Perspektif Manusia Zaman Rasulullah dan Manusia Modern Tentang Gerhana Matahari

Gerhana Matahari adalah peristiwa hilangnya cahaya matahari total atau sebagian karena antara Matahari, Bulan, dan Bumi berada pada garis yang lurus. Gerhana Matahari merupakan sebuah fenomena alam yang langka terjadi sebab harus menunggu puluhan hingga ratusan tahun untuk dapat menemukannya kembali.

Khusus pada hari ini 9 Maret 2016, Indonesia menjadi sasaran para penikmat gerhana matahari. Mulai dari warga Indonesia bahkan para pendatang dari negara lain. Sebab, gerhana matahari total akan melintasi berbagai daerah di Indonesia, tepatnya di 12 provinsi.

Dalam tulisan ini saya mencoba sedikit mengungkapkan perspektif manusia zaman Rasulullah dengan manusia modern saat ini terhadap fenomena gerhana matahari. Seperti yang kita tahu bahwa saat ini manusia cenderung lebih mengandalkan sains.

Sebenarnya fenomena ini telah terjadi di era Rasulullah. Dalam sebuah Hadits Shahih Muslim diriwayatkan "Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah SAW. Nabi lantas berdiri takut karena khawatir akan terjadi hari kiamat, sehingga beliau pun mendatangi masjid kemudian beliau mengerjakan shalat dengan berdiri, ruku', dan sujud yang lama. Aku belum pernah melihat beliau melakukan shalat sedemikian rupa."

Dalam sebuah story yang saya baca di berbagai media, peristiwa itu terjadi pada 27 Januari 632M. Gerhana matahari tersebut bertepatan dengan wafatnya putra Rasulullah SAW, Ibrahim. Sontak fenomena ini langsung dikaitkan dengan kematian tersebut. Kaum Muslimin menganggap peristiwa itu sebagai mukjizat. Mereka menganggap gerhana matahari terjadi sebab kematian Ibrahim.

Hal ini pun terdengar oleh Nabi. Kemudian beliau menemui kaum Muslimin dan menegaskan terjadinya gerhana matahari bukan karena kematian Ibrahim. Dalam sebuah Hadits ditegaskan ”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua ayat (tanda) diantara ayat-ayat Allah. Tidaklah terjadi gerhana matahari dan bulan karena kematian seseorang atau karena hidup (lahirnya) seseorang. Apabila kalian melihat (gerhana) matahari dan bulan, maka berdoalah kepada Allah dan sholatlah hingga tersingkap kembali.” (HR. Bukhari &   Muslim)

Dalam hal ini, masyarakat yang awalnya berpandangan bahwa gerhana sebagai mukjizat atas wafatnya Ibrahim bin Muhammad, atas penjelasan Rasulullah mereka langsung menyeru "Asshalaatu Jaami'ah" sebagai tanda kebesaran Allah SWT.

Manusia di zaman tersebut menganggap bahwa gerhana matahari adalah tanda kebesaran Allah SWT, karena itu berbagai amalan dan sunnah dikerjakan atas dasar tuntutan yang dianjurkan baginda Rasulullah SAW.

Lantas, apa yang membedakan mereka dengan manusia saat ini? Jelas banyak, apalagi di era modern seperti ini, berbagai kejadian apapun bisa dijelaskan oleh sains. Saya pun mengutip "Sebaik-baiknya umat adalah umat dizaman Rasulullah", atas dasar ini saya beranggapan manusia saat ini sangat berbeda baiknya dari zaman (Rasulullah) dulu.

Saya beri perbandingan, ketika terjadi gerhana, manusia zaman Rasulullah menganggap gerhana sebagai suatu hal yang spesial (untuk menjalankan sunnah), bahkan mereka merasa takut (beranggapan bahwa Allah akan menuruntukan azab) atas kuasa-Nya, hingga mereka melakukan ritual sunnah demi mengharapkan ampunan Allah SWT.

Berbeda dengan sekarang yang segala peristiwa dapat dijelaskan secara ilmiah. Manusia modern juga menganggap gerhana sebagai momentum yang langka dan spesial. Karena itu, banyak dari mereka mengabadikan dengan pesta foto, nonton bareng, hingga mengundang artis sekalipun. Tak jarang pula mereka yang mengetahui sebab dan akibat terjadinya gerhana secara ilmiah terkadang menganggapnya hal yang biasa saja (tidak ada rasa takut), bahkan mungkin ada yang dalam suasana gerhana namun masih tertidur pulas. Oleh sebab itu, yang perlu di ingat adalah mereka terkadang lupa bahwa ini adalah kuasa Allah, hingga mereka melalaikan amalan sunnah yang seharusnya bisa menguntungkan untuk dirinya sendiri.

Oleh karena itu, kita sebagai umat muslim yang mengakui bahwa sebaik-baiknya manusia adalah Muhammad SAW. Sudah sepatutnya kita mencontoh perilaku beliau dalam menyikapi peristiwa gerhana ini.

Rasulullah SAW telah berpesan “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR Bukhari)

Pada dasarnya semua amalan yang dianjurkan Nabi SAW dalam menyikapi gerhana adalah sunnah (muakkad). Namun, kesempatan tidak datang dua kali, bisa jadi kita harus menunggu lama untuk menemukan momentum gerhana seperti ini. Semoga di hari ini kita semua telah mengerjakan amalan sunnahnya seperti shalat, dzikir, berdoa, bersedekah, istighfar, dan lain sebagainya. Hingga yang paling utama adalah sadar akan kuasa Allah SWT.

”Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kalian sujud (menyembah) matahari maupun bulan, tapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika memang kalian beribadah hanya kepada-Nya.” (QS. Fushshilat: 37)
Subhanallah.

Wallahu A'lam Bishawab.
Semoga bermanfaat.

___
Sumber : berbagai media online (darussalaf, kabarmakkah, okezone, islampos, bbc, tribunnews, dll)

*dipost dalam akun FB (setelah terjadi gerhana matahari pada 09-03-2016)

0 Response to "Perspektif Manusia Zaman Rasulullah dan Manusia Modern Tentang Gerhana Matahari"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel