Pelatihan Menulis Opini

Hari ini, ilmu baru telah saya dapatkan. Melalui sebuah program yang diadakan oleh Kaprodi Tusriyanto, M.Pd, pelatihan menulis opini. Menulis opini adalah hal mudah, tapi bagi saya belum terlalu mudah. Karena itu, saya ikuti programnya.

Menarik memang, saya yang memiliki minat dalam dunia penulisan tentu tergiur untuk ikut. Apalagi pemateri di isi oleh dosen yang menginspirasi dan memotivasi saya, Dedi Wahyudi, M.Pd.I. Beliaulah yang membuka ruang di pikiran saya tentang teknik dan pentingnya menulis.

Berkat beliau saya berani dan lancar menulis. Atas saran beliau juga saya mengexplore tulisan ke media cetak maupun online. Tapi, dari banyaknya tulisan yang dimuat di media cetak dan online, belum pernah tulisan saya masuk kolom opini Lampost dan mendapat honor. Dengan pelatihan menulis opini inilah saya berusaha untuk tembus kolom itu.

Datang duduk lalu membuka laptop, tak lama pelatihan pun dimulai. Benar memang, pak Dedi mengatakan, "menulis opini itu mudah, hanya menuangkan kritik yang pro atau kontra atas sesuatu, paling lama hanya dua jam dalam menulis opini". Sebenarnya saya setuju, menulis adalah mudah, tapi menulis opini untuk media cetak tentu bersyarat dan bersaing, disitulah susahnya.

Saya beserta teman yang lain diajari secara teknis untuk mengirim opini ke media. Mulai dari hal terkecil dari font sampai penataan paragraf dan pentingnya penggunaan EYD yang baik. Juga tak lupa, hal paling penting dalam dunia menulis beliau sampaikan, "Plagiasi adalah dosa besar bagi dunia penulisan".

Kemudian kami disuruh menulis opini bertema "Toleransi" dengan waktu satu jam dan batas 3000an karakter. Bagi saya, mudah, karena sebelumnya saya sudah menulis tentang toleransi demi mendapat nilai A dalam mata kuliah Pancasila. Karena itu, saya gunakan Pancasila sebagai bagian dari judul.

Meskipun agak susah, akhirnya semua peserta bisa menyelesaikan opininya masing-masing. Naskah opini masing-masing peserta di kumpulkan menjadi satu. Boleh dikirimkan ke media cetak maupun online. Naskah tersebut nantinya akan dibukukan secara antologi "Toleransi" yang tentu ISBN. Bagi saya, ini merupakan antologi keempat setelah dua puisi dan satu cerpen.

Pelatihan menulis opini, selain mendapatkan ilmu baru dan motivasi, saya juga mendapat kebahagiaan tersendiri. Bisa temu kangen dengan dosen MSI (semester satu) yang inspiratif. Dan satu lagi, kami foto bareng (dua calon profesor, aamiin).

Di akhir tulisan ini, saya berdoa semoga para peserta pelatihan menulis opini bisa terus berkarya dan semangat dalam menulis. Sebab, menulis itu penting, dengan menulis berarti kita memahami. Dan dengan menulis, "Nama kita akan selalu abadi bersama karya yang dituliskan". Semoga. Aamiin.

___
STAIN METRO, 18 Juni 2016

Terimakasih pak Prof. Dedi Wahyudi dan Prof. Tusriyanto. Beserta teman - teman lainnya (PGMI A, B, C)

0 Response to "Pelatihan Menulis Opini "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel