Interaksi dengan Mereka (Peminum Miras)

Ahmad Mustaqim (1501050097)
PGMI C / Semester dua

Miras atau minuman keras adalah minuman yang memiliki efek memabukan bagi peminumnya atau minuman yang memiliki kadar alkohol berlebihan. Sebuah analisis mengenai miras telah saya lakukan di desa tempat saya tinggal, dan hasilnya sungguh miris.

Generasi muda, atau katakanlah mereka yang berumur 16-22 tahun begitu akrab dengan nama Tuwak, Pigor, Mensen, dan Bir. Beberapa dari mereka pernah minum minuman itu bahkan ada yang melakukannya rutin atau sering (terjadwal).

Melalui pendekatan personal saya bertanya pada mereka yang pernah meminum minuman keras. Satu persatu menjawab, ada yang mengatakan awalnya iseng ikutan teman lalu ketagihan, ada yang merasa penasaran kemudian mencoba lalu ketagihan, dan ada yang memang suka dengan sensasi mabuknya.

Ketika saya bertanya jenis minuman apa yang sering diminum, mereka menjawab Tuwak. Alasan utama Tuwak adalah karena harga yang murah dan mudah dicari. Tapi, Bir dan Mensen pun juga dijajal olehnya (ketika keadaan ekonomi mereka sedang banyak).

Kemudian saya bertanya lagi, tentang alasan mereka berani minum minuman keras. Macam-macam jawaban, ada yang bilang seger sewaktu mabuk, menghilangkan masalah sejenak, ajang kumpul bareng teman, dan memang sudah kebiasaan.

Mereka menambahkan, meminum minuman keras ini paling nikmat ketika diberi "sodokan" alias makanan penunjang dan alunan musik remix dangdut. "Maka tak heran, banyak manusia nuwak di orgenan" ungkap salah satu dari mereka.

Pertanyaan terakhir yang saya ajukan pada mereka adalah mengenai efek samping dan dosa dalam agama. Mereka menjawab, sebenarnya mereka menyesal karena biasanya setelah meminum (miras) ada yang perutnya tak kuat menahan sampai muntah-muntah, bahkan mereka pun pernah mendengar langsung karena miras overdosis dan tewas. Secara agama, mereka mengatakan memang dosa, tapi mau bagaimana lagi semua sudah dilakukan dan memang manusia semuanya juga pasti berdosa.

Namun, dari semua interaksi saya dengan mereka. Sebagian besar dari mereka mengaku telah mengurangi meminum miras tersebut. Dan kalaupun minum biasanya hanya waktu tertentu ketika waktunya memang pas (alias pengen).

Miras (khamr), secara agama dilarang. Saya pernah mendengar cerita dari guru saya tentang pria yang dihadapkan oleh tiga masalah. Pertama, ia akan memperkosa wanita. Kedua, membunuh anak kecil. Dan ketiga, meminum miras (khamr).

Pria itu memilih minum miras (khamr) yang menurutnya dosanya paling kecil. Tapi, malah menimbulkan banyak masalah dan dosa. Ketika miras diminum ia mabuk dan hilang kendali. Akhirnya ia memperkosa wanita itu, kemudian juga membunuh anak kecil didekatnya. Jelasnya, semua masalah itu ia lakukan sebab miras. Sungguh miras memiliki efek yang begitu buruk, yaitu hilang akal sejenak. Hilang akal itu gila, jadi orang yang mabuk bagi saya adalah gila.

Begitu buruknya miras dalam kesehatan, mereka (peminum) yang saya tanyakan pun mengatakan sampai muntah-muntah. Dalam agama pun jelas, seperti contoh tadi misalnya. Karena itu agama pun mengharamkan miras.

Dalam kajian IPS, mereka peminum miras melakukannya lantaran pusing menghadapi masalah yang dideritanya, terutama masalah ekonomi. Maka, salah satu dari mereka mengatakan "minum miras rasanya menghilangkan masalah sejenak". Secara psikologi, mereka ada yang terbawa arus temannya, ikut-ikutan teman lalu malah ketagihan. Dan tindakan minum miras jelas merupakan sebuah penyimpangan sosial.

Semoga saja adanya interaksi saya dengan mereka dan saya memberikan sedikit pencerahan, mereka (peminum miras) bisa mendapat banyak hidayah dan berhenti meminum barang haram itu. Semoga.

PURWOSARI, 4 JUNI 2016

___
Tulisan ini dibuat guna memenuhi tugas UAS Mata Kuliah Konsep Dasar IPS yang diampu oleh bapak Tusriyanto, M.Pd

0 Response to "Interaksi dengan Mereka (Peminum Miras) "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel