Kekuatan Kesederhanaan (The Simpler The Better)

Tulisan ini saya buat untuk membahas sebuah pertanyaan yang saya kirim ke grup IKABIM beberapa waktu yang lalu. (Disini postingannya)

Awal saya ngeposting, berharap ada banyak komentar atas masalah yang saya kirim itu. Tapi nyatanya hanya beberapa saja yang mau berkomentar.

Saya berikan sebuah pertanyaan atau masalah yang harus diselesaikan. Seperti dibawah ini :

***
#Silakan_selesaikan

Seorang ibu memiliki anak kembar, Andi dan Andini. Keduanya sangat aktif dan cenderung tidak mau saling mengalah. Suatu hari sang ibu memberikan sebuah kue kering yang berbentuk tidak rata. Andi dan Andini ingin tidak ada kecurangan dalam pembagian. Ketika sang ibu meminta tolong pada Anda, apa yang akan Anda lakukan agar mereka menerima hasil apapun dari pembagian kue tersebut?

____
Ingat!!!
"Pemenang tidak melakukan sesuatu yang beda, pemenang hadir karena melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda" :D
***

Hanya pertanyaan biasa menurut saya, dan menariknya postingan ini langsung dikomentari ketum bidikmisi (). Beliau mengomentari seperti ini :
"Saya akan menyuapi keduanya dengan takaran suapan dan
jumlah suapan yg sama antara keduanya. Jika mereka menolak cara itu, maka akan saya suapi mereka masing-masing satu suapan lalu sisanya saya berikan kepada orang lain."

Penilaiannya akan saya berikan nilai 60, memang mas Mukhtarullah mengajarkan arti berbagi (sisanya diberikan ke orang lain). Tapi masalahnya Andi dan Andini tidak ingin ada kecurangan dalam pembagian serta mereka cenderung tidak mau mengalah. Jadi, bisa membuat mereka merasa kurang puas.

Kemudian ada komentar menarik dari Zaini, seperti ini "Maka roti tersebut akan saya makan sendiri dengan kenyang". Komentar yang menurut saya terlihat apatis memang menarik. Mungkin Zaini sedang tidak serius. Saya beri nilai 30.

Lanjut, ada komentar lagi dari Ikhwan. Seperti ini, "Bagi dua, timbang sampai sama berat". Saya beri nilai 65. Karena cara ini menurut saya memang baik, tapi tingkat kerumitannya itu yang membuat saya menilainya kurang. Kue itu berbentuk tidak rata. Jadi kalaupun harus sama berat pasti rumit menimbangnya. Ingat, Andi dan Andini tak mau ada kecurangan dalam pembagian.

Hanya tiga orang yang mengomentari postingan saya. Saya ucapkan terimakasih atas ketersediaan waktu dan pikirannya.

Nah, sebenarnya postingan saya itu ingin memancing anggota grup untuk berani komentar dengan cara apapun. Karena dalam penyelesaian sebuah masalah cara apapun bisa digunakan. Ketiga cara yang diungkapkan diatas memang benar tak ada yang salah.

Mas Mukhtarullah mengajarkan arti berbagi. Mas Zaini menyelesaikan masalah tanpa solusi. Mas Ikhwan berusaha berbagi adil. Namun ketiganya punya satu kelemahan, yaitu masih memberikan sedikit kerumitan.

Sebenarnya ada cara yang paling simple atau sederhana. Mungkin ini tak terpikirkan atau memang sudah ada yang memikirkan tapi tak berani berkomentar. Yaitu, biarkan anak pertama yang membagi kue tersebut (misalnya Andi yang membagi) maka anak kedua yaitu Andini yang berhak memilih terlebih dahulu hasil pembagian Andi.

Cara itu begitu sederhana, tak perlu repot menimbang rata, menyuapi bahkan menyisakan lalu peegi dan memberikan ke orang lain. Itu adalah cara terbaik, karena siapapun yang membagi akan sangat hati-hati dikarenakan yang berhak melakukan pilihan hasil bagi adalah saudaranya terlebih dahulu. Andaikan ada yang berkomentar seperti itu saya beri nilai 100.

Dari sini, saya ingin berbagi sedikit pengetahuan. Bahwa segala masalah sebenarnya punya solusi sederhana untuk diselesaikan. Mahasiswa yang biasanya rumit dengan masalah tugasnya yang harus begini begitu. Sebenarnya ada saja solusi sederhananya untuk bisa mendapatkan nilai A tanpa ribet dengan tugas. Coba dekati dosen bahkan akrab, rayu mereka dengan karyamu (yang bersangkutan dengan MK), jadilah mahasiswa aktif dikelas dan lain sebagainya.

Seperti pengalaman saya di semester satu dalam mendapatkan nilai A yang awalnya rumit. Saya dan teman sekelas dituntut untuk menulis opini kemudian wajib terbit di media cetak (koran). Lah, saya yang masih sulit menulis opini akhirnya menulis cerpen (yang bersangkutan dengan MK) kemudian saya terbitkan di media online. Kenyataannya, dosen saya begitu mengapresiasi dan memberi nilai A. Menyederhanakan itu bukan membuat kita merasa sulit.

Dalam kesederhanaan terdapat kekuatan dahsyat, banyak orang merasa rumit sebenarnya mereka hanya terlalu lama dalam membuat suatu keputusan. Sederhana maksud saya bukan menggampangkan atau meremehkan sebuah masalah. Tapi sederhana adalah kemampuan kita menggunakan kecerdasan emosi dalam mengambil sebuah cara cerdas yang mampu memudahkan kita dalam menyelesaikan masalah.

#Semoga bermanfaat.

___
Di posting pertama kali di grup IKABIM STAIN Jurai Siwo Metro.

Terinspirasi dari buku "Motimorphosis", Aris Ahmad Jaya dan Siswoyo Haryono.

0 Response to "Kekuatan Kesederhanaan (The Simpler The Better) "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel