2015 (Memorial)

Setiap orang pasti pernah merasakan kekecewaan ketika apa yang diharapkan mengalami kegagalan. Kita bisa memilih, untuk larut dalam kekecewaan itu atau terus bangkit. Ada yang berkata bahwa kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, itu bagi mereka yang pantang menyerah dan tak kenal putus asa.

Seperti yang aku alami saat itu, ketika apa yang telah aku harapkan mengalami kegagalan. SNMPTN dan SBMPTN di tahun 2014 semua memberi jawaban yang sama “Anda dinyatakan tidak lulus”. Beruntung aku bukanlah orang yang gampang menyerah ataupun putus asa. Justru ini membuatku lebih semangat untuk tahun berikutnya.

Kegagalan ditahun 2014 membuatku jauh lebih semangat. Aku punya waktu satu tahun untuk menyiapkan bekal menghadapi SBMPTN 2015. “Aku harus jauh lebik baik, harus lebih giat belajarnya, ini kesempatan terakhirku” ujarku dengan yakin. Memang ini yang terakhir bagiku, karena hanya inilah tahun terakhir menggunakan kesempatan bidikmisi, 2015. Aku tidak bisa membayangkan nasib kedua orang tuaku jika aku kuliah tanpa bidikmisi.

Aku mulai berpikir matang, tentang jurusan, peluang kesempatan bidikmisi dan revolusi belajar lebih baik. Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti bimbingan belajar (BimBel). Aku yakin di bimbel inilah aku bisa mendapatkan semua yang aku butuhkan untuk persiapan SBMPTN 2015 nanti. Aku bisa belajar dengan mereka yang ahli, berkonsultasi jurusan, serta membaca peluang masuk di sebuah perguruan tinggi. 

Namun aku harus berpikir, dari mana keluarga kami bisa mendapatkan uang untuk mengikuti intesif (bimbel), sedangkan orang tua menginginkanku untuk lebih mempertimbangkan bekerja dengan ijazah SMA daripada harus rumit masuk di perguruan tinggi. Dalam benakku, “Jelas orang tua tidak ada uang untuk membiayaiku, pasti mereka menolak”. Ini terkadang membuat semangatku menciut,  sangat berlawanan dengan hati. Aku bercita-cita bisa masuk di pergurutan tinggi favorit, menjadi orang berpendidikan jauh lebih baik dari kedua orang tuaku, menjadi panutan bagi adik-adikku, dan aku ingin sukses lewat jalan ini.

Perlu waktu lama untuk menjelaskan semua harapan ini pada kedua orang tuaku, lebih dari dua bulan aku perlahan menjelaskannya. Hingga pada akhirnya mereka menyetujui dan mendukung sepenuhnya. Namun ibuku menyarankan untuk tidak usah jauh-jauh dalam memilih sebuah perguruan tinggi.

“Aku ingin di Unila?”
“Boleh, tapi harus modal dulu untuk biaya hidup dan lainnya”, jawab ibuku.
“Kalau mau kuliah disini, adanya Cuma STAIN, IAIM NU, dan UMM. Tapi aku tidak tahu bagaimana sistem bidikmisinya, jalurnya kan beda, bu”, jelasku.
“Yasudah dicari tahu, kalau ada peluang ya diambil, jangan SBMPTNnya saja, harus ada rencana lain kalau Unila bukan jodohmu”, nasihatnya padaku.

*
Waktu terus berlalu, aku sering meminta saran dari kedua orang tuaku. Terus ku ungkapkan harapan ini padanya,  hingga akhirnya mereka mendukungku sepenuhnya. Karena itu, aku harus lebih giat belajar dan mencari informasi sebanyak mungkin tentang peluang bidikmisi. 

“Aku harus ikut bimbel, disitulah informasi banyak, aku pasti bisa belajar lebih baik dari mereka yang ahli, bu, pak”, ungkapku pada mereka. “Kalau bidikmisi tahun 2015 ini tidak lulus juga, yasudah aku akan cari kerja saja”, tambahku.

Akhirnya orang tuaku mendukungku untuk bimbel, mereka memberiku uang untuk mengikuti bimbingan belajar (Intesif SBMPTN). Uang itu didapatnya dari hasil menjual salah satu harta kami, sepeda motor. 

Sebenarnya itu sepeda motor yang sering aku gunakan sewaktu SMA, ayahku menjualnya untuk membiayai bimbel ini, itu pun karena kesepakatanku juga. Aku tak peduli harus kehilangan harta itu, karena yang pasti aku bisa mendapatkan lebih dari itu dengan ilmu yang didapatkan nanti.

**
Awal tahun 2015 aku mulai aktif di bimbel. Ini adalah pertama kalinya aku ikut di lembaga bimbel. Rasanya memang berbeda dari belajar di sekolah. Aku disini lebih enjoy, nyaman, dan situasi belajarnya begitu asyik. 

Hingga, aku merasa jauh lebih baik dari sebelumnya, merasa lebih siap untuk tempur dalam SBMPTN 2015 ini. Hasil Try Out ku setiap minggunya sangat baik, grafik yang aku lihat nilaiku selalu naik, signifikan. Ini membuatku semakin optimis dan yakin, “pasti bisa, jelas lulus kalau nilainya seperti ini”, ungkapku percaya diri. Selama di bimbel ini aku mendapat bimbingan mata pelajaran, tips menjawab soal, dan trik memilih  jurusan, serta motivasi dari teman-teman maupun guru pengajar.

Aku berdoa pada Allah untuk mempermudah harapanku ini. Aku menjalankan berbagai sunnahnya, karena aku yakin Allah pasti memudahkan. Doa restu orangtua, doaku pada Allah, dan usahaku yang maksimal membuatku semakin optimis. 

Hingga saat pendaftaran SBMPTN 2015 tiba, aku mulai banyak berubah pikiran, dari jurusan dan pilihan perguruan tinggi. Tidak lagi bersikukuh untuk masuk di Unila, aku juga berniat mendaftarkan diri disebuah perguruan tinggi negeri dikotaku, STAIN Jurai Siwo. 

Aku tidak lagi memilih di jurusan teknik, aku lebih menyukai kimia. Memang dari SMA aku menyukai kimia, di bimbel pun aku lebih dominan pada pelajaran kimia. Ini membuatku untuk memilih jurusan Kimia MIPA di Unila.



Dan akhirnya di tahun terakhir yang aku harapkan. Dengan doa dan usaha yang maksimal, serta optimis yang tinggi untuk masuk di Unila. "Aku siap, jadi mahasiswa Unila". 

***
Pada waktu SBMPTN tiba, seperti biasa aku harus datang ke Universitas Lampung-Unila, untuk test. Aku datang lebih pagi pada test ini. Aku mereview semua yang aku pelajari sebelum test dimulai. 

Hingga saat test dimulai aku menikmatinya, mengerjakan dengan yakin dan tidak terlalu mengalami kesulitan. 
“Alhamdulillah beres, tinggal nunggu hasil”, ujarku setelah menyelesaikan test SBMPTN 2015. Lega rasanya ketika apa yang aku usahakan telah dikerjakan dengan mudah dan yakin. Namun aku harus menunggu lama untuk tahu hasil SBMTPN ini, satu bulan.

Setelah satu bulan, tibalah waktu yang ditunggu ratusan ribu calon mahasiswa-mahasiwa perguruan tinggi se-indonesia, Pengumuman SBMPTN. Aku standby didepan komputer warnet dari siang hingga sore untuk melihat hasil ini. Karena pengumuman dijadwalkan bisa dibuka tepat pada pukul 17.00 WIB, jatung ini terasa dag.. dig.. dug.. 

“Aku pasti lulus, aku sudah berdoa, direstui orang tua dan usaha sudah semaksimal mungkin, aku juga bisa mengerjakannya dengan mudah, pasti lulus. Aamiin", gumamku dalam hati sebelum membuka pengumuman ini. 

Saat ku input nomor peserta, lalu tanggal, bulan, dan tahun lahir di laman pengumuman guna menampilkan hasilnya. Akhirnya aku pun tahu. Aku dinyatakan tidak lulus dalam test ini. 

Perasaan ini jauh lebih kecewa dari sebelumnya (2014). Aku merasa sudah maksimal dalam segala usaha, tapi, mungkin Allah punya rencana yang jauh lebih baik dari rencanaku. “Tahun ini aku harus masuk di perguruan tinggi, lupakan Unila”, ungkapku semangat. 


___
Mengenang perjuanganku untuk menjadi seorang mahasiswa. 
Urutan Story:

0 Response to "2015 (Memorial)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel