Gara - Gara SBMPTN (2016)

Hari ini, entah rasa apa yang menyelimuti hati saya. Ada rasa tak peduli, rasa kasihan, rasa jengkel, bahkan rasa penasaran. Hari yang harusnya tak begitu berpengaruh buat saya, kenyataannya pun berbeda.

Adalah Pengumuman SBMPTN 2016, yang tepat pada pukul 14.00 WIB dapat diakses. Saya memang tak ikut serta sebagai peserta yang merasa tegang dengan hasil pengumuman ini. Tapi, setelah saya melihat hasil dari teman saya sendiri yang tak diterima, seketika itulah rasa campuraduk ini timbul.

SBMPTN, serasa musuh. Saya punya pengalaman dengannya yang tak menyenangkan. Dua kali saya "berkelahi" dengannya dan saya "kalah" terus. Marah dan jengkel rasanya. Niat, usaha, dan doa sudah sekuatnya tapi hasilnya mengecewakan.

2016 ini, ingin sekali saya "berkelahi" lagi dengannya. Tapi itu tak terwujud. Saya yang sudah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi agama islam (STAIN), merasa sudah nyaman dan tak perlu lagi pindah kampus. Beasiswa Bidikmisi yang diberikan oleh STAIN tak boleh saya sia-siakan.

Dari pengalaman itulah, saya sudah biasa dengan rasa kecewa karena gagal di SBMPTN (2014 & 2015), bahkan sampai menganggapnya musuh. Lantas saat ini, saya terpikir dengan mereka (peserta SBMPTN 2016) yang sudah sekuat usaha tapi masih gagal juga lulus PTN. Sesedih apa rasanya ya?

Apalagi yang memang tak diterima melalui jalur Bidikmisi. Dan ingin berusaha lagi di jalur mandiri PTN tapi takut biaya mahal. Ya, ini senasib dengan saya kala itu. Pokoknya bingung luar biasa, ingin kuliah tapi terkendala biaya.

Perlu diingat juga, meski saya merasa kecewa, jengkel dan marah karena SBMPTN, tapi itu tak berkelanjutan. Saya mencoba berbagai PTN/PTS/PTAIN yang memberi peluang untuk kuliah gratis (beasiswa).

2014 gagal SBMPTN, saya langsung bimbel agar lebih siap melawannya kembali, ditambah dengan doa (ibadah) sebanyaknya. Tapi, saya pun gagal lagi di 2015, saya langsung mencoba PMPAP UNILA (Kuliah gratis) dan UM Mandiri STAIN METRO. Akhirnya, STAIN METRO lah yang menerima saya dengan Bidikmisi.

Ya, mau bagaimana pun juga, saya di tahun 2016 ini yang sebelumnya berniat "berkelahi" lagi dengannya (SBMPTN) dan mengalahkannya dengan masuk PTN favorit tidak terlaksana. Tapi, tetap saya menganggapnya sebagai musuh.

Saya berjanji, "kelak saya akan menjadi manusia yang berpengaruh di negara ini, hai SBMPTN, aku akan jadi hebat, dan hebat ini jelas bukan karenamu. -Prof. Dr. H. Ahmad Mustaqim, M.Pd.I-"

Saya punya pesan, bagi yang gagal SBMPTN hari ini. Teruslah semangat, berusaha sebaik mungkin. Sebab hasil tak pernah membohongi usaha. Tapi ingat, "God's plan is always more beautiful than our desire".

Semoga kalian tetap sabar.

____
Metro, 28 Juni 2016

Foto: Kartu Peserta MYFAHMI, teman sekomplek rumah yang luar biasa perjuangannya.

0 Response to "Gara - Gara SBMPTN (2016)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel