Janganlah Kamu Berburuk Sangka

#TrueStory


Oleh : Newisha Alifa
Sekitar dua tahun lalu, teman satu angkatan saya di organisasi kampus menikah. Baik dari mempelai wanita dan pria, keduanya mengenal saya. Pun sejak tahun 2011 saling mengenal, tak pernah ada satu pun masalah terjadi di antara kami bertiga.

Tiba-tiba saja, angkatan kami dikejutkan dengan di-upload­-nya foto-foto resepsi pernikahan sepasang sejoli ini. Seorang teman BEM lainnya pun mengirim pesan via inbox Facebook.

“Si X dan Y nikah ya? Kok nggak ngundang-ngundang?”
Saya terkejut membacanya, lalu segera mengecek kebenaran informasi tersebut ke profil keduanya. Dan benar saja! Mereka telah resmi menjadi sepasang pasutri berdasarkan foto-foto yang terpampang jelas di sana.

Seketika nyeri menjalari hati. Salah apa yaa saya, kok sampai nggak diundang?
Karena masih penasaran, keesokan harinya, saya pun mengirim BBM kepada teman perempuan BEM lainnya. “Beb, kamu diundang ke nikahannya X sama Y?”
Si Beb pun menjawab, “Diundang, Beb. Emang kamu nggak?”
“Nggak, Beb!” balas saya lagi, “terus, kamu datang ke acaranya?”
“Nggak juga sih, Beb. Aku ada acara kemarin.”
“Kenapa ya, Beb, aku kok nggak diundang?” tanya saya sedih.
“Masa sih? Mungkin kelupaan kali, Beb. Anak-anak yang lain diundang juga nggak?”
“Kayaknya sih nggak deh. Di fotonya nggak ada anak-anak angkatan BEM kita.”

#
Aih, cuma karena masalah sepele, saya bisa nggak enak hati gini. Kalau saya pernah ada masalah, berdebat atau sejenisnya dengan salah satu dari X dan Y saja, okelah, saya bisa memahami kenapa nggak diundang. Lah ini? Serius, saya merasa hubungan kami selama ini baik-baik saja. Tapi kok?

Akhirnya dengan niat mengklarifikasi, saya pun mengirim sms berisi selamat kepada pihak perempuannya. Setelah dia membalas dengan ucapan Terima Kasih atas doa yang saya haturkan, saya pun memberanikan diri bertanya, “Kok kamu nggak ngundang-ngundang aku sih?”

Lama tak ada jawaban darinya, resah kembali menggelayuti hati. Wahhh, jangan-jangan benar nih, saya sempat ada bikin salah apa yang nggak disengaja hingga membuatnya tak enak hati, dan tak menginginkan saya hadir di acara istimewanya. Astaghfirullah! Setan bermain lihaiiii sekali dalam hati.

Alhamdulillah, beberapa saat kemudian, dia pun menjawab pertanyaan saya. Ternyata, dia sudah menyampaikan pada teman kami si Beb tadi, supaya memberitahu teman-teman lainnya untuk menghadiri acara pernikahan mereka.
“Loh, emang si Beb nggak nyampein?”
“Nggak.”
“Ya ampun. Pantesan, aku tungguin kalian. Kok satu pun nggak ada yang datang,” balasnya lagi.

Perasaan geregetan pun seketika pindah ke si Beb. Saya ceritakan isi sms dengan si X bahwa dia merasa sudah mengamanahkan si Beb untuk menyebar kabar perihal pernikahan mereka. Ehhh ternyata si Beb jawabannya, “Masa sih, Beb? Aku tahunya dia cuma ngabarin ke aku aja, bahwa dia mau nikah.”
Howalaaaaah …
Jaka sembung semua deh!
Bersebab pesan yang gagal ditangkap, hampir timbul kesalahpahaman satu sama lain.
Tapi setidaknya saya bersyukur, karena tidak serta merta menyimpulkan suatu yang negatif pada diri teman-teman saya. Saya bersyukur karena tidak membiarkan prasangka buruk tumbuh liar dalam benak dan pikiran saya tentang mereka.

Alhamdulillah. Pengalaman ini merupakan pelajaran berharga bagi saya ke depannya, agar tidak tergesa-gesa dan membiasakan diri untuk tabayyun/klarifikasi terlebih dahulu , sebelum menyimpulkan sesuatu.

Bukankah, Allah sudah berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 12 :
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.”

Jadi, sebelum prasangka terlanjur menghitamkan hati, sebaiknya kita buru-buru istighfar yuk kalau gejalanya udah mulai terasa.

#Repost from WNews on January 31st 2016
#Newisha

0 Response to "Janganlah Kamu Berburuk Sangka"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel