). Berbagai produk telah diperkenalkan oleh Andalusia, antara lain: katun, kertas, cermin, lampu jalan, garam, kaca berwarna, sutra, satin, lada, dan masih banyak lagi. Ada pun satu tokoh islam dari Andalusia yang sampai saat ini dipuja oleh Barat karena mampu menerjemahkan karya-karya filsuf Yunani (seperti Arestoteles), adalah Ibnu Rusyd (atau barat menyebutnya dengan Averroes). Dan karena karya terjemahannya itulah Barat mampu menjadi negara maju (yang mengadopsi pemikiran para filsuf Yunani tersebut). Namun, kegemilangan peradaban itu hancur ketika pasangan raja Ferdinand dan ratu Isabella merebut kekuasaan islam di Andalusia. Islam dihabisi oleh mereka. Bagi mereka, kalau ada warga Andalusia tidak beragama kristen, dianggaplah kafir dan harus dimusnahkan.

Selanjutnya Turki, yang jelas merupakan pusat pemerintahan islam. Bertempat di konstatinopel (atau saat ini disebut Istanbul). Yang merupakan tempat paling makmur di jagad eropa saat itu, tentunya dibawah kekuasaan umat islam (setelah Muhammad al-Fatih menaklukkannya dari pasukan Roma di tahun 1453M). Namun, setelah Mustafa Kemal Attaturk berkuasa, Turki yang dulunya menganut sistem Khilafah dirubahnya menjadi Republik dan menganut paham sekular (memisahkan agama dari urusan negara), sebagai contoh kebijakan sekularnya adalah wanita dilarang memakai jilbab di tempat-tempat umum.

Ada juga Austria, sebenernya kota ini baru akan dikuasai oleh islam. Tapi, karena pasukan islam yang dipimpin Kara Mustafa Pasha kalah, akhirnya Austria hanya menjadi saksi bisu bagaimana islam takluk. Kini, lukisan Kara Mustafa Pasha terpanjang di museum (Wina, Austria) dengan wajah yang sangat miris (memalukan dan terlihat sedih). Ia dipandang sebagai penjajah yang jahat oleh warga Austria. Menurut sejarah, Kara Mustafa Pasha pada akhirnya menyadari akan kesalahannya (berperang bukan membela agama, melainkan mencari kekuasaan atau harta). Karena tak ada jalan lagi dan terdesak oleh musuh akhirnya ia melawan meskipun tahu akan berakhir dengan kekalahan.

Terakhir Prancis, julukan saat ini yang disandangnya adalah "The City of Light", benar saja kota ini saat malam hari menyuguhkan pemandangan lampu-lampu yang indah dan memanjakan mata. Sejarah telah mencatat bahwa rakyat Prancis begitu mengagungkan sosok Napoleon Bonaparte (jenderal dan kaisar Prancis yang hebat). Napoleon telah hidup puluhan tahun di Mesir, dan ketika pulang kembali, ia membangun berbagai ikon penting di kota-kota di Prancis. Ada sebuah kabar bahwa Napoleon telah memeluk agama Islam, namun rakyat Prancis menerima kabar itu bukan sebagai kebenaran, mereka tak percaya. Di dalam novel ini, Marion (teman Hanum di Prancis yang memiliki banyak ilmu tentang sejarah islam) mengatakan, "...ada satu fakta yang bisa di amini. Francois Menou, jenderal kepercayaan Napoleon, telah masuk Islam sepulangnya dari Mesir. Jadi, seberapa pengaruh seorang yang dipercayai memberi nasehat hingga dalam ranah paling pribadi? Siapa yang tahu rahasia hati manusia?...".

Empat negara inilah yang menjadi ulasan pokok dalam cerita novel. Begitu banyak pengetahuan tentang islam di Eropa yang saya dapatkan setelah khatam novelnya. Selain cerita diatas tadi, saya juga mulai paham tentang bagaimana sulitnya mengatur waktu ibadah di negara yang menganut paham sekular (seperti Austria, diceritakan Rangga harus rela bolong shalat jumat demi ujian), susahnya mencari pekerjaan karena berjilbab, sepinya kumandang adzan, dan tentang kehidupan Eropa saat ini.

Di akhir tulisan ini, saya akan mengatakan sebuah fakta yang dituliskan oleh Hanum dan Rangga ketika diberi penjelasan dari Tour Guidenya (Bernama Sergio) saat di Mezquita (Spanyol). Begini katanya, "Eropa saat ini mayoritas bukanlah penganut Kristen seperti yang kalian duga, tapi Sekularisme dan Ateisme".

Awalnya saya percaya saja. Tapi akhirnya penasaran, saya pun mencari fakta lainnya atas ucapan Sergio tersebut. Setelah ketemu dan saya baca, akhirnya paham, Eropa menganut paham Sekular dan Ateis karena mereka trauma dengan agama. Dalam sejarah misalnya, Copernicus dan Galileo ketika menentang teori atau doktrin kaum gereja (agamawan) bahwa bumi bukanlah pusat tata surya, mereka malah dihukum mati. Sebab inilah eropa beranggapan bahwa agama menghambat kemajuan sains atau ilmu pengetahuan.

Banyak sekali pengetahuan yang diungkapkan Hanum dan Rangga dalam novel yang tak diungkapkan di film. Lebih jelasnya silahkan membaca novelnya dahulu, kemudian menonton filmnya. Selamat membaca. Semoga tercerahkan dan tertarik untuk mengkaji islam lebih jauh terutama sejarahnya, seperti saya. Hhe.

___
#Resensi Buku dan Filmnya

0 Response to "Resensi Novel 99 Cahaya di Langit Eropa (Pengalaman Membaca)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel