Pergilah Untuk Kembali

"Pergilah, jelajahilah dunia, lihatlah dan carilah kebenaran dan rahasia-rahasia hidup; niscaya jalan apa pun yang kau pilih akan mengantarkanmu menuju titik awal. Sumber kebenaran dan rahasia hidup akan kau temukan di titik nol perjalananmu. Perjalanan panjangmu tidak akan mengantarkanmu ke ujung jalan, justru akan membawamu kembali ke titik permulaan. Pergilah untuk kembali, mengembaralah untuk menemukan jalan pulang. Sejauh apa pun kakimu melangkah, engkau pasti akan kembali ke titik awal."

Ungkapan yang sangat dalam maknanya dari seorang Paulo Coelho. Aku menemukannya di akhir sebuah novel yang membuatku sadar akan cahaya islam di eropa, 99 cahaya di langit eropa. Ungkapan ini, seakan membuatku terus bertanya. Dimana letak keberanan pada titik awal itu?

Lebih dari sepuluh tahun aku menjelajah, mengembara ilmu di negeri ini. Tak bisa terhitung berapa banyak ilmu yang kudapatkan. Aku bertemu sekian banyak manusia dari berbagai latar belakang yang memberiku banyak ilmu bermanfaat. Merekalah sang guru, orangtua, teman dan semua manusia. Bahkan hewan, tumbuhan, sampai semuanya yang ada dibumi memberiku ilmu. 

Pengembaraanku dalam menuntut ilmu bukanlah waktu yang sebentar. Secara formal sudah lebih dari dua belas tahun, dari SD sampai SMA. Dua belas tahun itu, penuh dengan senyuman, kekaguman, kebahagian sampai kesedihan. Ada juga rasa marah bahkan jengkel, semuanya pasang-surut tak pernah bisa ditebak.

Aku merenungi, kemana ilmu ini membawaku? Apakah aku berada pada titik awal itu? Aku harus percaya bahwa semua ilmu yang kudapatkan telah mengantarkan aku menjadi manusia yang pintar, aku diberi beasiswa miskin berprestasi oleh pemerintah. Berani, aku menjadi manusia yang berani menebar kebaikan melalui tulisan. Dan berguna bagi sesama manusia. 

Ilmu membuatku bahagia karena impianku tercapai. Ilmu membuatku sedih jika rencanaku gagal, bahkan sakit. Karena ilmu, aku mengenal dunia, mengagumi ilmuwan, mengerti sejarah, dan semua yang ada di bumi bahkan alam semesta.

Namun, kemudian aku tersadar, bukankah semua yang ada di dunia dan alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan? Aku harus percaya bahwa semua yang kurasakan karena ilmu jelas datang dari Allah yang maha berilmu.

Kebahagianku karena beasiswa, kepintaranku, dan impian yang telah tercapai serta kesedihan akan kegagalan yang selalu menimpaku, semuanya diatur oleh-Nya. Terkadang kita sebagai hamba-Nya yang lemah merasa "tak sadar" atas semua ini.

Allah-lah yang maha segalanya, yang menciptakan manusia dengan akal, yang memberikan banyak ilmu, yang maha membolak-balikan perasaan. Pengembaraanku dalam menuntut ilmu hanyalah suatu usaha untuk lebih mengenal diri sendiri, mengenal kuasa Tuhan yang maha berilmu.

Kini, aku menemukannya. Titik awal itu, sebuah sumber kebenaran. Kembalinya aku pada-Nya, itulah kebenaran sejati. Seberapa jauh kita menuntut ilmu? Seberapa cerdasnya diri kita? Seberapa hebatnya kita akan ilmu yang dikuasai? "Sudahkah kita mengenalNya lebih dekat? Mengenal yang maha berilmu? Iya, Dia, Tuhan kita, Allah SWT".

Ilmu, seberapa jauh aku mengejarmu, mencarimu, pengembaraanku itu hanyalah untuk kembali, pada Tuhanku.

___
Metro, 19 Juni 2016

Ahmad Mustaqim
STAIN Jurai Siwo Metro

0 Response to "Pergilah Untuk Kembali "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel