2014 (Memorial)

Adakalanya kita pernah merasa bahwa cita-cita hanya sebatas sebuah angan. Seperti yang aku rasakan belum lama ini. Saat masih duduk dibangku SMA. Sebuah cerita tentang pengalaman dari alumni-alumni di SMA ku. Ketika mereka mengikuti sebuah ujian masuk perguruan tinggi, pengalaman lulus test, dan pengalaman sebagai mahasiswa baru di sebuah Universitas.

Mendengar cerita itu membuatku benar-benar berharap bisa masuk di sebuah perguruan tinggi favorit. Aku mulai belajar lebih tekun. Belajar melalui buku soal-soal test perguruan tinggi meskipun aku harus meminjamnya dari temanku.

Aku mengungkapkan keinginanku ini pada ibuku “Aku ingin kuliah, bu, ingin jadi orang yang berpendidikan tinggi, aku ingin masuk di perguruan tinggi favorit dan jadi orang sukses.”, ibuku yang usianya sudah lebih dari 45 tahun, bekerja hanya sebagai guru TPA di desa ini, hanya tersenyum mendengar ucapanku. Terkadang aku mengucapkan lagi keinginan ini padanya, tetap sama, ia tersenyum walau kadang sempat berkata “Iya”.

Namun sering terpikir olehku. Bagi keluarga seperti kami, keinginanku ini sangat menyulitkan keadaan, melihat biaya di perkuliahan sangatlah mahal. Aku merenung, tak lagi berbicara dan memikirkan perguruan tinggi. Nasib ini membuatku jadi sadar. Masalah ekonomi selalu menjadi momok bagi impian orang-orang sepertiku.

Suatu hari setelah pembelajaran matematika. Guruku sedikit menjelaskan tentang program beasiswa perguruan tinggi bagi keluarga tidak mampu, Bidikmisi. Dia menyarankan pada siswanya agar tetap bisa lanjut sekolah dengan memanfaatkan program ini. Tanpa pikir panjang aku ikut.

Tiba saatnya kami siswa kelas XII untuk mengisi formulir pendaftaran SNMPTN. Aku mengikuti dan mengisinya di perguruan tinggi, Universitas Lampung. Satu-satunya Universitas Negeri di provinsiku, jelas paling favorit. Aku memilih jurusan Teknik Elektro. Aku menggunakan jalur beasiswa tidak mampu yang disarankan guruku, Bidikmisi. 

Hingga sampai pengumuman SNMPTN tiba, dag.. dig.. dug.. perasaan terasa dalam hati. Berharap untuk lulus, namun kenyataan berbeda aku dinyatakan tidak lulus saat ku buka laman pengumuman di internet.

Bahagia sekaligus kecewa perasaan ini. Bahagia melihat sahabat-sahabatku dinyatakan lulus dalam seleksi SNMPTN ini, dan kecewa atas hasil pengumumanku. “Terus semangat dan jangan berhenti berharap”, ungkap mereka padaku.

SNMPTN bukanlah yang terakhir bagiku. Masih ada jalur test yang bisa aku ikuti, SBMPTN. Inilah harapan terakhirku. Karena hanya ini satu-satunya jalur yang bisa aku ambil melalui bidikmisi. Aku mulai belajar untuk lebih tekun lagi.



Hingga pada waktu pendaftaran SBMPTN tiba, masih Universitas Lampung yang aku harapkan. Masih sama aku mengisi form daftar di Universitas Lampung dengan jurusan Teknik Elektro.

Pada hari yang ditunggu, test SBMPTN dilaksanakan. Aku berangkat dari rumahku di kawasan Metro menuju Universitas Lampung, Bandar Lampung. Senang bisa datang di kampus yang aku harapkan. “Mungkin akan lebih bahagia jika aku menjadi mahasiswa di kampus ini”, gumamku dalam hati.

Tepat pukul 07:30 pagi, kami seluruh peserta se-indonesia mulai mengerjakan soal test ini. Aku mengerjakan soal test ini dengan yakin, berdoa, dan berharap ini akan berhasil.

Apa akhirnya aku berhasil? Tidak. Hidup ini bukan sinetron. Aku dinyatakan tidak lulus pada test terakhir yang aku harapkan ditahun 2014 ini. Aku tidak putus asa, aku akan terus berharap dan berdoa untuk keinginanku ini. Mungkin tahun berikutnya nanti aku bisa menginjakan kaki di kampus tercinta dengan status Mahasiswa. 


___ 
Mengenang perjuanganku untuk menjadi seorang mahasiswa. 
Urutan Story:

0 Response to "2014 (Memorial)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel