Motimorphosis (Berubah Menjadi Lebih Baik)

Banyak orang mengharapkan agar waktu bisa kembali, tujuannya tak lain untuk merubah sebuah kesalahan atau kenangan buruk yang pernah dialami. Meskipun mengembalikan waktu adalah hal mustahil tapi tetap saja banyak yang berharap walau hanya sebuah ucapan. 

Saya pernah menjadi salah satu dari sekian orang tersebut. Sebab, kenangan buruk semasa SMA hendak saya perbaiki. "Andai waktu bisa kembali" begitulah kalimat yang terucap saat teringat kenangan tersebut. 

Masa SMA adalah masa terburuk dalam sejarah pendidikan yang saya alami. Saya tidak punya tujuan yang jelas untuk masa depan, saya hanya sekolah dan tidak pernah tahu untuk apa nantinya sekolah saya ini. Saya datang, saya main, saya bolos, saya nakal, saya tidur, dan banyak lagi.

Awal masuk SMA (kelas X) niat saya adalah menjadi orang paling pintar di kelas. Namun sayang, ini tidak tercapai. Apalagi karena saya adalah orang yang pemalu di kelas.

Lanjut di kelas XI, saat inilah keterpurukan datang. Biasanya selama seminggu saya hanya tiga hari masuk sekolah. Sering bolos, sering telat (terus pulang), tidur dikelas, mager (males gerak) berangkat sekolah, bangun siang terus males sekolah, dan banyak lagi alasan. Saya berkali-kali ditegur wali kelas dan disindir teman-teman. Bahkan pernah ada dalam pikiran saya, "Untuk apa saya sekolah, saya malu, saya tidak bisa bahagia disekolah" dan "mending saya ke pondok saja lah, belajar agama lebih jelas". Pikiran itu kadang datang setiap hari, bahkan pernah sampai terucapkan ke ibu saya. Oleh karena nakalnya saya di kelas XI, akhirnya saya mendapat rank 2 paling akhir. Namun saya beruntung memiliki sahabat yang selalu perhatian dan menasihatiku untuk tetap terus sekolah. Hingga akhirnya pikiran saya saat itu pun kalah. 

Setelah selesai dengan nakalnya saya di kelas XI, saya pun berubah drastis di kelas XII. Jujur saya akui perubahan ini tak lain karena dorongan seorang kekasih (semasa SMA hahaha). Sebab saya malu jika masih tetap bodoh. Saya pun berusaha aktif dikelas, rutin mengerjakan PR, dan ikut private ke rumah guru. Pada akhirnya usaha ini membuahkan hasil, saya rank 5 di kelas pada semester satu dan rank 4 pada semester dua (kali ini asli dari depan guys). Saya pun bahagia atas perubahan ini.

Di kelas XII inilah saya mulai sadar, betapa pentingnya nilai selama SMA. Sebab nilai itu akan di gunakan untuk pendaftaran SNMPTN. Sedangkan saya sendiri punya nilai yang sungguh hancur di kelas XI. Bahkan SNMPTN sangat memprioritaskan nilai semester 3 dan 4 (nilai Kelas XI). Saat itulah saya merasa pesimis, walaupun saya belum ada niat untuk masuk perguruan tinggi (sebab mahal). Namun, karena ini adalah sebuah peluang, akhirnya saya pun nekad ikut SNMPTN yang kemudian gagal lulus.

Masa SMA saya memang banyak sekali keburukan. Masa ketika saya tidak tahu tujuan menempuh pendidikan. Namun semenjak kelas XII akhir, saya mulai paham betapa pentingnya pendidikan, akhirnya saya putuskan ingin kuliah, ingin jadi orang berpendidikan hebat melebihi kedua orangtuaku, menjadi orang kaya dan sukses.

Maka dalam keadaan keluarga yang sederhana ini, saya berjuang sepenuhnya untuk bisa masuk perguruan tinggi dan harus dengan beasiswa (karena orangtua akan sulit untuk membiayai). Saya tahu, bahwa beasiswa S1 selalu memprioritaskan nilai SMA dan saya juga tahu nilai SMA saya pernah hancur. Namun dalam hati saya kala itu dipenuhi dengan niat yang begitu kuat, doa yang begitu kuat, dan usaha yang begitu kuat. Saya berusaha dengan mencari berbagai peluang dan informasi beasiswa yang kemudian saya ikuti test seleksinya. Tahun pertama (2014) saya gagal lulus semua.

Hingga akhirnya ditahun 2015, saya pun bisa kuliah (meski harus ditolak dulu dari berbagai test yang lain). Kini saya yang dulu pernah akan putus sekolah dan pernah rank 2 besar (dari belakang) telah menjadi mahasiswa. Seorang Mahasiswa di STAIN Jurai Siwo Metro Lampung, diterima dengan beasiswa Bidikmisi.

"Andai waktu bisa kembali" ketika kalimat ini terpikirkan kembali. Inilah yang saya inginkan, "Masuk di SMA, menjadi siswa paling pintar dikelas, belajar dengan serius, menjadi siswa yang aktif dan selalu sibuk disekolah, menjadi cerdas dengan nilai bagus, ikut SNMPTN dengan jalur beasiswa kemudian lulus, masuk di PTN terfavorit hingga lulus, mudah diterima dalam pekerjaan, menjadi manusia yang kaya dan akhirnya sukses."

Seperti itu, imajinasi yang terlintas. Lantas saat ini, usiaku yang sudah mendekati 20 tahun. Terlalu tua jika harus ngotot untuk masuk PTN terhebat di negeri ini (meskipun bisa). Karena bagi saya cerdas bukan ditakar dari PTN namun individu itu sendiri. Saat ini saya sudah cukup bangga bisa diterima PTAIN dengan jalur beasiswa. 

Kali ini tak lagi berharap pada kalimat "andai waktu bisa kembali" sebab itu mustahil. Saya hanya butuh sebuah perubahan besar, menjadi saya yang bukan seperti dulu.

Akhirnya, saya yang dulu tak pernah punya tujuan jelas dalam menempuh pendidikan. Kini saya telah memutuskan tujuan hidup itu. Saya masuk perguruan tinggi, saya harus jadi orang berani bukan pemalu, berani dalam bertindak dan siap ambil resiko, berani merubah pola pikir yang jauh lebih baik. Demi sebuah cita-cita, Dosen, Guru, Motivator, dan Penulis. Aamiin ya Rabb.

___
Motimorphosis, perubahan hebat yang saya alami. SMA-PTN

0 Response to "Motimorphosis (Berubah Menjadi Lebih Baik) "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel