Tersengat Tegangan Petir

Ini adalah pengalaman yang patut saya ceritakan. Sebuah musibah yang belum pernah saya alami. Bagi banyak orang mungkin ini biasa, tapi mungkin ada juga yang menganggapnya mengerikan.

Sore hari ketika waktu menunjukkan  untuk shalat maghrib. Seisi rumah pun bersiap untuk beribadah. Keadaan saat itu sedang hujan deras dengan guntur beserta petir yang sangat mengagetkan.

Adik bungsu saya kala itu sedang duduk bersama temannya di ruang tamu, mereka bermain catur saat setelah shalat dan selesai mengaji. Ibu saya sedang berwudhu diluar rumah. Ayah dan adik pertama saya sedang didepan televisi duduk santai menunggu giliran untuk berwudhu. Berbeda dengan saya, saat itu saya baru saja selesai mandi. Saya pun langsung masuk kamar untuk mencari pakaian.

Seusai berpakaian, entah mengapa mata saya langsung tertuju pada smartphone yang saat itu lampu notifikasi sedang berkedip. Ternyata notifikasi Facebook dan BBM. Saya pun membuka notifikasi tersebut, karena koneksi lemot (membuka Facebook) saya menunggu dan masih memegang smartphone tersebut.

Seketika,, "duaaarrrrr" saya terpental kebelakang serasa dipukul sekuat tenaga. Listrik pun langsung padam. Saya mencoba untuk bangkit namun berat sekali badan ini. Kaki dan tangan kaku sesaat (sekitar 15 detik), saya terdiam kemudian bangkit. "Tersambar petir ini", ungkap saya saat sadar. Saya mendekat kembali ke smartphone karena saya pikir meledak, namun setelah saya cek alhamdulillah aman saja.

Tiba-tiba ayah saya menjerit "Lampu dimana lampu, cari..., cari..., sakit ini badan saya". Saat itu juga saya langsung menghidupkan flash smartphone dan mendekat ke sumber suara. Astagfirullah, ternyata televisi dekat ayah dan adik saya tersambar petir dan hangus. Ayah saya yang paling dekat pun merasa kesetrum kuat hingga merangkak pindah keruang tengah (saking shock nya). Pipinya bengkak berdarah (terhantam pecahan boster televisi). Dengan shock ayah saya berkata "saya gosong nggak ini? badan rasanya panas sekali".

Ayah saya duduk terdiam seperti saya sebelumnya (kaki dan tangan kaku sesaat). Adik pertama saya justru berbeda dengan ayah saya, ia malah tidak mengalami reaksi apapun (kecuali kaget dengan gunturnya) bahkan kesetrum pun juga tidak. Ibu saya kaget dengan guntur dan adik bungsu beserta temannya yang sedang bermain catur pun merasa ada yang memukulnya (alias kesetrum), namun tidak separah saya dan ayah saya.

Pipi ayah saya yang bengkak dan berdarah pun kami obati hingga pendarahan berhenti. Setelah itu saya mendatangi televisi. Saya kaget, tepat dibelakang televisi terlihat bekas api (tembok gosong) dan pecahan boster tv, plafon hingga stopkontak jatuh terurai dilantai akibat sambaran petir. Keadaan diruang itu mendadak penuh asap dan bau bakaran.

Saat Ibu saya masuk ke kamarnya, ternyata kipas angin rumah juga pecah. Pokoknya elektronik yang ada dirumah kami semua tersambar.

Dalam hati saya, "alhamdulillah, Engkau masih melindungi kami semua". Saya tak habis pikir bagaimana jika petir itu yang menyambar saya, bukan elektronik dirumah saya. Saya melihat tembok pun bekasnya sampai hangus karena petir, bagaimana jika saya?.

Setelah kejadian ini, tetangga saya pun berbondong datang untuk memastikan apa yang terjadi, ada yang ketawa, takut, bingung, dan pada akhirnya mereka semua kaget dan juga heran.

Saat saya telusuri lebih lanjut, ternyata banyak faktor yang menyebabkan semua ini bisa terjadi dan alhamdulillah saya dan ayah saya hanya kesetrum sesaat oleh tegangan tinggi.

Televisi dan boster terbakar hingga ayah saya kehantam pecahan boster, ini adalah pusat petir datang dan letaknya tidak jauh dari ayah saya saat duduk. Ayah saya sembari bersandar didinding dan dinding itu merupakan satu jalur dengan bekas petir di tembok belakang televisi. Karena ini, ayah saya kesetrum kuat dan pecahan boster menghantamnya.

Adik pertama saya (yang dekat dengan ayah saya) aman saja, ternyata ia sedang memakai sandal dan hendak berwudhu. Mungkin karena ia tidak kontak langsung dengan dinding ataupun lantai.

Kipas angin pecah, saat itu keadaan kipas sedang off, namun colokannya masih nyolok saja. Kemungkinan aliran listrik dari petir mengalir melalui kabel (lewat sambaran di boster televisi kemudian menyebar) dan masuk ke berbagai elektronik yang ada dirumah, termasuk smartphone saya.

Saya terpental, saat itu smartphone sedang saya cas, kemungkinan tidak jauh berbeda dengan kipas angin. Saya melihat api biru dilayar dan tiba-tiba kesetrum lalu mental. Untungnya charger smartphone saya yang rusak bukan smartphonenya.

Adik bungsu saya dan temannya terasa kesetrum, mungkin karena posisi mereka duduk dilantai, karena lantai dapat mengantarkan listrik.

Kemungkinan lain yang diungkapkan teman saya adalah keadaan rumah saya yang tidak terletak jauh dari sebuah tower (menara). "Resiko nya ya pasti begini" ungkapnya.

Musibah memang tidak bisa diduga kedatangannya. Namun dari pengalaman yang saya ungkapkan ini, mohon untuk berhati-hati ketika hujan datang dengan guntur beserta petir.

Matikan/jauhkan handphone dan jangan mengecas saat seperti itu. Jangan pula mencolokkan berbagai elektronik saat petir berbahaya datang. Seperti televisi dan kipas angin saya yang semua dalam keadaan nonaktif, namun masih bisa tersambar akibat aliran listrik dari petir melalui kabel.

Pencegahan itu lebih baik, semoga pengalaman saya ini bisa meningkatkan kehati-hatian pembaca untuk kedepannya. Saya dan ayah saya termasuk beruntung, jangan sampai pembaca yang mengalami ketidakberuntungan itu.

___

https://www.youtube.com/watch? v=jsY3Q9vS1OQ&fulldescription=1&gl=ID&hl=id&client=mv-google

Alhamdulillah saat ini keadaan saya dan ayah saya baik saja, hanya sedikit nyeri di bagian kaki (saya) karena kesetrum dan luka pada pipi serta pundak ayah saya akibat hantaman boster yang meledak serta listrik yang masih dalam keadaan konslet.

Metro, 31 Maret 2016
18.29 WIB (kejadian)

Semoga ada manfaatnya.

0 Response to "Tersengat Tegangan Petir"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel