Ikutan Valentine Day? Bolehkah?

Tepat hari ini 14 Februari 2016, hari yang kebanyakan orang menyebutnya dengan Hari Kasih Sayang atau lebih trendnya disebut dengan Valentine Day (VD). Saya melihat hari ini seolah-olah hari yang begitu istimewa. "Benarkah?" saya melihat di Facebook, Twitter, Line, Instagram dan berbagai macam Web Browser mendadak ramai dengan ucapan perayaan. Tak lupa, juga tersemat kata "Selamat...."-Selamat Hari Kasih Sayang atau Happy Valentine Day- dalam perayaan itu.

Entah saya heran atau risih atau bahkan ingin ikut merayakannya (VD) hingga lahirlah tulisan ini. Sekedar curhat dan juga berbagi. Saya menulis ini memang agak resah, tapi yang terpenting saya bisa lega setelah tulisan ini selesai. Saya punya teman baik yang merayakan VD ini (alasan trend), ada juga yang menolak keras merayakannya (alasan agama). Jujur saja, saya pun tak ikut merayakan hari kasih sayang ini. Kalau ada yang tanya, "Apakah karena alasan agama?" atau "Apakah karena tak punya pasangan?", maka dengan lantang saya akan berteriak, "YA. KEDUANYA!".

Valentine Day, jika kita melihatnya dari sisi sejarah, maka tak pernah ada kaitan dengan Islam. Tapi, ada yang mengatakan, Valentine Day sebenarnya bertepatan dengan hari jatuhnya kerajaan Islam di Spanyol (14 Februari 1492). Adalagi yang mengatakan bertepatan dengan ritual paganisme (Romawi), yakni upacara Lupercalia yang intinya: di hari itu para pemuda mengambil acak nama gadis yang ada di sebuah kotak, nama gadis yang didapatkannya itulah yang dijadikan pasangan selama setahun untuk bersenang-senang. Versi kasih sayangnya adalah sebagai hari memperingati kematian tokoh pejuang dan pembela cinta kaum Nasrani, St. Valentine. 

Apapun versinya, saya tak tahu pasti. Saya tak pernah diajari detil tentang ini kecuali kepo sendiri. Dan saya juga tak pernah peduli dengan Valentine Day, rasanya biasa saja "Nggak ada spesialnya, blass!". Masalahnya adalah budaya Valentine Day ini kian menjadi kebiasaan oleh kalangan umat muslim. Padahal dari banyak versi sejarah dijelaskan bahwa tidak ada kaitan sama sekali antara VD dengan Islam (kecuali bertepatan dengan runtuhnya Islam di Spanyol, itu pun hal yang sebenarnya buruk bagi Islam). Hal ini tidak bisa dipungkiri karena informasi apapun mudah di dapat, termasuk world trend, tentunya kiblat trend lebih condong ke Barat (karena mereka negara maju). Mudahnya sebut saja dengan Westernisasi.

Kebiasaan Valentine Day adalah kebiasaan yang sering dilakukan oleh non muslim. Disebutnya hari kasih sayang itu urusan mereka, sebab sejarah-sejarahnya mereka, dan tradisi juga tradisinya mereka. Jadi, "Nggak usah direpotin!". Bagi teman saya yang menolak ikut merayakan VD, dia takut karena alasan agama. Saya percaya itu. Lihatlah dalil ini "Barangsiapa menyerupai suatu kaum berarti ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Daud). Tentu  teman saya itu tak mau di golongkan dengan orang yang tak seagama dengannya, sebab: "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemahuan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (QS. Al Baqarah : 120).

Kemudian saya bertanya kepada teman saya satunya, tentu bertanya perihal yang ditakutkan (alasan agama teman saya sebelumnya). Teman saya yang ini punya pasangan (pacar) dan ikut-ikutan merayakan VD. Katanya, "Lah, yo ben, aku rak peduli wong liyo ngomong opo, cewekku jaluke ngono. Jarene ben kekinian. Jane yo mor saling ucap karo nukokne coklat tok, bro, rak neko-neko koyo sing di beritano nang TV," dia tertawa setelah mengatakan ini. Kalimat terakhirnya itu justru yang sebenarnya di takutkan. Apa yang ditayangkan berita TV? adalah berita tentang penggrebekan tempat-tempat "hiburan" dan berita kasus-kasus yang berkaitan dengan seks. Bahkan ada berita yang mengatakan kondom laris manis menjelang VD. Hayoo..., untuk apa mainan kondom? kalau yang mainan udah "Sah" monggo lanjutkan saja sampai pagi, Lah, kalau belum?

Dari yang saya paparkan diatas, saya sendiri punya kesimpulan. Memang apa yang ditakutkan teman pertama saya (Menolak VD) ada benarnya. Janganlah kita mengikuti (tradisi) suatu kaum yang jelas bukan dari kita. Tapi, bukankah mengikuti atau tidaknya itu tergantung niat? Teman saya yang kedua (Ikut VD) menjelaskan tak peduli apa kata orang lain, niat dia hanya membahagiakan yang dimau si pacarnya dan tidak aneh-aneh bahkan sampai berlebihan dalam mengikuti (yang katanya) trend tersebut.

Jadi menurut saya, mau tidak ikutan VD atau ikut tergantung niat pelakunya. Tak ikutan tentu itu lebih baik. Ikut pun ya silakan, asal jangan aneh-aneh seperti yang banyak diberitakan (Mesum everywhere, Sorry nyeplos). Kalau niat mau ngasih sesuatu (coklat, bunga, dll), kasih saja yang penting ikhlas agar barokah. Kalau menyebut Valentine Day itu hari kasih sayang, yasudah tebarlah kasih dan sayang ke semua "Manusia yang patut disayangi". Berbagilah dengan ikhlas apapun itu, kelak kebaikan yang diberikan akan memperbanyak pahala kebahagiaan dan keselamatan.

Kalau ada yang masih ngeyel, "Ikut-ikutan begitu jelas sama saja mengikuti mereka!". Jawab saja, "Ikutan dengan niat yang beda, Bro. Saya mau menebar kasih sayang bareng pacar saya ke panti asuhan, bagi-bagi permen coklat". Sekali lagi, mau ikutan karepmu ora yo karepmu, sing utomo iku niatmu, Gitu aja kok repot! (pinjam kalimat Gus Dur). Saya harap semua bisa menghargai dan jangan saling menyalahkan begitu saja. Saya juga berharap semoga tulisan ini membukakan hati pembaca (terutama perempuan) agar lebih memahami kedua alasan saya tidak mengikuti VD yang sudah saya jelaskan diatas.

(^,^) Afwan
Wallahu A'lam Bishawab.


0 Response to "Ikutan Valentine Day? Bolehkah? "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel