2015 Part 2 (Memorial)

“Shadaqallahulazhim” kulafalkan untuk menyudahi tadarus seusai shalat isya. Kututup AlQuran dan kuletakkan diatas lemari. Lekas aku keluar kamar dan menuju ruang makan. Ibu dan adik pertamaku juga ada disana, sementara ayah dan adik bungsuku sedang menonton televisi. 

Sambil menyantap hidangan malam yang nikmat. Masih terpikir dalam benakku, hasil pengumuman SBMPTN 2015 tadi sore.

“Bu, aku sudah lihat pengumumannya", aku membuka pembicaraan.
“Bagaimana hasilnya?”, jawa ibuku santai sembari menikmati makanan.
“Ahh... jengkel aku, bu, sama saja dengan tahun kemarin".
“Sudah... berarti bukan jodoh”, ibuku mencoba menenangkan. “Berarti mau cari kerja saja to?”, lanjutnya memastikan janjiku tentang gagal lulus di perguruan tinggi. 
“Yaa... harus bagaimana lagi, tapi aku mau coba yang lain dulu, aku ingin banget jadi mahasiswa lho, bu."
“Yasudah... semoga Allah memudahkan semua harapanmu ini, nak.”

Sejak lulus SMA, aku sudah berkeinginan untuk lanjut di perguruan tinggi. Namun masalah ekonomi yang membuatku harus berpikir sadar mahalnya biaya perkuliahan. Aku sudah berusaha dengan bidikmisi SNMPTN dan SBMPTN 2014 serta SBMPTN 2015, dan semua memberi jawaban yang sama, tidak lulus.

Seusai makan malam aku langsung kembali ke kamar. Tiduran santai menenangkan pikiran. Ting.. ting... ting.. ting... tiba-tiba terdengar dering HP tanda pesan masuk. Kuambil HP itu dari atas meja, kudapati sebuah pesan dari sahabatku.

“Sudah lihat hasilnya belum?”, sms dari Doni, sahabatku yang juga ikut bertempur dalam SBMPTN 2015.
“Aku nggak lulus Don, kamu sendiri?”
“Sama saja, aku juga nggak lulus, terus planing selanjutmu apa?”, tanya Doni memastikan tujuanku selanjutnya. Ada rasa senang ketika masih ada sahabat yang bisa diajak berjuang bareng lagi karena sama-sama gagal di SBMPTN 2015,  tapi kecewa juga, masih tak lulus padahal ini adalah kesempatan terakhirku. 
“Aku mau coba di STAIN Don, kamu sendiri gimana?”.
“Aku masih nunggu satu pengumuman lagi, Polinela. Ehh.., di Unila ada jalur masuk lain, namanya PMPAP. Jalur ini bebas dari biaya perkuliahan tapi biaya hidup pikir sendiri, aku mau daftar, ayo daftar!!”, ajaknya sedikit memberi semangat padaku. 
“Oke Don ayok!! kapan kita bisa ketemu, bahas ini?”, jawabku spontan tanpa ragu.
“Besok deh”
“Siap!!.. besok aku kerumahmu”

Esok harinya aku kerumah doni, kami membicarakan segala tentang PMPAP, dari persyaratan yang ribet juga tips dan trik untuk lolos jalur ini. Dari berbagai informasi yang kami dapat, test ini hanya menggunakan test wawancara. Namun, setelah mendapat informasi yang lebih jelas dari Unila, jalur PMPAP diadakan dengan test tertulis dan wawancara untuk pertama kalinya.

Seakan semangat ini kembali terkumpul ketika terbuka satu kesempatan lagi untuk bisa menjadi mahasiswa di kampus yang aku favoritkan, Universitas Lampung. 

*
Hari demi hari aku mulai sibuk mengumpulkan berbagai berkas yang dibutuhkan, dan belajar tekun untuk test tertulis nanti. Aku tak mau untuk kecewa kesekian kalinya. 

Saat semua berkas sudah terkumpul, dan hanya tinggal mendaftarkan diri di laman Unila. Tiba-tiba HP ku berbunyi, tanda pesan masuk.

“Gimana bro berkasmu?”, tanya Doni lewat sms. 
“Udah beres Don, tinggal daftar saja, kamu gimana?”
“Aku minta maaf ya, aku nggak jadi daftar, soalnya aku diterima di Polinela”, balasnya singkat. 
“Alhamdulillah, oke Don nggak apa, doain aku lolos deh ya”
“Oke brother, ohh yaa jadwalku daftar ulang sama dengan jadwal test PMPAP, kita bareng aja ke Bandar Lampungnya”
Yasudah iya Don, siip deh kalo gitu” balasku singkat. 

Seperti mendapat tekanan mendadak ketika tahu kabar dari Doni bahwa dia masuk di Polinela, “iri rasanya dia sudah lulus di PTN, lha, aku belum jelas masuk mana, ya Allah kasih kesempatan aku untuk kuliah di tahun ini” doaku dalam hati.

**
Hari terus berlalu hingga tiba H-1 untuk test PMPAP. Aku masih minat dengan Kimia MIPA, di PMPAP aku masih mengambil jurusan yang sama seperti SBMPTN 2015. Tak lupa sebelumnya aku juga sudah mendaftarkam diri di STAIN Jurai Siwo Metro, perguruan tinggi negeri di kotaku. Aku memilih jurusan PGMI, itu pun aku hanya disarankan dari guru PKN semasa SMA ku, pak Wardaya. Aku mendaftar di STAIN untuk menjaga asa kesempatan kuliah di tahun ini.



Sore hari, aku dan Doni berangkat ke Bandar Lampung. Sesampainya disana kami bermalam di rumah Kak Aziz, kakak Doni yang juga mahasiswa Unila. 

Pagi hari, diwaktu yang sama. Aku dan Doni harus pergi. Aku ke Unila untuk Test PMPAP, sedangkan Doni pergi ke Polinela untuk daftar ulang atas kelulusannya. 

Setibanya di Unila, aku langsung masuk di ruang Test, GSG. Aku dan para peserta PMPAP lainnya mulai mengerjakan test tepat pukul 08.00 pagi. Soal-soal testnya tidak jauh berbeda dari SBMPTN, bagiku ini sudah biasa. Selesai test tertulis ini, kami dijadwalkan untuk test wawancara esok harinya.

***
Tepat pukul 07.00 jadwal test wawancara akan dimulai. Aku harus datang tepat waktu. Urutan wawancara tidak langsung ditetapkan tetapi dipanggil satu per satu dengan nama peserta secara acak, jadi aku tak tahu kapan akan dipanggil. 

Malangnya nasibku, sudah berangkat terlalu pagi pulangnya paling akhir. Aku mendapat giliran wawancara paling akhir dan suasana sudah sangat sepi. Hari itu aku pulang jam 4 sore.

Namun, lega rasanya saat semua beres dan tinggal menunggu hasil pengumuman yang tidak bisa diprediksi. Aku berharap untuk lulus, kesempatan terakhirku untuk menjadi mahasiswa di kampus favorit Unila ini harus terwujud. 

Sekitar satu minggu pengumuman PMPAP akan beritahukan, tanggal 4 agustus 2015. Tak jauh dari itu, tanggal 6 agustus aku ada jadwal test di STAIN. Tapi rasanya, aku lebih tegang dengan pengumuman daripada harus memikirkan bagaimana test STAIN nantinya.

Hingga tanggal 4 agustus tiba, aku seperti biasa pergi menuju sumber koneksi paling high, warnet dekat rumah. Aku standby, jadwal pengumuman tertulis tepat pukul 17.00 bisa diakses. Sampai pada pukul 17.00 aku malah kesulitan membuka laman pengumuman, mungkin karena banyak yang membuka situs ini hingga lemot untuk dibuka.

Dan akhirnya, aku harus menunggu sampai habis maghrib untuk bisa membuka laman pengumuman. Seperti sebelumnya jantung ini serasa dag... dig... dug... penasaran. Saat kumulai melihat hasil pengumuman muncul, aku tersenyum ahh ini sudah biasa”, ungkapku setelah kubuka laman pengumuman dengan tulisan “Maaf anda dinyatakan tidak lulus dalam seleksi PMPAP”.

___
Mengenang perjuanganku untuk menjadi seorang mahasiswa. 
Urutan Story:

0 Response to "2015 Part 2 (Memorial)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel