Puasa sebagai Penyucian Diri

Manusia suci. Sebuah predikat yang pantas untuk Nabi Muhammad saw, sebab bersih dari dosa. Sejak beliau wafat, tak ada lagi manusia yang bersih (sesuci beliau). Semua pasti tak luput dari kesalahan atau dosa. Bahkan jika bisa, hitunglah berapa banyak dosa kita selama sehari semalam? Ya, dosa-dosa kecil yang tak sengaja dilakukan. Pasti banyak.

Islam adalah agama rahmatan lil alamin dan agama yang mudah untuk dijalankan. Karenanya, islam punya cara untuk menghapus dosa-dosa kecil itu. Yaitu dengan menjalankan syariah, salah satunya adalah puasa.

Puasa disebut sebagai pembersih diri atau zakat diri. Kalau harta manusia telah mencapai nisab, wajib dizakati, maka badan manusia pun perlu dizakati. Rasulullah bersabda, “Segala sesuatu itu ada zakatnya dan zakat badan itu adalah puasa, dan puasa adalah separuh dari kesabaran (HR.Bukhari)”.

Dengan berpuasa, artinya kita sedang mengosongkan diri dari kecenderungan fisik yang umumnya didominasi oleh nafsu hewani. Saat kita berhenti makan dan minum dalam sehari, maka kekuatan fisik kita akan melemah yang juga diikuti melemahnya nafsu hewani.

Saat nafsu hewani melemah maka jiwa yang tenang akan lebih dominan. Karena itu, jelas, ketika jiwa yang tenang lebih dominan, kita akan banyak melakukan tindakan-tindakan positif. Dilakukannya tindakan-tindakan positif itu tentulah mendapat pahala, dan pahalanya jelas membersihkan dosa-dosa kecil itu.

Namun, berpuasa bukan hanya dengan meninggalkan makan dan minum di siang hari. Kita juga harus puasa batin, yaitu puasa mulut dari ucapan kotor, puasa mata dari pandangan haram, puasa hati dengan mengendalikan emosi, puasa telinga dengan menahan diri dari mendengar sesuatu yang tidak baik dan lain sebagainya.

Saya teringat dengan ucapan sang Ibu, “Le, puoso iku uduk mor nahan madang lan ngombe. Tapi, kabeh kudu ditahan. Nafsumu iku—Nak, puasa itu bukan hanya menahan makan dan minum. Tapi, semua harus ditahan. Nafsumu itu”.

Ucapan Ibu saya ini sebenarnya hanya menegaskan sebuah hadits, “Orang yang berpuasa tapi “tidak bisa meninggalkan diri dari ucapan palsu (jelek) dan tetap mengerjakannya, maka puasanya itu tidak berguna bagi Allah” (HR.Bukhari-Muslim)”.

Bukan hanya ibu saya, guru SMA saya juga pernah menasehati, “Banyak orang-orang berpuasa tapi tidak mendapatkan pahala, kecuali haus dan laparnya. Karena dalam berpuasa ia banyak melakukan tindakan negatif (misal, omongannya kotor)”.

Berpuasa juga melipat gandakan pahala. Jika biasanya satu tindakan positif hanya memperoleh sepuluh pahala kebaikan, maka dengan berpuasa pahalanya bisa menjadi seratus bahkan seribu atau malah lebih banyak. Karena itu, dibulan (Ramadhan) yang penuh berkah ini, hindarilah segala perbuatan yang bisa mengurangi pahala puasa.

Dengan berpuasa, kita menahan nafsu (hewani) yang secara tak langsung menuntun memperbanyak tindakan positif (kebaikan), kemudian berimbas pada pahala kebaikan yang dilipat gandakan, lalu banyaklah pahala yang didapat. Maka banyaknya pahala itu akan melebur atau menutupi dosa-dosa kecil yang secara tak sengaja telah kita lakukan sebelumnya. Wallahualambisawab.

___
Metro, 05 Juni 2016
Ahmad Mustaqim

*Ramadhan adalah bulan yang baik, penuh ampunan dan penuh dengan berkah, mari berlomba-lomba memperbanyak amal kebaikan.

0 Response to "Puasa sebagai Penyucian Diri "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel