Makalah MSI (Metodologi Studi Islam) Islam Normatif dan Islam Historis

METODOLOGI STUDI ISLAM
Tugas ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah
Ruang lingkup Studi Islam
 (Islam Normatif – Islam Historis)
Dosen Pengampu : Dedi Wahyudi, M.Pd.I





Disusun  Oleh :
Ahmad Mustaqim
NPM : 1501050097

Kelas : PGMI B


JURUSAN TARBIYAH
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
PROGRAM SARJANA (S1)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI JURAI SIWO METRO
SEMESTER GANJIL 2015/2016


KATA PENGANTAR


Assalamualaikum wr. wb.

Puji syukur dipersembahkan atas kehadirat Allah SWT, Dialah Tuhan yang menurunkan agama Islam sebagai agama penyelamat. Dialah Tuhan Yang semesta alam yang memberikan limpahan rahmat, inayah, taufiq dan hidayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Shalawat  serta  salam  selalu tercurahkan kepada baginda Rasulullah SAW. Pada kesempatan ini juga saya mengucapkan termakasih atas kedua orangtua saya yang telah mendukung dan memberikan fasilitas untuk menyelesaikan makalah ini. Makalah ini disusun berdasarkan referensi tentang Studi Islam, Ruang Lingkup Studi Islam, Islam Normatif dan Islam Historis. Dengan memahami pengertian – pengertiannya diharapkan bagi semua pembaca makalah ini dapat memahami pembahasan dan penjelasan tentang Studi Islam, Ruang Lingkup Studi Islam, Islam Normatif dan Islam Historis yang dituangkan dalam makalah ini.
Harapan saya semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan bagi para pembaca. Dan semoga makalah ini juga memberikan kontribusi positif dalam proses belajar dan mengajar. Saya sadar, bahwa makalah ini masih belum sempurna. Oleh sebab itu, saya mohon maaf jika ada informasi ataupun kutipan yang salahKarenanya kirtik dan saran pembaca sangat dibutuhkan untuk kedepannya, agar saya bisa membuat makalh yang jalu lebih baik lagi.

Wassalamu’alaikum wr. wb.


                                                                                         Metro, 14 September 2015,

                                                                                                     Penulis



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
            Pengkajian tentang Studi Islam dan budaya lokal sangatlah penting bagi perkembangan Islam dan kaum Islam di waktu mendatang. Nabi Muhammad SAW datang membawa jaminan terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera secara lahir dan batin. Islam turun sebagai agama yang sempurna, sebagai panutan hidup setiap manusia di dunia. Islam artinya selamat adalah agama yang berkeinginan membawa seluruh ummatnya pada jalan yang benar yaitu jalan keselamatan, jalan kebahagiaan, dan jalan kedamaian di dunia dan akhirat. Sebab itu Islam merupakan agama yang melampaui berbagai aspek kehidupan manusia di dunia, baik jasmani maupun rohani. Aspek dunia-akhirat ataupun aspek jasmani-rohani sebenarnya bukanlah  dua hal yang beda, yang meski diutamakan salah satunya, keduanya adalah identitas yang integratif satu dengan yang lainnya dan seharusnya selalu diupayakan supaya keduanya melekat dalam diri umat muslim.
            Dengan mengamalkan semua ajaran Islam dengan baik dan benar sesuai syariatnya. Umat Islam diharapkan mampu melihat berbagai ragam bentuk pengamalan agama Islam dalam konsep ruang lingkup kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, muncul istilah Islam Naratif dan Islam Historis.

B.       Rumusan Masalah
Dari Latar Belakang di atas, makalah ini dibuat supaya mendeskripsikan secara umum tentang :
1.         Apakah pengertian Studi Islam ?
2.         Bagaimana Ruang Lingkup Studi Islam ?
3.         Apakah yang dimaksud Islam Normatif ?
4.         Apakah yang dimaksud Islam Historis ?
5.         Hubungan antara Islam Normatif dan Islam Historis ?
6.         Dan apa saja pengelompokan dalam Islam Normatif dan Islam Historis ?
Masalah inilah yang akan dibahas dalam pembahasan makalah ini.


BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Studi Islam
Studi Islam adalah gabungan dari dua kata, yakni “Studi” dan “Islam”. Kata studi punya berbagai pengertian menurut para teolog. Seperti  Rumusan Lester Crow dan Alice Crow mengatakan bahwa studi adalah seuatu kegiatan yang sengaja diusahakan dengan tujuan memperoleh keterangan, mencapai pemahaman yang lebih, atau meningkatkan suatu skill ketrampilan. Sedangkan  Mohammad Hatta mengartikan bahwa Studi adalah mempelajari suatu hal untuk memahami kedudukan, mencari sebuah pengetahuan, dalam hubungan sebab dan akibatnya, dilihat melalui jurusan tertentu dan metode tertentu. Makna umum yang kita tahu bahwa Studi adalah mempelajari suatu hal untuk mengetahuinya[1].
Dan kata Islam secara etimologi , Islam dari bahasa arab, salima yang artinya selamat sentosa. Lalu terbentuk kata aslama yang artinya memelihara dalam keadaan selamat dan sentosa, juga makna lain berserah diri dan taat. Dari kata aslama inilah terbentuk kata Islam (aslama,yuslimu,islaman), yang sering kita tahu dengan istilah selamat dan damai.
Dalam bahasa arab, Studi Islam dikenal dengan Dirasah Islamiyah, dan di barat dikenal dengan Islamic Studies[2], secara harfiah Studi Islam adalah kajian atau pengetahuan yang berkaitan dengan Islam. Sedangkan makna Islam menurut istilah adalah agama yang berlandaskan pada lima pilar utama (Rukun Islam), yaitu membaca dua kalimah syahadat, melaksanakan sholat, berzakat, menahan hawa nafsu (berpuasa), dan pergi ibadah haji bagi mereka yang mampu. 
Dari berbagai pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa, pengertian studi Islam adalah kajian tentang pemnbahasan islam yanng bertujuan untuk menambah wawasan atau pengetahuan agar dapat dipraktekkan secara benar dalam kehidupan manusia. Sedang pengetahuan agama adalah pengetahuan yang didasarkan dari ajaran-ajaran Allah dan rosul-Nya secara murni tanpa ada suatu pengaruh  sejarah, seperti akidah, ibadah, membaca al-quran dan akhlak.
Studi Islam mengarah pada kajian Keislaman, yaitu pada tiga hal:
1)      Islam yang tunduk atau berserah diri pada Allah SWT,
2)      Islam yang membahas pada keselamatan dunia dan akhirat, karenanya Islam mengajarkan manusia untuk  melakukan kebajikan dan menjauhi larangan-Nya,
3)      Islam yang damai.
Studi Keislaman bukan hanya dipelajari umat Islam saja, bahkan mereka yang bukan beragama Islam juga mengkaji studi Keislaman bagi kaum Islam. Studi Keislaman dipelajari untuk memahami dan mendalami serta membahas ajaran – ajaran Islam supaya mereka dapat melaksanakan juga mengamalkannya dengan benar. Di kalangan non muslim studi Keislaman dipelajarinya hanya sebatas ilmu pengetahuannya saja, yaitu mengetahui seluk-beluk agama, praktik keagamaan, juga hal-hal lainnya sesuai dengan kebutuhan mereka baik bersifat positif ataupun negatif. Mereka disebut dengan kaum orientalis. Banyak juga dari mereka kalangan non muslim yang mengkaji Islam yang hanya sekedar mencari wawasan atau menambah ilmu pengetahuan pada akhirnya mereka menjadi mu’alaf, karena mereka paham dan mengetahui tentang kebenaran Islam. Sudah sepatutnya kitalah selaku umat Islam harus memiliki pengetahuan yang jauh lebik baik dari para kaum orientalis.

B.  Ruang Lingkup Studi Islam[3]
Dalam pengertiannya, agama punya tiga dimensi atau suatu ruang lingkup yang dibahas, yaitu :
a.    Aspek spiritual
·      Hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Hubungan ini menunjukan bahwa andanya suatu ikatan pada manusia terhadap Tuhannya, yaitu ketaatan manusia kepada Tuhannya
b.    Aspek horizontal
·      Hubungan antara manusia dengan manusia. Manusia bukanlah makhluk individu, manusia adalah makhluk sosial yang tidak bias hidup sendiri, selalu bergantung pada makhluk lainnya. Konsep islam dalam hal ini adalah kekeluargaan dan kemasyarakatan.
·      Hubungan manusia dengan alam semesta yang mencangkup atas hewan dan tumbuhan serta lingkungan sekitarHal ini Manusia mempunyai wewenang dalam pemanfaatan, penjagaanmemelihara dan bertanggung jawab atas ciptaan Allah. Karenanya manusia diberikan akal sebagai satu kelebihan yang sangat baik.
Lebih jelasnya Aspek Horizontal lebih condong pada keadaan sosial, mengenai bagaimana membentuk suatu relasi yang baik bagi sesam makhluk ciptaaNya.
Serta agama sebagai objek studi minimal bisa dilihat dari tiga segi, yaitu:
1.      Sebagai doktrin[4] dari tuhan yang bagi para pemeluknya dianggap sudah mutlak, dan diterima sepenuhnya.
2.      Sebagai gejala budaya, yang artinya seluruh karya atau kreasi manusia yang berkaitan dengan agama, serta pemahaman orang terhadap suatu doktrin pada agamanya.
3.      Sebagai interaksi sosial, yaitu membangun sebuah relasi baik antar umat Islam.
M. Atho’ Mudzhar berpendapat bahwa objek pembahasan agama islam adalah kajian-kajian seperti fiqhkalam, dan tasawuf. Dalam hal ini, agama bersifat sebagai penelitian budaya. Hal ini mengingatkan bahwasannya kajian keislaman semacam ini merupakan salah satu bentuk doktrin yang dirancang oleh para penganutnya yang bersumber langsung dari wahyu Allah melalui sebuah penalaran dan perenungan. Disaat seseorang mempelajari tentang perihal sholat, zakat dan lainnya, maka ia mempelajarinya sebagai aspek budaya.

C.      Pengertian Islam Normatif
Normatif, dalam bahasa inggris “Norm” yang artinya norma, ajaran, atau acuan. Kata norma dalam Bahasa Indonesia berarti ukuran untuk menentukan sesuatu. Islam Normatif adalah Islam sebagai wahyu, Islam yang diwahyukan pada Nabi Muhammad SAW untuk kedamaian dunia dan akhirat.
Islam Normatif adalah Islam yang benar, yaitu yang bersumber dari firman Allah SWT. Islam dikatakan benar adalah Islam yang bersumber pada Al-Quran dan As-Sunnah (Hadits). Hadits masuk dalam Islam Normatif, karena segala sesuatu dari nabi adalah sebuah kebenaran yang dijadikan panutan bagi setiap ummatnya. Semua yang dikatakan, yang dilakukan, dan yang ditentukan oleh Nabi Muhammad SAW terjamin benarannya oleh Allah SWT. Firman-Nya, “Demi bintang ketika terbenam; kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru; dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya; ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya); yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat” (Q.S. An-Najm:1-5). Islam Normatif adalah Islam berdimensi sakral yang bersifat mutlak dan universal, melebihi ruang dan waktu yang disebut dengan realitas keTuhanan. Bisa dikatan, Islam Normatif memiliki tingkat mutlak. Berbentuk aspek tekstual Islam, yaitu Al-Quran dan dan Hadits yang absolut[5]. Islam Normatif meliputi setiap ruang dan waktu dan akan tetap menjadi ideal. Islam Normatif memiliki berbagai tradisi kajian, yaitu : TelologiTafsirTasawufFilsafatFiqh.
·         Teologi           : Pemikiran tentang persoalan ketuhanan
·         Tafsir              : Penjelasan dan pemaknaan kitab suci
·         Tasawuf         : Pemikiran dan tingkah laku pendekatan diri pada Tuhan
·         Filsafat           : Pemikiran dalam bidang hakikat kenyataan dan kebenaran
·         Fiqh                : Pemikiran dalam bidang yurisprudensi (tata hukum).



D.      Pengertian Islam Historis
Historis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna sejarah, kejadian yang ada hubunganya dengan masa lampau. Islam Historis adalah Islam yang dianut dan yang dipraktekkan kaum muslim di seluruh dunia, mulai dari masa Rasulullah hingga saat ini. Islam yang benar adalah Islam yang berpanutan Al-Qur’an dan Al-Hadist. Jika Islam yang benar, yaitu diajarkan Nabi Muhammad SAW disebut dengan Islam Normatif, maka Islam yang senyatanya ada di kalangan masyarakat inillah yang disebut Islam Historis. Histori dalam bahasa indonesia artinya sejarah. Dan Historis[6] artinya bersejarah atau menyejarah. Jadi Islam Historis adalah Islam bersejarah atau Islam menyejarah yang terkait karena ruang dan waktuHistory yang artinya sejarah, dalam hal ini sejarah adalah sesuatu yang telah terjadi yang terkait oleh ruang dan waktu. Karena itu Islam Historis adalah Islam yang sebenarnya terjadi, yang diamalkan manusia atau masyarakat, terkait dengan konteks ruang dan waktu, kapan dan dimana suatu ajaran Islam diamalkan oleh suatu umat.
Islam Historis adalah Islam yang senyatanya diamalkan masyarakat tidaklah muncul dengan tiba-tiba, pastilah ada yang melatar belakangi. Benar atau salah sebuah pengamalan Islam suatu masyarakat sangat dipengaruhi oleh ruang juga waktu yang mereka alami. Oleh karenanya jika ada seseorang yang menghakimi benar atau salahnya suatu bentuk praktik agama, kuranglah bijak.
Jika Islam Normatif adalah Islam yang mutlak, sedangkan Islam Historis adalah Islam yang sangat beragam. Keanekaragaman Islam di kalangan masyarakat ini terjadi karena berbagai macam kondisi, yaitu terkait ruang dan waktu, dimana dan kapan Islam pelajari lalu diamalkan oleh masyarakat. Islam Historis muncul juga karena suatu pemahaman, yaitu pemahaman setiap individu dalam masyarakat tentang kajian Islam secara menyeluruh inilah yang disebut dengan hasil pemikiran Islam. Oleh karena itu, suatu pemahaman setiap individu tentang Islam, sekecil apapun itusaat Islam yang mutlak telah masuk ke pikiran manusia, pemahaman inilah yang dimaksud dengan Islam Historis.
Perbedaan dalam melihat Islam ini akan menimbulkan perbedaan dalam pengamalan Islam itu sendiri. Jika Islam dipandang dari sudut pandang Normatif, maka Islam adalah agama yang benar, mutlak yang berisi ajaran Tuhan tentang urusan akidah[7] dan mu’amalah[8]. Sedangkan jika Islam dipandang dari sudut pandang Historis maka apapun yang tampak dalam kehidupan masyarakat, Disinilah Islam sebagai sebuah disiplin ilmu.
Kajian Islam Historis melahirkan tradisi atau disiplin studi empiris, Antara lain:
·         Antropologi agama           : Pemahaman tingkah laku manusia beragama yang berhubungan dengan kebudayaan.
·         Sosiologi agama                : Pemahaman sistem relasi sosial masyarakat yang berhubungan dengan agama.
·         Psikologi agama                : Pemahaman aspek-aspek kejiwaan manusia yang berhubungan dengan agama.
Banyak para ulama beserta karyanya, dan aliran-aliran kalam menunjukan bahwa hasil para pemikir kalam dari para tokoh tersebut adalah bagian dari ajaran yang sifatnya Historis. Islam Historis adalah islam yang tak lepas dari kesejarahan dan kehidupan umat manusia dimasa lalu yang terpengaruh ruang dan waktu. Maksudnya, Islam semacam ini terangkai atau tercampur suatu kebiasaan atau kebudayaan kehidupan pemeluknya yang berada di bawah realitas ke Tuhanan. Karenanya, Islam Historis disebut Islam yang senyatanya. Bentuknya yang berupa aspek kontekstual Islam, yaitu suatu penerapan praktis dari Islam Normatif. Maksudnya, wujud dari Islam Historis ini diambil dari usaha pemahaman dari nilai-nilai Normatif dengan berbagai pendekatan di segala bidang yang menghasilkan suatu disiplin ilmu, diantaranya Ilmu Tafsir, Fiqh, Ushul Al-Fiqh Hadits, Tasawuf, Kalam, dan lainnya yang keberadaannya bersifat relatif dan terbuka untuk dipersoalkan.

E.        Hubungan antara keduanya
Menurut ijtihad[9], Amin Abdullah berpendapat bahwa hubungan antara keduanya ibarat sebuah koin yang memiliki dua permukaan. Keduanya tidak bisa dipisahkan, tapi jelas dapat dibedakan. Keduanya tidak berdiri sendiri dan berhadap-hadapan, tetapi keduanya terjalin sedemikian rupa sehingga keduanya bersatu dalam satu keutuhan yang kokoh. Makna moralitas keagamaanlah tetap ada, tetap diutamakan dan digaris bawahi dalam memahami sebuah liku-liku fenomena keberagaman manusia, secara otomatis tidak akan bisa terhindar dari jebakan ruang dan waktu. Dilihat dari artinya bahwa Islam Normatif adalah Islam yang mutlak berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadits, Islam Historis pun sama, Islam Historis juga berlandaskan atas Teks Asli namun yang membedakan adalah budaya masyarakat yang biasa mengada-ada atau kolaborasi dengan adat istiadat daerah setempat. Walaupun ada perbedaan diantara keduanya, tapi tetaplah keduanya Islam yang berlandaskan Teks Asli, keduanya tak bisa saling dipisahkan.


F.       Pengelompokan Islam Normatif dan Islam Historis
Di saat melakukan penelitian Islam, utamakan kejelasan Islam mana yang akan diteliti; Islam Normatif atau Historis. Istilah yang hampir sama antara keduanya adalah Islam sebagai wahyu dan Islam sebagai hasil sejarah. Sebagai wahyu yang maksudnya adalah Wahyu Ilahi yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW. Untuk keselamatan dan kebahagian umat di dunia dan akhirat. Sedangkan Islam Historis yaitu islam yang dipelajari lalu dipraktikkan, dari zaman nabi Muhammad SAW sampai saat ini. Menurut Nasr Hamid Abu Zaid pengelompokkan Islam Normatif dan Islam Historis dibagi menjadi tiga wilayah:
a.    Wilayah teks asli Islam, yaitu Al-qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad
b.    Pemikiran Islam atau penafsiran terhadap teks asli Islam. Disebut jugal dengan Ijtihad terhadap teks asli, seperti tafsir dan fikih. Secara rasional Ijtihad dibenarkan, karena ketentuan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah itu tidak semuanya terinci, karena sebagian masih ada yang bersifat global yang membutuhkan lebih lanjut penjabarannyaSebab permasalahan kehidupan selalu berkembang terus, sedangkan dengan tegas permasalahan yang terjadi itu belum atau bahkan tidak disinggung sekalipun. Karenanya diperbolehkan berijtihad, meskipun masih harus tetap bersandar Al-Quran dan As-sunnah sebagai sumber utama.. Dalam kelompok ini dapat ditemukan empat pokok cabang :
1)   Hukum atau Fikih[10]    : Ilmu yang berkaitan dengan perilaku kehidupan manusia
2)   Teologi                        : Kajian teori-teori
3)   Filsafat[11]                     : Pemikiran suatu hakikat atau menafsirkan
4)   Tasawuf[12]                   : Pendekatan diri pada Allah SWT
c.         Praktek yang dilakukan umat muslim. Praktek ini muncul dalam berbagai macam dan bentuk sesuai dengan keadaan sosial disekitarnya. Contohnya : Sholat di Pakistan yang tidak meletakkan tangannya di dada dan duduk miring saat tahiyat akhir bagi para muslim di Indonesia sementara muslim di negara lain tidak melakukannya.
Dari penjelasan di atas dapat ditegaskan, syari’ah sebagai Teks Asli[13] mempunyai karakter mutlaktidak berubah-ubah. Sementara itu Fiqih sebagai hasil pemahaman terhadap Al-Quran dan As-sunnah bersifat relatif, bisa berubah sesuai dengan perubahan konteks zaman, konteks sosial, konteks tempat dan konteks lainnya..


BAB III
PENUTUP
                          
A.  Kesimpulan
Dari beberapa definisi dan penjelasan diatas disimpulkan bahwa :
v  Studi Islam adalah kajian yang membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan Islam yang mengarah pada 3 hal, yaitu :
a.    Islam yang tunduk atau berserah diri pada Allah SWT,
b.    Islam yang membahas pada keselamatan dunia dan akhirat, karenanya Islam mengajarkan manusia untuk  melakukan kebajikan dan menjauhi larangan-Nya,
c.    Islam yang damai.
v  Ruang Lingkup Studi Islam, memiliki tiga dimensi atau ruang lingkup bahasan yang sangat umum, yaitu :
a.    Aspek spiritual
·  Hubungan antara manusia dengan Tuhannya.
b.    Aspek horizontal
·  Hubungan antara manusia dengan manusia.
·  Hubungan manusia dengan alam semesta termasuk didalamnya hewan dan tumbuhan serta lingkungan dimana manusia hidup.
v  Islam Normatif adalah Islam yang benar, yaitu yang bersumber dari firman Allah SWT. Islam dikatakan benar adalah Islam yang bersumber pada Al-Qu ran dan As-Sunnah (hadits nabi dll).
v  Islam Historis adalah Islam yang dianut dan yang dipraktekkan kaum muslim di seluruh dunia, mulai dari masa Rasulullah hingga saat ini. Islam yang berpanutan Al-Qur’an dan Al-Hadist. Hanya saja Islam Historis tidak bisa dilepaskan dari kesejarahan dan kehidupan manusia yang berada dalam ruang dan waktu.
v  Hubungan antara Islam Normatif dan Islam Historis : Amin Abdullah berpendapat bahwa hubungan antara keduanya ibarat sebuah koin yang memiliki dua permukaan. Keduanya tidak bisa dipisahkan, tapi jelas dapat dibedakan. Keduanya tidak berdiri sendiri dan berhadap-hadapan, tetapi keduanya terjalin sedemikian rupa sehingga keduanya bersatu dalam satu keutuhan yang kokoh.
v  Pengelompokan antara Islam Normatif dan Islam Historis menurut Nasr Hamid Abu Zaid, yaitu :
a.    Wilayah teks asli Islam, yaitu Al-qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad
b.    Pemikiran Islam atau penafsiran terhadap teks asli Islam. Disebut jugal dengan Ijtihad terhadap teks asli, seperti tafsir dan fikih. Secara rasional Ijtihad dibenarkan, karena ketentuan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah itu tidak semuanya terinci, karena sebagian masih ada yang bersifat global yang membutuhkan lebih lanjut penjabarannyaSebab permasalahan kehidupan selalu berkembang terus, sedangkan dengan tegas permasalahan yang terjadi itu belum atau bahkan tidak disinggung sekalipun. Karenanya diperbolehkan berijtihad, meskipun masih harus tetap bersandar Al-Quran dan As-sunnah sebagai sumber utama.. Dalam kelompok ini dapat ditemukan empat pokok cabang :
·   Hukum atau Fikih[14]     : Ilmu yang berkaitan dengan perilaku kehidupan manusia
·   Teologi              : Kajian teori-teori
·   Filsafat[15]           : Pemikiran suatu hakikat atau menafsirkan
·   Tasawuf[16]         : Pendekatan diri pada Allah SWT
c.    Praktek yang dilakukan umat muslim. Praktek ini muncul dalam berbagai macam dan bentuk sesuai dengan keadaan sosial disekitarnya. Contohnya : Sholat di Pakistan yang tidak meletakkan tangannya di dada dan duduk miring saat tahiyat akhir bagi para muslim di Indonesia sementara muslim di negara lain tidak melakukannya.

B.  Saran
Studi islam adalah kajian ilmu yang membahas tentang islam. Kita selaku umat Islam sudah sepatutnya mempelajari lebih banyak tentang keislaman, untuk mendapatkan wawasan yang lebih banyak dan mengamalkannya dengan benar. Demikianlah makalah yang dapat saya buat. Saya sangat menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini belum mendekati sempurna bahkan jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu kritik dan saran sangat diharapkan. Semoga makalah ini bisa menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.


DAFTAR PUSTAKA

Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam.(Jakarta: Rajawali Pers, 2013), Cet.20.
http://niamutiadina.blogspot.co.id/2013/04/psi-pengertian-dan-ruang-lingkup-studi.html 
(Untuk download makalah ini silakan klik disini)


[1] http://muhibatulkhusna.blogspot.co.id/2014/03/pengertian-dan-ruang-lingkup-studi-islam.html
[2] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam.(Jakarta: Rajawali Pers, 2013), Cet20, Hlm. 150.
[3] http://muhibatulkhusna.blogspot.co.id/2014/03/pengertian-dan-ruang-lingkup-studi-islam.html
[4] Doktrin adalah pemikiran yang mutlak yang bersumber dari agama.
[5] Lihat Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam.(Jakarta: Rajawali Pers, 2013), Cet20, Hlm. 66.
[6] Historis : Ilmu yang didalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan mempertahankan unsur tempat, waktu, objek, latar belakang, dan pelaku dari peristiwa tersebut. Menurut ilmu ini, segala peristiwa dapat dilacak dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi, dimana, apa sebabnya, siapa yang terlibat dalam persitiwa tersebut.
[7] Akidah : berasal dari bahasa arab, Aqada yang secara harfiah berarti menghubungkan dua ujung dari sesuatu secara kokoh. Dalam teologi akidah diartikan pokok-pokok keimanan yang didasarkan kepada dalil-dalil qath’i. Orang yang melepaskan diri dari ikatan tersebut dapat menjadi murtad atau keluar dari Islam. Akidah itu seperti percaya kepada adanya Allah, malaikat, hari kiamat, kehidupan di akhirat, dan sebagainya
[8] Mu’amalah : Hukum-hukum yang berkaitan dengan tindakan manusia dalam persoalan duniawi, misalkan, jual-beli, hutang-piutang, kerjasama, dll.
[9] Ijtihad : Sebuah usaha yang dilakukan dengan sunguh-sungguh, yang sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak dibahasa dalam Al-Quran dan Hadits dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang.
[10] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam.(Jakarta: Rajawali Pers, 2013), Cet20, Hlm. 295.
[11] Ibid, Hlm. 254.
[12] Ibid, Hlm. 286.
[13] Teks Asli : Al-Quran dan As-Sunnah (Hadits Nabi Muhammad SAW)
[14] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam.(Jakarta: Rajawali Pers, 2013), Cet20, Hlm. 295.
[15] Ibid, Hlm. 254.
[16] Ibid, Hlm. 286.

0 Response to "Makalah MSI (Metodologi Studi Islam) Islam Normatif dan Islam Historis"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel