BLANTERWISDOM101

RTAR VII Rayon PGMI STAIN Jurai Siwo Metro

10 April 2016

RTAR atau Rapat Tahunan Anggota Rayon. Sebuah agenda tertinggi dalam organisasi yang saya ikuti, PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Agenda yang sebelumnya sudah dibahas dalam diskusi atau follup (bertempat di sekampung rumah Okta, 25 Maret) dan pada hari ini tanggal 10 April 2016 acara RTAR VII Rayon PGMI resmi dilaksanakan.

Beberapa hari sebelumnya, saya selaku warga PMII sudah diberi undangan oleh mereka (kader semester 4). Namun, saya hanya membaca sekilas undangan tersebut, sebab saya pasti datang karena saya ingin tahu proses RTAR itu sendiri dan memang tidak ada halangan apapun. Alasan lain  karena saya ditugasi untuk memimpin doa pada acara itu. Ya, pasti wajib hadir.

Acara kali ini berbeda dari rayon-rayon sebelumnya (PBS, PAI, DLL) yang biasanya berlokasi di komisariat ataupun di balai desa 38. Rayon PGMI dengan bangga bisa memilih Koramil 411 Metro (samping PB Swalayan) sebagai tempat untuk agenda tertinggi ini.

Hari ini, dengan terburu-buru saya datang ke Koramil. Padahal jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Saat sampai dilokasi ternyata masih sepi, akhirnya saya pun mampir ke kontrakan teman sekelas sekaligus warga PMII juga (Anwar).

Memang masih terlalu pagi, sebab di undangan terjadwal mulai pada jam8. Akhirnya, saya pun bersantai di kontrakan sembari menunggu jam8 pagi. Saya pun terbaring santai dikasur sembari menulis dan menghafalkan doa yang hendak saya ungkapkan di acara RTAR ini.

Hingga tak terasa waktu telah menunjukkan jam8 lewat. Akhirnya saya dan Anwar bergegas ke Koramil. Sesampainya disana sudah banyak yang datang, segenap panitia dan ketua rayon PGMI (yang hendak digantikan di RTAR ini, Nurul Fauziah) sudah ada dilokasi. Tak ketinggalan mas Kaisar selaku ketua komisariat juga telah datang lebih dulu dari saya.

Setelah saling sapa dengan mbak Nurul dll. Saya pun masuk ke ruangan, duduk santai sembari menghafal ulang doa yang hendak saya ungkapkan. Tak lama, akhirnya acara RTAR VII Rayon PGMI di Buka.

Acara pertama adalah pembukaan. Acara yang dihadiri dan disambut oleh ketua cabang, ketua komisariat, ketua rayon (yang akan digantikan), ketua pelaksana, dan seluruh warga serta kader rayon PGMI dan PGRA serta dari rayon lain yang di undang.

Lancar, aman dan nyaman. Itulah gambaran untuk acara pembukaan RTAR yang secara resmi dibuka langsung oleh ketua cabang, Mudasir Nain. Satu pesan yang saya dapatkan dari sambutannya untuk acara RTAR ini adalah, "Ini merupakan acara atau agenda tertinggi dari setiap rayon, jadi dimohon untuk serius, namun seriusnya jangan serius-serius banget karena nanti malah tegang".

Bagi saya yang masih semester dua, RTAR adalah acara yang masih belum dimengerti sepenuhnya. Saat saya bertanya kepada mereka yang sudah mengetahui, "intinya pemilihan ketua rayon baru, dan harus paham teknik sidang". Pada akhirnya memang benar seperti itu, segala sesuatunya diputuskan melalui sidang.

Dari semua acara yang dilaksanakan, ada hal yang membuat saya mendadak kaget di salah satu acara itu, saya ditunjuk untuk menjadi pimpinan sidang (untuk menyampaikan hasil diskusi kelompok mengenai program kerja rayon PGMI untuk kedepannya). Secara sengaja (diatur panitia) atau tidak, saya yang masih belum paham betul mengenai sidang malah dipilih oleh kelompok untuk menjadi pimpinan sidang. Akhirnya saya memberanikan diri untuk maju (dengan dipandu Arini Kartika selaku sekretaris sidang saya) menjelaskan hasil diskusi program kerja untuk Rayon PGMI. Banyak interupsi (dari senior), tidak sepakat, dan berbagai opsi dari warga lainnya mengenai hasil diskusi kami. Dengan lugu dan radak bingung saya pun pede saja sambil cengingisan.

Ada satu hal yang teringat, saat saya mengetuk palu sidang (telah disepakati), saya ditegur oleh senior, Teddi Hilmawan. Sebab saya tidak melihat bahwa ia melakukan interupsi. "Mohon pimpinan sidang, ketika ada yang interupsi (walaupun hanya satu) jangan diketuk dulu, semua memiliki hak suara" dan seterusnya ia menjelaskan. Saat itu saya hanya manggut saja. Warga lain hanya berkata "Kan, sudah diketuk palu".

Begitulah saya, pertama kali menjadi seorang pemimpin sidang. Mungkin banyak hal yang secara teknis salah ataupun lucu. Namun bagi saya pribadi, ini adalah kesempatan bagi saya untuk berani maju (siap) dan belajar.

Acara terus berlanjut dengan berbagai sidang yang dijalani untuk sebuah keputusan yang disepakati. Banyak yang interupsi, memberikan opsi, menambahkan, menghapuskan, dan ada juga sedikit debat pendapat. Ya, seperti itulah acaranya, sesuai dengan yang dikatakan ketua cabang "Serius tapi jangan serius-serius banget, nanti malah tegang". Semuanya berjalan dengan happy dan tanpa ketegangan.

Dalam satu kesempatan acara, sebelum inti RTAR dilakukan. Kami seluruh warga dan kader PGMI serta PGRA mengucapkan selamat kepada Nurul Fauziah beserta jajaran pengurusnya telah menjadi demisioner dan tak lupa ucapan terimakasih kami hanturkan atas waktu dan kesempatannya dalam membina kami selama masa jabatan di rayon.

Waktu terus berjalan dan tak terasa telah sore. Tibalah saat yang ditunggu, acara puncak RTAR VII PMII Rayon PGMI, pemilihan ketua rayon baru.

Dari hasil kesepakatan sidang, bakal calon ketua rayon sedikitnya harus memiliki satu suara untuk maju menjadi calon ketua rayon dan bersaing menjadi ketua rayon. Hasil vote telah memberikan siapa saja nama calon yang akan bersaing. Ada sembilan nama calon yang pada akhirnya hanya tersisa empat, lima calon lainnya atas keputusannya sendiri mereka mundur. Mereka yang tersisa adalah Arini, Anisa, Nia, dan Bayu.

Akhirnya, dilakukanlah vote terakhir untuk penentuan sebenarnya ketua Rayon yang akan terpilih. Semua dibagi lembaran kertas dan mengisi satu nama calon yang hendak dipilih. Dengan senang hati saya pun memilih satu dari mereka. Setelah selesai mengisi kertas vote, kertas itu dikembalikan dan dihitunglah hasilnya.

Hasil vote dibuka satu persatu dan dihitung secara terbuka. Terjadilah persaingan seru antara tiga calon, Arini, Nia dan Bayu. Suara yang mereka dapatkan tidak terlalu selisih jauh. Namun diakhir vote, tertera dalam karton perhitungan vote atas nama Bayu Sugara telah mendapatkan suara terbanyak.

Inilah keputusan dan inilah hasilnya, Bayu Sugara telah mengalahkan tiga pesaingnya untuk kursi kepemimpinan di Rayon PGMI. Tugas berat, amanah dan tanggung jawab harus siap ia jalankan.

Ketika acara sudah terlaksana dengan baik dan terpilihlah seorang pemimpin baru, dengan segera acara penutupan RTAR pun dilakukan (berhubung waktu semakin sore).

Seperti acara pembukaan, acara penutupan dihadiri dan disambut oleh ketua cabang, ketua komisariat, ketua domisioner, ketua rayon (baru), ketua pelaksana, dan seluruh warga serta kader rayon PGMI dan PGRA serta dari rayon lain yang di undang. Dalam acara ini, saya selaku pembimbing doa mendoakan agar ketua rayon baru dapat menjalankan segala amanah dengan sebaik-baiknya.

***
Saya selaku penulis, dengan bangga mengucapkan "Selamat atas terpilihnya Bayu sebagai ketua rayon baru". Inovasi dan pemikiran hebatmu selalu kami tunggu untuk pergerakan PMII yang lebih baik, khususnya PGMI.

Saya berpesan, jadilah pemimpin yang mau menerima pendapat meskipun ia hanya suara kecil. Seperti teguran mas Teddi pada saya saat sidang yang pada intinya, meskipun satu pendapat yang berbeda maka hargai dan dengarkanlah.

Saya pun juga teringat akan Hadits nabi SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari, "Ingatlah bahwa didalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika ia baik maka baik pula seluruh jasad, jika ia buruk maka buruk pula seluruh jasad, ketahuilah ia adalah Hati". Semoga Bayu Sugara adalah pemimpin yang memiliki hati paling baik.

___
Mohon maaf jika dalam penulisan ada kekeliruan.
Pada intinya, ini hanyalah pengalaman yang saya tulisankan guna tersimpan abadi di diary online.
Semoga ada hikmah yang bisa diperoleh dari tulisan ini. Hhe
Untuk foto yang lain, besok di post lagi.

Metro, 10 April 2016
23:57 WIB

Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir. Yang jelas, yang kamu lihat saat ini adalah Aku yang versi numpang di jasad bernama Ahmad Mustaqim."