Curhatan Ramadhan 1437H

Ramadhan, kau bulan yang begitu indah. Semua muslim bahagia menyambutmu. Kau datang dengan sejuta harapan. Kau datang dengan sejuta berkah.

Ramadhan, denganmu semua orang berlomba mencari kebaikan. Mencari pahala yang terlipat gandakan olehmu. Dan melakukan (ibadah) apapun untuk malam terbaik yang kau janjikan (Lailatul Qodr).

Ohh Ramadhan, karenamu yang tua sampai yang muda, mereka berhasil melawan nafsu dengan berpuasa. Melaksanakan ibadah tarawih yang terbaik. Dan membayarkan zakat fitrah untuk menyucikan dirinya.

Kau tahu, Ramadhan, setiap kali kau datang aku selalu bahagia, bahkan satu bulan sebelum kau datang aku sudah merasakan kebahagiaan itu. Tapi, itu dulu, ketika aku masih kecil. Saat aku suka bermain-main.

Dulu, aku selalu menyiapkan diri untuk berpuasa penuh sebulan (agar diberi hadiah). Dulu, aku selalu siap petasan untuk bermain bersama teman-teman.

Karena saat itu, setiap ba'da subuh desa tempat aku tinggal ini punya tradisi yang menyenangkan. Kami selalu perang petasan, meski petasannya berbunyi kecil.

Ketika subuh telah selesai, semua warga keluar untuk jalan-jalan pagi. Yang anak-anak sepertiku bermain petasan dan yang tua seperti ibu bapakku hanya jalan-jalan menikmati keramaian pagi. Sungguh itulah saat paling ramai meskipun setelahnya kami harus berangkat ke sekolah. 

Perang petasan, bukan kami saling musuhan setiap kau datang. Tapi ramadhan, kami hanya bermusuh sementara sekedar menikmati keseruan main bersama. Setelah itu, kami bahagia luar biasa. 

Namun sekarang, entah kenapa, tradisi itu sudah tak ada lagi. Sungguh modernitas ini membuatnya hilang. Generasi kecil sekarang lebih senang tidur lagi setelah subuh. Bahkan, lebih memilih untuk bermain smartphonenya daripada keluar bermain bersama.

Saat menyambutmu yang perdana, dulu desa kami begitu ramai rombongan yang jalan-jalan. Tapi perdana kali ini, sangat sepi. Aku pun bertanya, "dimana generasi selanjutnya setelahku?"

Padahal, kebiasaan (tradisi) itu sudah turun-temurun dari dulu. Mungkin memang benar, modernitas ini membuat semuanya begitu malas untuk keluar rumah. Main petasan dianggap tak seru daripada main Smartphone. Jalan-jalan pagi dianggap tak seru daripada berkendara motor.

Ahh, sudah, biarlah. Apapun yang hilang, yang penting semuanya senang menyambutmu datang. Tapi, rasanya betapa lebih bahagianya diriku kala itu.

___
Metro, 26 Juni 2016
Ramadan 1437

0 Response to "Curhatan Ramadhan 1437H"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel