Jangan Berhenti Menulis!

Ada hal menarik dan sangat memacu semangat saya untuk terus membaca dan menulis, yaitu kiprah seorang bapak bernama Puji Widodo, selaku Ketua Bidang (Kabid) SMP, SMA, dan SMK Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur.

Ditengah kesibukan beliau yang sangat padat untuk membina sekolah-sekolah yang ada di seluruh Kabupaten Bojonegoro dan masalah pendidikan secara umum, namun masih meluangkan waktu dan kober untuk menyalurkan hobinya, yaitu membaca dan menulis. "Membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, keduanya harus berjalan beriringan. Ilmu yang didapatkan akan hilang jika tidak ditulis. Menulis adalah kegiatan mengikat ilmu, papar orang yang sudah menerbitkan buku berjudul "Inspirasi Sang Guru" ini.

Namun kalau kita lihat realitas sekarang tradisi membaca dan menulis sudah mulai redup dikalangan masyarakat umum, khususnya di dunia pendidikan. Ini sesuai dengan yang pernah disampaikan oleh Ustad Abdul Azis Darji, Lc selaku Kepala Sekolah SMPIT dan SMAIT Al-Uswah Tuban "Ada empat tradisi di dunia pendidikan sekarang yang sudah mulai hilang, yaitu; Menghafal, membaca, menulis, dan bertanya.

Perintah membaca dan menulis.
Di dalam Al-Qur'an banyak sekali perintah dan contoh dari ulama terdahulu, termasuk dari orang cerdik pandai agar kita termotivasi untuk mentradisikan membaca dan menulis ini, diantaranya adalah:

1. Surat Al-Alaq (96) ayat 1. "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan"

2. Surat Al-Alaq (96) ayat 3-4. "Wahai Muhammad, Bacalah Al-Qur’an. Tuhanmu adalah Tuhan Yang Mahamulia. Tuhan yang mengajari manusia menulis dengan pena"

3. Syekh Sayyid Quthub, beliau membaca Al-Qur’an di malam hari dan merenunginya, saat siang harinya beliau tulis, saat di penjara bisa melakukan perlawanan terhadap jenis
kezaliman yang ada pada saat itu.
Ketika fisiknya dibatasi oleh jeruji penjara, ia tetap bisa melawan dengan menulis. Karya beliau yang terkenal sampai sekarang adalah tafsir Fii dzilalil Qur'an.

4. Buya Hamka, tetap bisa berdakwah, bisa berbagi ilmu, dan bisa melakukan perlawanan dengan menulis. Ketika beliau dipenjara, beliau tetap menulis dan bahkan menghasilkan satu karya fenomenal, yakni Tafsir Al-Azhar.

Napoleon Bonaparte sang singa daratan Eropa juga pernah berkomentar: “Aku lebih suka menghadapi seribu tentara daripada satu orang penulis”. Seorang jenderal bisa mengerahkan kekuatan seribu tentara, tapi seorang penulis bisa
saja menginspirasi ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu, atau bahkan jutaan orang untuk melakukan perlawanan.

Menulis merupakan bentuk usaha untuk melawan dan menaklukan tantangan hidup.
Menulis adalah salah satu senjata untuk melakukan perang opini.

Ada istilah pena lebih tajam daripada pedang, maka jangan berhenti menulis!

___

Tulisan ini adalah karya Nurhasan, saya mendapatkannya dari grup WA (GBM -  Regional Pusat). 

0 Response to "Jangan Berhenti Menulis! "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel