Lupita Indah Sari

Teringat dengan sebuah nama yang tak asing lagi di telinga. Lupita Indah Sari, nama yang mulai ku kenal sejak masuk di sekolah menengah atas. Saat teringat dengan nama itu, terpikirlah dalam benak seorang gadis yang pendek, gemuk, dan berkulit coklat (sawo matang).

Lupita, begitulah kebanyakan orang mengenal dan memanggilnya. Saat pertama kali aku mengenalnya, ia hanya ku anggap sebagai teman sekelas. Sebab nama kami tertuang dalam satu buku absen yang sama, belajar di ruang yang sama, dan diberi tugas pun juga sama.

Aku sekelas dengannya ketika SMA, tepatnya di kelas X5 (atau kami menyebutnya Grossel—Gerombolan sepuluh lima).  Selama setahun atau dua semester bersamanya, tak begitu banyak yang ku ingat tentangnya. Kecuali tadi, "wedok cilik sing awak'e lemu". Namun, saat ku coba membuka kembali memori masa SMA dan mengingatnya. Akhirnya aku teringat juga, dan terciptalah tulisan ini.

Ada berbagai cerita menarik tentang Lupita. Seperti saat itu, ketika aku memiliki panggilan yang unik untuknya. Panggilan yang terinspirasi dari teman sebangku ku di kelas X5, namanya Fadlillah Hertisca. Panggilan itu adalah Lupitek. Panggilan yang awalnya hanya untuk bahan "guyonan" tapi malah kelabasan sampai sekarang. 

Mau bagaimana lagi, ibarat nasi sudah menjadi bubur, kalau ini, Lupita sudah menjadi Lupitek, yasudah. Panggilan unik dan yang pasti selalu melekat dalam pikiran. Sebab ketika mata ini melihat "pitek"—ayam, tentu langsung teringat dengan Lupitek dan sudah pasti connect ke Lupita. Jadi, fix, ini aku anggap bukan lagi sebagai panggilan "guyonan" melainkan panggilan sayang untuknya. Bahkan sampai saat ini sering aku memanggilnya dengan sebutan "tek".

Ada lagi yang unik. Kala itu, aku begitu menyukai band rock asal Amerika. Band itu bernama Linkin Park dan memiliki logo LP. Maka demi memudahkan sekaligus mengingat nama Lupita, aku memberi inisial untuk Lupita dengan LP (LuPitek). Atau bisa juga dalam bahasa alayku "LP is LovePita (ups, terlalu lebay)."

Lupita, Lupitek atau LP, dia adalah anak yang cerdas (yang pasti lebih cerdas dariku) dan baik hati. Pokoknya luar biasa baik. Dulu pernah, tugasku (ekonomi) dikerjakan olehnya, padahal itu mencatat lebih dari selembar buku. Pernah juga, saat UTS atau UAS aku sms ke nomor HPnya meminta kunci jawaban. Bayangkan, kurang baik apa lagi coba? Tapi, jika dipikir lagi, memang masih kurang baik sih, sebab belum pernah dompetku terisi uang THR lebaran darinya. (just kidding).

Hanya setahun, di kelas X5, aku bisa bersama dengannya. Kebersamaan yang harus terpisahkan oleh waktu dan perbedaan tujuan kami. Saat itu, Lupita lebih tertarik untuk masuk dalam kelas IPS (untuk jurusan di kelas XI) sedangkan aku ingin masuk di kelas IPA. Akhirnya kami pun terpaksa berpisah.

Beda kelas membuat komunikasi kami mulai berkurang. Jelas saja, beda jurusan tentu beda masalah, beda tugas, dan beda materi pelajarannya. Karena itu jika kami bertemu biasanya hanya saling curhat masalah sepele atau hanya saling sapa saja. Begitu seterusnya hingga tak terasa naik ke kelas XII.

Di kelas XII inilah ia sering masuk kelasku. Sebab ada teman akrabnya, Nisrina dan Annisa. Sering ia masuk ketika jam istirahat atau disela waktu sebelum les tambahan dari sekolah dimulai. Mereka kumpul dan saling mengobrol. Pada kesempatan itulah kadang aku ikut "nimbrung" omongan dengan mereka.

Salah satu bahasan atau obrolan yang  teringat olehku yaitu tentang dunia perkuliahan. Wajar saja, kami berempat yang sudah kelas XII tentu berpikir untuk rencana selanjutnya. Kami semua tentu memiliki minat untuk melanjutkan di perguruan tinggi. Namun bagiku dan Lupita, perguruan tinggi malah membuat sedikit pusing.

Tak lain karena kami berdua berasal dari keluarga berkasta ekonomi kebawah. Kami dari keluarga yang miskin. Maka dalam masalah itu, kami menggunakan sebuah kesempatan yang diberikan oleh pemerintah bagi siswa miskin untuk bisa melanjutkan di perguruan tinggi, melalui Bidikmisi. Akhirnya kami pun mendaftar Bidikmisi.

Kami berdua harus repot mengumpulkan dan mengurus berbagai berkas untuk persyaratan. Meskipun terasa repot dan ribet, kami tak pernah lelah apalagi menyerah demi mewujudkan harapan menjadi seorang mahasiswa.

Hingga akhirnya, usaha kami berdua berbuah juga. Kami diterima sebagai peserta Bidikmisi. Dari sinilah nama Lupita terasa sangat berharga bagiku, ia adalah seorang sahabat seperjuang. Kami satu niat, satu harapan, dan satu jalur (bidikmisi) yang sama. Diterima sebagai peserta bidikmisi bukan berarti kami bisa dengan mudah masuk di perguruan tinggi. Kami harus berjuang dulu melalui SNMPTN. Pada akhirnya, kami pun mendaftar SNMPTN.

Ada Aku, Nisrina, dan Lupita yang mengambil Universitas sama, yaitu di UNILA (Universitas Lampung). Berbeda dengan kami bertiga, Annisa malah memilih Universitas Negeri Yogyakarta. Kami berempat memiliki tujuan yang berbeda, maka jurusan yang kami pilih pun tak sama.

Ketika beberapa hari berlalu setelah SNMPTN dilaksanakan. Kami berempat sering membicarakan masalah tentang bagaimana nantinya ketika tak lulus SNMPTN. Disinilah aku ingat betul ucapan Lupita, "Kalau nggak lulus SNMPTN gimana, ya. Aku tuh belum siap untuk SBMPTN, materinya susah banget. Terus kalau aku di SBMPTN nggak lulus juga nanti gimana. Pokoknya doain lulus, ya," begitu takutnya dirinya jika tak lulus, bahkan aku pun merasa tak tega jika ia benar tak lulus.

Dan akhirnya, apa yang ditakutkan Lupita pun terjadi. Ia dinyatakan tidak lulus dalam SNMPTN. Bukan hanya dia tapi aku dan Nisrina juga tidak lulus. Hanya Annisa yang beruntung. Dan tentu, ia harus pergi ke Yogyakarta meninggalkan kami bertiga. Dari kegagalan inilah Lupita, Nisrina dan juga aku mulai lebih tekun lagi dalam belajar, demi SBMPTN.

Pasca gagal dalam SNMPTN saat itu, aku pun teringat bagaimana Lupita mengeluh kesulitan ketika belajar SBMPTN. Ia kesulitan dalam mempelajari soal TPA terutama soal Analogi. Bahkan aku teringat ketika ia meminta bantuan padaku, "Aku minta soal-soal TPA untuk belajar sih, terus sekalian ajari aku TPA, ya".

Aku yang memiliki kaset CD soal TPA beserta pembahasannya, akhirnya ku bagikan. Aku datang kerumahnya, dan ku installkan aplikasi dari CD tersebut, kemudian sembari mengtest aplikasi yang telah terinstall, kami pun belajar bersama, meski hanya sebentar.

Dari usaha dan beberapa ungkapannya  tentang perguruan tinggi, aku tahu betul bahwa Lupita begitu berharap bisa lulus di PTN dengan bidikmisi. Semangatnya yang begitu membara, juga membuatku ikut membara dalam keseriusan belajar. Aku pun semakin lebih tekun lagi dalam belajar untuk SBMPTN.

Setelah berhari-hari semangat belajar. Tibalah saatnya test SBMPTN dilaksanakan. Dengan lancar dan aman kami pun bisa mengerjakan test yang menakutkan itu. Meski testnya lancar, selalu saja ada rasa penasaran dan was-was dari kami akan hasilnya. Kami pun harus rela menunggu sekitar sebulan untuk mengetahui hasilnya.

Hingga pengumuman tiba. Ada rasa campur aduk yang menyelinap saat itu, aku merasa kecewa sekaligus bahagia. Kecewa, ketika aku dinyatakan tak lulus dalam SBMPTN dan bahagia ketika melihat sahabat seperjuanganku bisa lulus, Lupita Indah Sari (Bidikmisi, SBMPTN IESP Universitas Lampung). 2014.

***

Mahasiswa, itulah gelar yang disandang Lupita saat ini. Menjadi orang terpilih yang memiliki tugas penting sebagai pembaharu bangsa. Keberhasilan dalam mewujudkan keinginannya menjadi mahasiswa dengan menaklukkan SBMPTN hingga diterima melalui beasiswa Bidikmisi membuatku begitu cemburu. Jujur saja, saat itu aku berkata, "dia bisa, kenapa aku nggak bisa, sungguh bodohnya diriku."

Di waktu yang sama, ketiga teman yang sering aku "timbrung" obrolannya, semuanya telah menjadi sosok pembaharu bangsa. Annisa, di Pendidikan Seni Rupa UNY. Nisrina, di Hubungan Internasional UNILA. Dan terakhir Lupita, sahabat seperjuanganku ini, yang pernah mengeluh tentang SBMPTN padaku, kini menjadi mahasiswa IESP di UNILA. Semua menjadi mahasiswa baru di tahun yang sama, 2014. Disaat itulah aku merasa berbeda dari mereka. Aku lebih memiliki waktu libur yang panjang dalam dunia akademik.

Menjadi mahasiswa, membuat hubunganku dan Lupita mulai berkurang drastis. Jelas begitu, karena dunia perkuliahan lebih rumit dari dunia SMA. Ia, harus fokus dan serius demi prestasi, nilai yang baik, dan target lulus sebaik mungkin. Tapi, tak jarang juga, diwaktu sibuknya itu aku sering meminta saran, trik, juga solusi agar lulus SBMPTN tahun berikutnya.

Lewat pesan singkat, maupun telfon aku bertanya padanya. Meski kadang pesanku dibalas sangat lama, kadang juga saat ku telfon ia sedang sibuk. Wajar saja, mahasiswa memang sibuk dengan tugas, aku pun memaklumi. Tapi, dibalik sibuknya, ternyata ia masih peduli denganku. Ia memberiku informasi tentang jalur PMPAP UNILA (kuliah gratis).

Tapi, segala macam cara atau trik yang diberikan Lupita padaku tak membuahkan hasil. Aku masih saja seperti tahun 2014. 2015, di tahun yang sangat ku harapkan itu, usahaku untuk bisa menjadi mahasiswa Bidikmisi UNILA sepertinya tak berhasil juga. Aku gagal dalam SBMPTN dan PMPAP 2015.

Tapi, ada rasa bangga seketika. Ternyata aku, berhasil bisa sepertinya. Aku diterima di kampus PTAIN (STAIN Metro) sebagai mahasiswa Bidikmisi. Akhirnya kami sama sebagai mahasiswa Bidikmisi meski kampus kami berbeda. Setidaknya, apa yang ku raih ini bisa membuktikan padanya, aku telah menjadi sosok pembaharu bangsa sepertinya.

***

Lupita Indah Sari, saat ku ingat lagi nama itu, rasanya masih ada banyak lagi cerita yang bisa ku tuliskan. Tapi, tulisan simpel ini setidaknya bisa memberiku sebuah kenangan yang tersimpan abadi dalam blog. Lupita, nama yang awalnya ku anggap sebatas teman sekelas, kemudian sahabat seperjuangan, dan akhirnya kini sahabat segalanya. Nama yang memiliki pengaruh juga penyemangat hidupku dalam mengejar cita-cita. Kalau saja saat ini dia baca tulisan ini, aku punya sedikit ucapan terimakasih untuknya:

"Tek, aku nggak tau seberapa ngaruhnya kamu bagi kehidupanku. Tapi, jujur saja, kamu selalu membuatku semangat untuk melebihi dirimu. Saat kamu menjadi mahasiswa dan diterima dengan Bidikmisi, aku sangat cemburu, 'kok kamu bisa lulus, ya? Apa aku ini bego atau apalah, masa kalah sama kamu'. Disitulah semangatku lebih terbakar, 'aku harus bisa sepertinya'. Aku pun mencoba, untuk mengikuti jejakmu. Bertanya perihal mengerjakan soal SBMPTN dan lain sebagainya. Berusaha sepertimu, menjadi mahasiswa Bidikmisi UNILA. Tapi, ternyata aku tak bisa. Berbagai cara aku coba untuk lulus, hasilnya sama saja. Tapi akhirnya, usahaku ini membuahkan hasil juga. Meskipun aku tak bisa sepertimu (kuliah di UNILA). Tapi, setidaknya aku bisa sepertimu sebagai mahasiswa Bidikmisi. Aku diterima di STAIN Jurai Siwo Metro dengan Bidikmisi. Rasanya jelas bahagia. Kalau dulu kita sebagai sahabat seperjuangan, sekarang kita adalah teman se-beasiswaan.

Ohh iya, aku dengar kamu udah pernah pergi ke luar negeri. Ke jepang? Waah itu pasti seru banget. Pasti pengalamannya tak terlupakan. Sebenarnya aku udah tau itu, sewaktu melihat postingan fotomu di FB (ketika berada di bandara Jepang). Aku pun ikut bahagia atas pencapaianmu itu. Saking bahagianya, aku pun bertanya padamu tentang apapun kebahagiaanmu dengan Jepang. Melalui pesan singkat, inilah kebahagiaan yang kamu kirimkan padaku:

-Jepang?? Negara ini adalah salah satu negara impian yg masuk dalam dftr negara yg sangat ingin aku kunjungi, sulit untuk bisa mengungkapkan kebahagian yg aku rasakan, sampai saat ini pun masih terasa seperti mimipi aku bisa menginjakan kaki ku di negara itu, tapi aku percaya karena doa dan usaha yang aku dan orang orang terdekat ku lakukan adalah sumber kekuatan aku bisa menjadi seperti sekarang. Karena satu mimpi yg sudah ku capai saat ini membuat ku tidak takut untuk memiliki mimpi yg lebih besar dari ini. Aku berharap aku bisa membagi apa yg kudapat kepada orang orang di sekitar ku-

Harus kamu tahu, dari pengalamanmu ke Jepang saat itu, aku punya pemikiran yang sama seperti saat kamu diterima sebagai mahasiswa, "Lupita, bisa ke luar negeri, masa sih aku nggak bisa? Aku pasti bisa, dan harus lebih darinya". Kalau kamu bisa pergi ke luar negeri (Jepang), aku pun pasti bisa. Tapi, aku ingin pergi ke Turki, Spanyol dan tentu Arab Saudi. Doakan saja ya. 

Saat kamu bisa menggapai sesuatu, disitulah aku cemburu, dan berusaha untuk bisa atau bahkan melebihi apapun yang bisa kamu gapai. Sama seperti kecemburuanku pada sahabat kita, Annisa. Aku pernah cemburu karena dia pintar berkarya (melukis), yang akhirnya aku berusaha untuk bisa melampauinya. Tapi, aku pun tak bisa. Justru aku malah menemukan cara lain untuk berkarya (menulis). Aku hanya ingin menjadi manusia yang mampu lebih hebat dari kalian.  

Ohh iya.. Terimakasih sudah membawa namaku (AQim) ke Jepang. Terimakasih juga sudah memberiku banyak semangat untuk melebihi dirimu. Meskipun secara sadar kamu tak mengetahuinya. Pokoknya terimakasih. Teruslah jadi manusia hebat yang sukses dan unik agar aku bisa lebih banyak lagi cemburu atas kesuksesanmu. Sekali lagi Terimakasih, LuPitek. Hhe".

0 Response to "Lupita Indah Sari "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel